Saturday, 7 May 2011

sajen "canang" depan pintu

Payung yang kusandarkan di bahu tak mampu melemahkan terik mentari siang ini. Begitu juga kerudung lebarku, sepertinya benda ini tak dapat menahan panas yang menusuk-nusuk tubuh. Rasa capek setelah jalan berkilo-kilo serta menuruni bebukitan terjal, semakin memberatkan langkah kaki. Air mengalir di sungai kecil yang memutus jalan, mengundangku untuk merasakan kejernihannya. Ya, lumayan dapat mengusir kepenatan yang kurasakan.
Adegan seperti ini harus kujalani sebulan sekali, yaitu ketika uangku sudah habis dan harus membayar kost. Biasanya di kampung yang jaraknya lima belas kilo meter dari kota itu, Emak telah menyiapkan sejumlah uang untukku dari hasil kebun dan ternak. Alhamdulillah, sampai sekarang aku masih dapat bertahan menjadi mahasiswa semester tujuh di Fakultas Sastra.
“Horeee… Mbak Ajeng pulaaang,” sorak anak-anak yang sedang mandi di sungai sebelah barat kampung. Mereka berlarian mendekatiku. Di kampungku, untuk ukuran anak-anak seusia mereka, mandi di sungai tanpa berpakaian adalah suatu hal yang biasa. Namanya juga anak kampung, apalagi usia mereka yang rata-rata baru enam tahun. Tau apa bocah-bocah kecil ini tentang persoalan tujuh belas tahun ke atas? Jadi apa yang mereka lakukan adalah hal yang biasa saja.
Wajah polos mereka lucu-lucu. Tawa anak-anak ini mengembalikan ingatanku semasa kecil. Dan sungai itu, sungai yang memandikanku setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Lagi-lagi cerita khas orang kampung. Sungai itu sangat berarti bagi kami, dari mandi, nyuci pakaian, nyuci beras sebelum dimasak, buang air, bersuci, sampai memandikan hewan ternak. Multi fungsi, kan? Eh, satu lagi, untuk irigasi sawah sekitar sungai.
Aku tak dapat menahan senyum ketika ingat waktu itu pernah dikejar-kejar Mbah Karto. Kami berlima selesai mandi. Sawah Mbah Karto pagi itu sedang dibajak. Rudi dan Ratih melihat Mbah Karto menaruh sajen di muara sungai yang mengairi sawahnya. Namanya anak kecil, kami berlima sepakat untuk mengambil ingkung, setandan pisang, telur rebus dan uang receh yang ada di sajennya Mbah Karto. Eh, ternyata Mbah Karto menguntit aksi kami. Hasilnya kami dapat omelan dan lari berhamburan sampai Rizal belepotan kecebur di lumpur.
“Mbak, kok pulang? Mau nonton wayang, ya?” Tanya Dewi yang juga masih sepupuku. Tatapannya polos. Sedikit Lumpur yang menempel di pipinya, pasti itu berasal dari kerbau yang ia mandikan. Memandikan hewan ternak adalah hal yang biasa dilakukan anak-anak di kampung kami. Lagian, anak pelosok macam mereka, tahu apa sama permainan modern yang lagi tren untuk anak seusianya di kota. Makanya wayang yang diadakan setahun sekali itu sangat ditunggu-tunggu oleh anak-anak kampung.
“Lho, rumah Mbak Ajeng kan sini, masak ndak boleh pulang?” Jawabku sambil senyum. Sebenarnya sih aku juga suka wayang, terutama tentang ajarannya yang sarat dengan nilai moral. Selain itu, alasanku untuk menyukainya adalah musiknya yang tidak asing di telingaku. Dulu waktu aku kecil, bapak sering mendengarkan wayang dari radio semalaman, sampai-sampai kalau tanpa suara wayang aku tak bisa tidur.
Lain cerita dengan alasan orang-orang kampung nanggap wayang kali ini, tiap tahun bahkan. Orang-orang di kampungku masih kolot, mereka masih percaya dengan hal-hal yang bersifat tahayul. Tiap tahun masih ada tradisi Merti Desa. Nanggap wayang tentu saja tidak boleh dilupakan. Katanya kalau tidak dilakukan, orang sekampung bisa kena pagebluk. Yang membuatku heran, hari gini kok masih percaya sama gituan, bahkan belum ada yang berani mengikis kepercayaan itu.
Tiap diadakannya acara merti desa seperti ini, suasana kampung rasanya beda banget. Ketika masuk sebelah barat desa, sudah ditemui daun-daunan yang menghiasi gapura. Buah-buahan semacam setandan pisang, kelapa yang masih utuh, padi, jagung, batangan tebu serta lainnya, juga ada di sana. Selang beberapa rumah setelah gapura, kebetulan rumah Mbah Lurah di situ, adalah tempat nanggap wayang.
Meski acara masih besok pagi, namun orang-orang telah ramai berlalu-lalang di sekitar rumah Mbah Lurah. Beberapa orang terlihat sedang menggotong lesung. Jangan dibayangkan kalau lesung ini mau buat menumbuk padi. Benda itu besok akan dipukul beberapa kali ketika upacara ritual telah dimulai. Ketika terdengar suara lesung itu, maka orang sekampung dari yang tua, muda, besar, kecil, laki-laki, perempuan, semuanya akan keluar rumah untuk ikut beramai-ramai memburu tupai. Bagi para perangkat desa, ketika mandengar pukulan lesung maka mereka akan bergegas untuk memburu burubg gelatik. Jika buruannya telah diperoleh, maka lesung akan kembali dibunyikan. Maka orang-orang akan berbondong-bondong datang ke rumah mbah lurah untuk membawa sesaji.
Nduk, kok kadingaren masih jam dua sudah sampai rumah?”
“Iya, Mak. Tadi cuma ada satu mata kuliah. Bapak ke mana, Mak?”
“Ndak tahu, tadi juga tidur di kursi depan. Oh, iya. Mungkin bapakmu ke sawah nyari alang-alang dan daun dadap srep.”
“Siapa yang sakit perut, Mak?” Tanyaku. Dulu waktu kecil kalau perutku kembung biasanya dikasih daun dadap srep dicampur kapur sirih terus ditempel di pusar.
“Ndak ada, mau dibuat sajen wayang,” jawab emak sambil mengangkat bermacam-macam bentuk ketupat dari panci. Aku heran juga, sejak kapan bapak mulai percaya sajen?
“Lha ketupatnya itu juga buat sajen, Mak?”
“He eh, Mbah Lurah tadi pagi kemari, katanya bapakmu suruh buat lima macam ketupat, sego gureh, sego karak, sego golong, ingkung, gimbal, daun dadap srep, daun alang-alang dan daun opo-opo. Mbuhlah apalagi, Emak sampai lupa saking banyaknya.
“Bapak mau?”
“Ya mau, lha ini…”Entah apa kata Emak, aku sudah tak dengar lagi. Rasanya aku ingin cepat-cepat ketemu Bapak dan menginterogasinya.
“Wak, lihat Bapak tidak?” Tanyaku pada Wak Sani.
“Iya, Bapakmu di sawah dekat kuburan.” Setelah mendengar jawaban itu aku buru-buru lari ke sawah dekat kuburan.
“Paaak, Bapak lagi nyari apa?” Seruku.
“Eh, kamu to, Nduk. Sudah dari tadi pulangnya?”
“Baru saja, Pak. Buat apa Bapak nyari daun seperti ini?” Tanyaku sambil menenteng salah satu daun yang dipetik Bapak. Beliau tak menjawab pertanyaanku sebab beliau tahu jika aku tidak setuju dengan semua itu. Bapak pun sebenarnya tidak setuju dengan sajen tetek bengek seperti ini. Tapi kok sekarang pakai sajen segala, ketularan Mbah Lurah barangkali.
“Tadi pagi Mbah Lurah ke rumah. Beliau menyuruh Bapak menyiapkan semua ini,” jelas Bapak sambil duduk di atas daun yang tadi dikumpulkannya.
“Kok Bapak mau sih? Kata Bapak kalau kita percaya hal-hal semacam ini namanya syirik,” kataku sedikit menghakimi.
Nduk, bukannya Bapak berubah prinsip. Sekarang ini Bapak kan modin, bawahannya Mbah Lurah, tentu saja apa-apa harus nurut sama Mbah Lurah.”
“Terus Bapak ndak nurut sama perintah Allah, begitu?”
“Ya tidak to, Nduk. Allah itu yang pertama dan paling utama.” Bapak menyangkal tuduhanku sambil menghela nafas panjang. Sesaat kemudian bapak melanjutkan ceritanya,”tadi itu Mbah Lurah ke rumah. Beliau menyuruh Bapak menyiapakan dua puluh tujuh macam benda untuk sajen nanggap wayang. Sebetulnya tadi Bapak sudah berusaha nego, Bapak milih ngasih uang saja biar orang lain yang menyiapkan. Eh, malah Mbah Lurah marah-marah ndak karuan, katanya kalau bukan Mbah Modin yang membuat bisa dadi gawe, roh yang nunggu punden bisa ngamuk. Akhirnya Bapak iyakan saja permintaan Mbah Lurah. Bukannya Bapak takut kalau setan punden ngamuk, tapi Bapak tidak mau ada keributan Mbah Lurah ngamuk gara-gara Bapak. Kalau itu terjadi, orang sekampung bisa geger nanti,” kata bapak mengakhiri ceritanya dengan terkekeh.
“Berarti Bapak tidak ngasih sajen wayang tapi nyajeni Mbah Lurah?”
“Ya iya, he he… Memang hidup di masyarakat itu sulit, Nduk. Tidak semudah teori yang kamu dapat di kampus. Kita harus pintar benar bawa diri agar tetap dianggap ada oleh orang lain.
“Pak, lha itu daunnya kok diduduki, apa Bapak tidak takut kualat?” Tanyaku menggoda bapak.
Hasbunallah wa ni’mal wakil,” kata beliau sambil menarikku untuk berdiri.
Angin senja petang ini menerpa wajah-wajah yang ingin menjaga kedamaian di bumi-Nya.

No comments:

Post a Comment