Monday, 10 January 2011

im think and i see

 ini hanya pikiran dan opini hasil perdebatan saya denga realita yang ada jika ada yang kurang berkena mohon maaf

Sebagian orang di dunia ini mendukung, meyakini dan menjalani kebenaran eksistensi agama, tetapi sebagian yang lain ada yang mengajukan keberatan-keberatan akan eksistensi agama. Di antara teori-teori yang mengajukan keberatan atas eksistensi Tuhan secara khusus dan agama secara umum datang dari teori sosiologi (seperti Emile Durkheim), teori psikologi (seperti Sigmund Freud), filsafat (seperti positivisme Auguste Comte dan materialisme historis Karl Marx, dan eksistensialisme ateistik Nietzsche dan Sartre). Deskripsikan secara singkat-padat-jelas keberatan-keberatan mereka, dan tunjukkan konter argumentatif penolakan saudara atas keberatan tersebut!
Asumsi awal saya menyatakan bahwa keberatan Durkheim, Freud, Comte, Marx, Nietzsche dan Sartre atas eksistensi agama/Tuhan, sangat dipengaruhi oleh konteks keadaan dan relasi antara masyarakat dan agama yang mereka hadapi pada saat mereka hidup. Kalau Harun Yahya, dalam berbagai kampanyenya melalui buku dan vcd, seringkali menuduh pemikiran mereka terlalu dipengaruhi oleh cara berpikir Darwinian, yang tak jauh-jauh dari teori evolusinya yang berkarakter materialisme. Boleh dibilang, “kaum atheistik” itu dalam pandangan Harun Yahya berpijak pada asumsi dan nalar positivistik dan empirisisme-logis. Tapi saya kira tuduhan Harun Yahya terlalu simplistis dan tergesa-gesa.
Sebagai seorang sosiolog, Emile Durkheim memaknai agama (religion) sama sekali bukan sebagai seperangkat ide-ide, nilai atau pengalaman yang terpisah dari matrik kultural. Bahkan, katanya, beberapa kepercayaan, adat istiadat atau ritus-ritus keagamaan tidak dapat difahami kecuali dengan matrik kultural tersebut. Durkheim malah yakin bahwa masyarakat itu sendiri sudah cukup sebagai faktor penting bagi rasa berkebutuhan dalam jiwa. Agama revelasi, bagi Durkheim, adalah nonsens. Agama, sebagaimana fenomena sosial lainnya, adalah gejala sosial budaya masyarakat manusia belaka, yang lahir secara alamiah dari rahim historis masyarakat yang membutuhkannya, sesuai dengan perkembang-biakan sosio-kultur kehidupannya.
Lain halnya Freud, yang memandang agama sebagai faktor kekuatan kejiwaan manusia ketimbang faktor sosial dan intelektual. Melalui konsep psikologi positivistiknya (atau lebih kita kenal psikoanalisa), ia sampai pada kesimpulan bahwa kepercayaan manusia terhadap agama/Tuhan, tidak lebih dari pelarian belaka dari sakit mental manusia yang ia sebut pseudoneuroistik. Ini yang ditentang oleh Carl Gustav Jung. Berbeda dengan Freud, Jung memiliki sikap positif terhadap agama. Dia menganggap bahwa substansi agama merupakan kesehatan mental manusia, dan menganggapnya sebagai salah satu unsur alamiah kehidupan manusia.
Auguste Comte lain lagi ceritanya. Sebenarnya ia tidak menyangsikan keberadaan agama dan Tuhan. Tetapi dalam pandangannya, yang seringkali disebut sebagai humanisme sekuler, agama dan Tuhan yang ia pahami tidak identik sama dengan agama dan Tuhan-nya orang-orang ber”agama”. Humanisme sekuler-nya Comte meniscayakan manusia sebagai poros kosmos dari hakikat kehidupan. Humanisme sekuler adalah suatu system etika (ethical system) yang mengukuhkan dan mengagungkan nilai-nilai humanis, seperti toleransi, kasih sayang, kehormatan tanpa adanya ketergantungan pada akidah-akidah dan ajaran-ajaran agama. Singkatnya, agama Comte adalah humanisme, dan Tuhannya adalah nlai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Boleh jadi pandangan Comte ini senada dengan Bertrand Russel dan Schiller yang mengusung gagasan serupa.
Karl Marx lebih bertitik tolak dari realitas masyarakat pada masanya. Adagium populernya bahwa ‘agama itu candu’ tidak bisa dilepaskan dari konteks relasi masyarakat dan agama pada masa itu di tempat Marx hidup. Eusta Supono secara lugas mengupas kritik hebat Marx terhadap agama itu dalam bukunya. Menurutnya, realitas agama pada masa Marx tidak lebih dari alat legitimasi kekuatan ekonomi-politik. Pesan-pesan dan statemen keagamaan lebih sebagai fasilitator bagi kepentingan ekonomi dan politik penguasa, yang berimplikasi pada semakin lebarnya jurang kelas sosial. Penindasan dan pembodohan atas manusia sub-kultur/sub-ordinat (kelas bawah: buruh, budak, dsb) entah secara sadar atau tak sadar dilestarikan justru oleh dogma, doktrin, ajaran dan hukum agama. Agama tidak lagi menjadi bagian dari pembebasan manusia, tapi justru memenjarakannya dalam keterpurukan dan ketertindasan.
Terhadap situasi demikianlah Marx menggugat. “Tidak ada alasan apapun bagi siapapun ketika menganut agama kecuali karena penderitaan dan penindasan,” Kata Marx. Agama muncul dalam pikiran manusia secara spontan dalam bentuk disonansi (rengekan manja kaum tertindas). Karenanya, agama adalah candu masyarakat, yang hanya menjanjikan pengharapan semu, memberikan penghiburan sesaat, tetapi tidak kunjung melenyapkan penderitaan masyarakat. Agama hanya sebagai pelarian utopis manusia dari derita kekalahan hidupnya semata. Agama hanya menjadikan manusia teralienasi dari kemanusiaannya sendiri. Dan lebih celakanya lagi, agama menurut Marx hanya melayani kepentingan kelas dominan (i.e. kapitalis-borjuis). Karenanya, bagi Marx, agama hanya menawarkan ilusi, bukan solusi!
Lalu Nietzsche dan Sartre, dalam pandangan eksistensialismenya, konon ‘atheistik’ karena menegasikan kehadiran Tuhan. Nietszche adalah seorang ‘nabi’ yang membawa pekabaran tentang kematian Tuhan. Bagi Nietzsche, Tuhan yang dipahami kaum beragama (dalam hal ini Kristen) bukanlah penyempurna manusia, tapi justru penghalang bagi kesempurnaan manusia. Tuhan bukan pembebas, tapi pemberi sanksi bagi manusia. Tuhan semacam itu bagi Nietzsche membuat manusia terasing dan terlempar dari dirinya sendiri. Tuhan yang sewenang-wenang terhadap manusia adalah Tuhan yang patut dibenci. Karena itulah Tuhan semacam itu harus ditiadakan, dibunuh! “Got is Tot,” kata Nietzsche. Dalam Geneologi Moral-nya, Nietzsche kemudian mengkritik agama yang cenderung destruktif, eksklusif, dan afirmatif terhadap tindak kekerasan umatnya. Agama pula yang melahirkan kelas biasa dan kelas terpilih, yang kudus dan yang awam (profan), yang implikasinya pada adanya hak istimewa bagi yang kudus, dan sebaliknya penghapusan hak bagi yang awam.
Sementara Sartre beranggapan bahwa Tuhan adalah imajinasi manusia atas realitas super power yang absolut. Rasa ketergantungan manusia terhadap alamlah yang menyebabkannya. Mungkin mirip Feurbach yang menyatakan bahwa Tuhan itu bukanlah eksistensi objektif yang lepas dari kesadaran manusia. Melalui konsep alienasi Hegel, Feurbach menyatakan bahwa sesungguhnya manusia mengasingkan diri dari hakikatnya sendiri kala ia memproyeksikan sesuatu yang disebut Tuhan. Bagi Feurbach, Tuhan hanyalah perwujudan dan personifikasi transenden dari dambaan yang imanen, yang ada pada pikiran manusia. Secara singkat, Tuhan bagi Feurbach, dan juga Sartre, adalah ciptaan manusia, dan bukan sebaliknya. Teologi, bagi keduanya, adalah antropologi. Karena yang real adalah manusia, bukan Tuhan.
Nah, kembali ke asumsi awal saya tadi, bahwa kritik “para tokoh abad ini” itu selalu bertitik tolak pada fakta, fenomena dan realitas sosial yang ada. Dan entah kebetulan atau tidak, mereka hidup dalam tradisi keberagamaan Kristen. Apa yang Pak Alim maksud sebagai “keberatan mereka atas eksistensi agama/Tuhan” itu kalau boleh kemudian saya interpretasikan, dari apa yang saya urai di atas, sebagai “keberatan mereka atas peran agama/Tuhan yang tidak ideal”. Maksudnya, ada semacam kesenjangan antara “agama yang seharusnya” dengan “agama yang terjadi/yang tampak”. Agama, yang semestinya membebaskan, malah justru membelenggu manusia. Kalau boleh saya bilang, para tokoh itu termasuk mereka yang concern dalam narasi besar humanisme. Sementara, agama (dan juga Tuhan) yang ditemui para tokoh itu dalam kehidupan mereka tidaklah mencerminkan citra idealnya dalam upaya ‘memanusiakan manusia’. Malah sebaliknya, agama yang hadir di hadapan mereka justru menghilangkan identitas kemanusiaan manusia itu sendiri.
Memang, kritik Durkheim, Freud, Marx, dan kawan-kawan itu, menurut saya tidak pada keseluruhan bangunan agama itu sendiri. Ada banyak dimensi agama yang tidak tersentuh oleh para kritikus itu. Mereka mengkritik agama pada tataran penampakannya saja, tapi jauh dari esensi terdalam dari agama yang sesungguhnya. Dan bahkan menurut saya mereka sesungguhnya tidak mengkritik substansi dan ajaran agama, tapi lebih tepatnya pada sikap keberagamaan masyarakat itu sendiri. Saya tidak tahu persis, tapi saya kira ada sangat banyak perbedaan antara agama Islam dan agama Kristen –dimana para kritikus itu hidup. Integralitas Islam dalam membidik berbagai dimensi kehidupan manusia mungkin saja tidak terakomodir dengan baik dalam agama Kristen. Sehingga, yang muncul ke permukaan hanyalah entitas keberimanan belaka, tanpa implikasi dan konsekwensi logis bagi tatanan kehidupan. Tapi toch saya tidak bisa juga mengandaikan Durkheim, Nietzsche dan kawan-kawan itu hidup di komunitas muslim, lantas membayangkan gagasan apa yang akan mereka lahirkan. Tapi yang jelas, dalam masanya, dunia Kristen tumbuh berkembang dalam ortodoksi, dogmatisme, dan kejumudan. Fungsi akal manusia dalam merasionalisasi agama dibuntukan sedemikian rupa. Agama tidak bertumpu pada rasionalitas, melainkan pada iman, percaya penuh, bahkan membabi buta. Iman dipahami sebagai suatu bentuk keyakinan batiniyah yang irasional, mistis, dan tak usah dinalar. Di samping itu, peran penguasa yang menjadikan institusi gereja sebagai alat pelanggengan kekuasaan semakin memperparah keadaan. Upaya umat untuk melakukan koreksi, kritik, dan sejenisnya terhadap agama ditekan habis oleh institusi agama semacam gereja, dan dibekingi oleh penguasa. Ulama dan penguasa menjadi otoritas mutlak penafsir agama, bahkan mengklaim sebagai wakil Tuhan di bumi.
Dalam jawaban ini saya tidak hendak melakukan konter argumen atas ‘keberatan’ mereka, tetapi malah lebih mengapresiasi “spirit ijtihad” dari kritik yang dilakukan oleh Nietzsche dan kawan-kawan atas kebekuan dan kejumudan itu. Mereka berupaya menguak kebobrokan dan kejahiliyahan umat dalam beragama. Mungkin kita sudak kadung apriori dalam mengkaji pemikiran mereka. Kita sudah kadung membentuk stereotip, judgement, dan eksekusi final bahwa mereka ateis dan anti agama. Padahal, jika dikaji lebih jauh, tidak bisa serta merta kita memberikan kesimpulan final seperti itu. Boleh jadi, “agama/Tuhan yang mereka pahami” tidak sama persis dengan “agama/Tuhan yang kita pahami” (Karenanya saya sampai saat ini tidak paham persis dengan definisi umum “ateis” atau “tak beragama” itu). Tapi upaya memposisikan manusia sebagai subjek sadar (fa’il) dalam beragama dan berketuhanan itu saya kira mesti diapresiasi.
Friedriech Nietzshe, misalnya, dalam Geneologi Moral, menyatakan bahwa agama yang konkret adalah agama dengan para pemeluknya, ajaran-ajarannya, ritus dan tradisinya, organisasi dan lembaganya. Agama adalah integralitas (keseluruhan) norma dan pranata yang ada di dalamnya. Satu sama lain tidak dapat dipisahkan ataupun didikotomikan. Tujuan pokok semua agama adalah memerangi hilangnya semangat hidup, memerangi semacam keputusasaan yang epidemik dari sejarah manusia. Adapun berita duka tentang kematian Tuhan yang ia bawa, menurut De Lubac, justru diperlukan bagi teologi untuk mengorientasikan diri secara baru. Tuhan yang dibenci Nietzsche adalah Tuhan yang sewenang-wenang terhadap manusia, yang menganugerahi manusia dengan berbagai pembatasan kemanusiaannya (misalnya, dosa asal). Manusia harus membebaskan diri dari ilusi dunia metafisik di seberang sana. Manusia harus bergembira dalam keberadaannya di dunia ini, tidak dunia imaji yang masih konon, yang secara sederhana kita sebut surga atau neraka. Kita hidup bukan nanti, tapi sekarang.
Saya kira, Marx memiliki visi yang senalar dengan Nietzsche, dengan kontentuasi dan kontekstualisasi yang berbeda. Demikian pula Freud, Durkheim, dan kawan-kawannya itu. Entah apa yang terjadi jika mereka hidup dalam dunia Islam….

No comments:

Post a Comment