Biarkan aku pergi dari hidupnya..mungkin begini akan jauh lebih baik, aku akan baik-baik saja walau tanpa dia. Biarkan dia bahagia, maka aku juga akan bahagia. Semua rasa biar aku pendam, biar aku dan kau yang tahu tentang rasaku ini. Jangan beri tahu siapa pun tentang rasaku ini, karena itu sangat memalukan. Jika suatu saat dia tahu, yang pasti aku sudah tak berada di sisinya. Biarkan aku, kau, langit, udara, dan bumi ini yang tahu tentang rasa yang tak akan pernah terungkap. Mungkin akan terkubur slamanya. Kau janji padaku, berjanjilah padaku. Berjanjilah jika kau tak akan bicara pada siapa pun,” ucap Rani pada Tania.
“Tapi, apa yang harus aku katakan pada David? Apa aku harus membohonginya! Kau gila! Bagaimana bisa aku berbuat seperti ini?Tidak!! Aku tidak bisa lakukan hal gila ini!”.
“Tan, kau cukup katakan kau tak tahu aku dimana. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Aku tak bisa lakukan ini. Kau sangat bodoh! Kenapa kau pendam rasamu itu. 10 tahun kau bersamanya,berteman dan bersahabat dengannya. Aku yakin bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama.“Kau salah…..Kau tak tahu apa-apa. Aku melihat dan mendengarnya sendiri, dia mencintai Cintya, teman semasa kecilnya. Gadis cantik yang amat baik,cerdas dan penuh kelembutan juga kaya. David lebih pantas mendapatkannya. Kau lihatlah aku! Aku hanya gadis sederhana, tak cantik dan aku juga bodoh, selama sekolah tak pernah mendapat peringkat 10 besar, dan slama kuliah,IP ku pun rendah. Aku iri! Kau tahu itu, sakit, aku sangat sakit!”
Di teras rumah Tania, mereka bicara tentang rasa yang selama ini tak terungkap. Dengan air mata dan emosi dari jiwa, mereka saling berteriak.Tapi Tania luluh akan perkataan Rani. Ia hanyut. Ia mememeluk Rani dengan penuh kesedihan.
“Haruskah kau pergi demi mereka?”.
Rani mengangguk.
“Jaga rahasia ini”.
”Kemana kau akan pergi?”
“Aku pulang ke rumah peninggalan orang tuaku.Aku akan tinggal disana,dan mungkin menetap.Aku titip mereka.”
Rani pun pergi dengan kesedihan air mata cinta. Sepuluh tahun ia memendamnya, tak ada yang tahu, betapa tersiksa hatinya.
Di stasiun, Rani duduk menunggu keretanya. Ia masih bersedih menangisi ini semua. Ia memeluk sebuah foto dirinya bersama David dan keluarganya. Mengingat setelah orang tuanya meninggal 10 tahun yang lalu ia tinggal serumah dengan David. Kebersamaan itu sulit ia hapus dari ingatannya. Ia terus dan terus terisak dengan rasa sakitnya.
Di rumah, David berteriak memanggil Rani. Mencari kesana kemari. Namun tak ditemuinya.
Akhirnya ia menemukan sebuah surat di sela-sela buku yang sering ia baca.
Maafkan aku David.Sepertinya aku harus pergi.Aku merasa sudah terlalu merepotkanmu dan keluargamu.Aku sayang dengan kalian semua.Tapi aku harus pergi.Aku tak bisa lebih lama lagi tinggal disini.Lagi pula,aku sudah capek setiap hari harus kau ganggu terus.Sekarang sepertinya ada Cintya,kau bisa ganggu dia! Sekali lagi maafkan aku.Aku sayang kalian juga kau David, dan hutangku waktu itu, 40 rb sudah aku lunasi.Ini ada uang 50 rb,kembalinya ambil aja.sudah, jangan menangis! Aku akan baik-baik saja.Kau tau kan kalau aku bisa melakukan semua hal walau pun itu terkadang salah.Iya,aku tahu,kebanyakan salahnya, tapi aku bisa jaga diri.Kau tenang saja. Salam buat tante,om dan bi Inah ya.Selamat tinggal. Aku akan merindukan kalian. Terimakasih untuk semuanya.
Jangan cari aku..
Tertanda Rani
David tercengang membacanya. Air matanya mengalir deras. Ia menggenggam surat itu penuh kesedihan.sepintas ia mengingat Tania.”Tania,pasti dia tahu.”ucapnya dalam hati. Ia lalu mengambil langkah seribu.David menuju rumah Tania dengan membawa mobil berkecepatan tinggi.
Sampai di rumah Tania ia berteriak memanggil Tania.”Tania!!”.Tania keluar dan terkejut melihat David dengan amarahnya dan kesedihan yang berlebih.
“Kenapa,Vid?” wajahnya menjadi pucat tegang.
“kau pasti tahu. Rani! Dimana Rani? Katakan padaku!”
“Aku…aku tidak tahu dimana dia.”
“Bohong! katakan yang sebenarnya atau aku bisa berbuat nekat!”
“apa maksudmu?”
“(mengambil sebilah pisau) kau tahu apa ini? aku akan mengiris nadiku jika kau tak memberi tahu!”
“David, tenanglah. Jangan seperti ini!”
“Cepat katakan!”
“Stasiun, dia akan pergi ke rumah peninggalan orang tuanya. Jika kau menyusul, aku ikut! Aku ingin memberi tahumu sesuatu.”
Mereka pun memasuki mobil. Dalam perjalanan, Tania bercerita tentang perasaan Rani selama sepuluh tahun terpendam.
Seouluh tahun yang lalu..
Rani datang di rumah David dengan kesedihan atas meninggalnya orang tuanya. Kemudian David menggandengnya dan mengajaknya bermain. Mereka tertawa bersama dan Rani sangat gembira. Semenjak itu Rani jatuh cinta pada David. Saat masuk SMA,David selalu di sisi Rani, tak pernah lepas sedikit pun. Mereka selalu bersama setiap saat. Suatu hari Rani jatuh sakit, dan Davidlah yang merawatnya dengan penuh kelembutan. Saat mereka duduk di bangku kuliah, setahun yang lalu, Cintya datang. Rani merasa David lebih sering bersama gadis itu, dan dari situlah Rani menjadi iri pada gadis yang cantik, kaya dan perfect seperti dia. Suatu saat, dia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya, namun ia mendengar percakapan antara David dan Cintya.
“Kau itu gadis yang cantik..sempurna dan sangat perfect….”
Rani kecewa, dan langsung mengengahkan perasaannya itu. Ia terpuruk dalam kesediahannya, dan setelah itu ia tidak lagi memperdulikan hatinya. Rani memutuskan pergi untuk David dan Cintya.
“Apa? Jadi Rani? Bodoh! Dia memang gadis bodoh! Apa dia tidak tahu perasaanku, dan waktu pembicaraan itu, dia hanya mendengarnya sebagian.”
“Sebentar..jadi kau suka, cinta dan sayang dengan Rani bukan Cintya?”
“Iya..dari dulu aku menyukainya. A ku sangat dan sangat menyayanginya.”
Beberapa minggu yang lalu saat David dan Cintya bercakap-cakap.
“kau itu gadis yang cantik dan sempurna. Tapi aku hanya suka dan sayang dengan satu orang. Kau tahu dia siapa?”
“Rani, iya kan?”
“Ya. Dia tak seperti gadis lain. Kesederhanaannya, kelembutannya, tawanya, cemasnya, marahnya, semuanya aku suka. Aku tak tahu jika aku kehilangan dia, mungkin aku hancur, karena dia adalah sebagian dari nafasku. Dia semangatku, dia hidupku.”
“Rani sangat beruntung mendapatkan cinta darimu. Aku akan mundur, karena bagiku aku bisa mendapatkan siapa pun kecuali kau.”
Rani masih duduk menunggu kereta datang. Sesekali ia berharap David akan datang dan mencegahnya pergi. Disisi lain David yang menyetir mobil melaju hingga kecepatan maksimum dan Tania berusaha menenangkannya agar tak gegabah.
Sesampai di Stasiun, David langsung berlari kedalam. Sesekali ia mengusap air matanya yang terjatuh dan Tania berlari di belakangnya, berusaha mengejarnya. Kemudian langkah mereka terhenti. David kebingungan kemana dia akan melangkah.
“Kemana dia akan pergi? Tania,kau tahu?”
“Untuk yang ini aku tak tahu. Aku bersungguh-sungguh.”
“oh ya.Ayah pernah bilang kalau Rani berasal dari Semarang.mungkin dia akan kesana.”
David segera berlari ke gerbong tujuan Semarang. Ia berteriak-teriak memanggil nama Rani.
“Rani!!Rani!!”
Rani merasa ada yang memanggil namanya.Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari orang itu. Ia tahu itu suara David, dan waktu yang bersamaan pula, datanglah kereta itu.
Rani berdiri dan mengangkat barang-barangnya. Ia berjalan menuju kereta. Lalu ia mendengar lagi suara itu yang semakin keras terdengar. Satu langkah ia memasuki kereta, tiba-tiba terdengar suara David yang terdengar sangat jelas ditelinganya.
“Rani..berbaliklah dan tataplah aku.”
Tubuh Rani menjadi kaku dan lemas. Ia hanya bisa mengusap air matanya yang jatuh menetes. Ia tak bisa berbalik untuk menatap David. Ia masih takut dengan hatiny.
“Rani!! sekali ini,tataplah mataku.lihatlah hatiku. Jangan seperti ini. Kau tahu, kau telah menyiksa batinku. Kau hanya salah paham dengan Cintya.”
“Aku tak peduli dengan Cintya!!! Terserah kau akan melakukan apapun. Terserah!!! aku sudah tak sanggup lagi. Aku terlalu lelah mencintaimu! Kau tahu!”
“Jangan pernah kau lelah mencintaiku. Aku tak sanggup mendengarnya. Rani, aku tahu. Aku terlalu banyak diam dan mendiamkan perasaanku, seolah-olah aku tak mencintaimu.Tapi asal kau tahu, aku sangat mencintaimu melebihi diriku sendiri. Aku rela melakukan apapun asal kau baik dan tersenyum. Bahkan, jika kau menginginkanku mati, aku sanggup mati untukmu. Asalkan saat itu aku mati dipelukmu.”
“Hentikan David!! hentikan!”
“Aku tak akan berhenti selama kau belum keluar dari kereta itu dan menatapku.”
Rani langsung berlari menuju David dan memeluknya erat. Rani menangis dalam dekapan hangat David.
“Kau tahu, aku hampir mati saat kau pergi. Jangan seperti ini lagi. Kau telah membuatku ketakutan.”
“David, maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu takut. Aku pikir kau dan Cintya.”
“Tak ada hubungan apapun diantara kami. Cintya juga tahu kalau satu-satunya cintaku adalah gadis bodoh ini.”
“David, tetaplah seperti ini. Jangan pernah tinggalkan aku walau sedetikpun. Tetaplah di sisiku, jangan pernah kau membuatku takut dan cemas akan perasaan ini. Kau tahu aku sangat mecintaimu, tapi sering aku berpikir aku tak layak untukmu.”
“usssstttt, jangan sekali-kali kau katakan kau tak pantas untukku. Karena bagiku, kau adalah gadis yang paling cocok untukku. Kau tau kenapa? karena di dunia ini tak ada gadis bodoh selain kau.”å
No comments:
Post a Comment