Ini musim hujan. Semua tampak hebat. Lebih jauh, aku tidak bisa menelan kota Tasik apalagi menerjemahkannya dengan baik. Yang kumaksud adalah sebuah pertanda. Apa dengan musim hujan ini, kedatanganku ke kota ini betul telah tepat? Atau malah sebaliknya.
Tiba-tiba seekor kucing meloncat begitu saja dari kursi panjang di sampingku. Ah..rupanya terusir oleh atau diusik oleh sekelompok anak kecil yang sedang asyik main bola sepak. Hujan bukan halangan bagi mereka untuk memainkan permainan mendunia itu. Sepak Bola! Kadang bola yang ditendang oleh salah satu pemain bukan hanya mengusik binatang seperti kucing saja, juga bisa membuat kumis seseorang bisa terangkat naik, saking terlalu asyiknya anak-anak itu menendang-nendang bola, sampai tidak bisa membedakan mana tiang gawang mana tubuh orang-orang.
Ini hujan gerimis. Tak perlu aku menghindar dari gerimis. Titik hujan susul menyusul menerjang tubuh kecilku. Sepanjang jalan yang kusaksikan adalah kabut tipis putih. Pepohonan , apalagi akasia di seberang jalan buramnya bukan main. Dalam pandanganku tampak kelabu. aku duduk, setia menanti dirinya, di atas bangku panjang ini. Setia, mau dia datang atau tidak terserah. Aku yakin …inilah yang harus kulakukan, menanti dengan setia…Setelah janji yang kami sepakati kulanggar habis-habisan, Dia meminta kepadaku agar menemuinya dua tahun ke depan, namun Aku nekad, kutemui dirinya saat ini juga. Setengah tahun setelah mengenalnya.
Sebelumnya ,memang telah kukabari, Aku akan datang ke kotanya hari ini.
Menjelang malam, dia tidak datang juga. Ya..dia memang tidak akan datang. Sedangkan hujan minta ampun derasnya menembaki tubuhku. Aneh memang…rumah-rumah di kota ini tidak memiliki teras, tidak ada tempat di depan rumah bagiku untuk berteduh dan melindungi diri dari gempuran air hujan. Masuk kedai..mahalnya bukan main, harus ada tiket dengan harga 60.000,00.
Kuputuskan untuk berteduh di bawah pohon akasia saja. Sambil tetap menanti dirinya. Dia memang tidak akan datang menemuiku. Aku yakin itu, tapi aku memiliki tekad kuat, aku harus tetap menanti. Kusandarkan tubuh ini ke batang pohon akasia, lelah, gingin, menggigil, sampai akhrnya aku terlelap dalam impian murahan, mimpi bertemu dengan dirinya.
Cericit emprit menghajar mimpiku. Aku bangun, tubuh tersandar di batang akasia, baju kuyup basah, rambut penuh kotoran. Orang-orang memperhatikanku, melirik dan mengandung tanda tanya di wajahnya. Dari roman muka mereka aku bisa menerka, mereka mengatakan aku orang sinting, gembel, dungu, padahal aku hanyalah tukang dongeng yang tetap setia menanti dirinya.
Mungkin perlu kudatangi juga rumahnya. Sepertinya tidak perlu! Tidak perlu! Dia mengancamku, jangan datang ke rumahnya sebelum batas waktu perjanjian jatuh tempo, dua tahun!!!
Ya…aku setuju… dalam hal ini mungkin aku perlu bersabar….terus menunggu dirinya di bawah pohon akasia meskipun hari demi hari hujan menerjang dan menembaki tubuhku…
Sejenak mataku yang telah kuyu dan sayu melihat, seorang wanita anggun bersahaja berkerudung merah jambu menuntun anak kecil. Di tangannya membawa boneka…ya ampunnn indah betul! Mereka melintas di hadapanku.
” Teh Ela…teh Ela…duduk dulu yuu, di kusri panjang ini!” Ointa si anak kecil.
Ah…seraut wajah itu tidak mungkin kulupakan. Ela! Dia? Namun aku telah lunglai, terlalu lama berbaring di bawah pohon akasia ini. Tidak sanggup diriku melangkah untuk menghampirinya. Aku berbaring dan melirik dirinya sepintas-sepintas.
1,2,3,5…sampai dua tahun yang dijanjikan. Aku menyaksikan dari bawah pohon akasia ini sambil berbaring. Dia, Ela, pujaanku, setiap sore duduk di atas bangku panjang itu ,bisa jadi menunggu diriku, di tangannya selalu setia memegang boneka.
Esoknya, esoknya, esoknya lagi, esok esok esoknya lagi, dia masih tetap setia menanti diriku. Hanya saja…air mata meleleh di pipinya. Ingin aku berteriak, namun…parau sekali suaraku…aku semakin parah di bawah pohon akasia ini.padahal begitu..sealu dekarnya aku dengan dirinya.
Sampai pada akhirnya, satu sore, dia membantingkan boneka ke atas tanah. menangis, tersedak, kemudian lekas pergi..sampai dia tidak pernah muncul-muncul lagi, duduk di atas kursi memanjang itu
No comments:
Post a Comment