Pada suatu hari ketika musim salju, seorang ratu sedang menjahit dan tanpa sengaja jarinya terkena jarum dan berdarah.“Yee, orang aku pakai mesin jahit kok…” Tiba-tiba mesin jahitnya meledak! Bunyinya BUM! Ruangan sang ratu menjahit hancur berkeping-keping, mesin jahit itu hancur lebur, ruangan-ruangan di sebelahnya rusak parah, saluran listrik, air, gas, telpon, internet, satelit, dan eee… sambungan telpon dengan benang, semuanya nonaktif. Bisa dibayangkan dong gimana keadaan sang ratu… Jari sang ratu terkena jarum dan berdarah. … Sang ratu melihat tetesan darah yang terjatuh di atas salju putih. “Seandainya saja aku memiliki anak perempuan yang seputih salju, semerah darah, dan sehitam bingkai jendela itu.” … Disana nggak ada bingkai jendela, sungguh. Beberapa tahun kemudian sang ratu melahirkan anak perempuan yang sesuai keinginannya. Kulitnya hitam, matanya merah, dan rambutnya putih. … Sang ratu nggak ingin anak seperti itu, jadi kelahiran anaknya tadi dibatalkan. Kemudian ia menggambarkan gambar anak yang diinginkannya, berkulit putih kemerahan dan berambut hitam seperti bingkai jendela itu. … Bingkai jendela yang mana sih? Sang ratu kemudian menyerahkan draft itu ke desainer dan kemudian desainer menyerahkan pada dokter. Sang ratu melahirkan anak sesuai keinginannya, dan anak itu dinamai Snow White. Tidak lama kemudian sang ratu meninggal, kematiannya dimungkinkan karena keracunan, sebab ditemukan zat pewarna putih, hitam, dan merah di rahimnya. Hitamnya seperti bingkai jendela itu. … Bingkai yang di dekat vas itu bukan? Sang raja yang mengetahui kematian istri yang sangat dicintainya sepenuh hati shock berat, karena itulah ia menikah lagi dengan wanita cantik yang ia pilih dari seluruh penjuru dunia, saking shocknya. Meskipun cantik, wanita itu agak aneh. Ia sering bicara sendiri dengan cermin, padahal di kerajaan nggak ada cermin. Karena itu ia mendatangi toko cermin. “Mas, ada cermin yang enak diajak omong nggak?” Penjual cermin berpikir, dia ini pasti ratu talking-to-mirror-mirror-hanging-on-the-wall-you-do-not-have-to-tell-me-who-is-the-biggest-fool-of-all yang dinikahi raja. Tapi bagaimanapun juga ia sangat menghormati raja. “Hei, ratu bodoh! Kalau mau cermin ke belakang sana! Apa?! Gitu aja minta diantar?! Manja!” Ratu sangat terkejut, ia menangis… “Ternyata ada juga yang tahu kalau aku ini bodoh, aku sangat terharu…” Ratu baru itu kemudian tiba di ruangan penuh cermin. Ia mengajak salah satu cermin bicara. “Cermin-cermin di dinding, siapakah gadis yang paling cantik?” Cermin itu kemudian menjawab. “Hei, siapa yang kamu maksud? Aku?” “Yaaa… Iyalaaah…” “Kalau gitu jangan pakai jamak, dasar ratu bodoh!” “Wah kamu juga tahu kalau aku bodoh! (senang) Baiklah, cermin di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?” “Tergantung…” “Tergantung?” “Kamu sudah melakukan hal itu dengan raja belum?” “Hal itu? Hal yang… Itu? I… tu… Eh, gimana yaaa… Belum…” “Heh (menyindir), dasar anak-anak.” “Apa maksudmu?!” “Kamu nggak tahu ya? Aku dengan istriku sudah melakukan itu puluhan kali.” “Puluhan kali? Melakukan apa? Gimana?” “Sudah ah, aku nggak mau menanggapi anak kecil. Bye.” “…” Ratu baru itu masih agak bingung. Ia pun memilih cermin lain. “Cermin, apakah aku paling cantik?” “Tidak.” “Apa aku cantik?” “Tidak.” “Apa aku cantik?!” “Tidak.” “Apa kamu bisa berbicara yang lain selain tidak?!” “Coba lagi.” “Apa aku cantik?” “Tidak.” “…” Ratu itu merasa pernah melihat hal yang sama di acara televisi kerajaan. Ratu itu pun pasrah dan meninggalkan toko. Seketika ia kembali ia dibelikan cermin oleh raja. Ia senang dan mulai mengajak cermin itu bicara. “Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?” “Thou, O Queen, art the fairiest of all!” Ratu itu tidak tahu bahasa asing, tapi ia sangat senang karena ia baru kali ini mendengar cermin berbicara. Raja yang mengetahui itupun jadi senang. “Ternyata ia memang suka dengan cermin talking-only-thou-punctuation-o-queen-punctuation-art-the-fairiest-of-all-exclamation yang kubelikan.” Tetapi hal itu tidak lama, tujuh tahun setelah itu (itu lama yo…) Snow White telah menjadi gadis kecil yang cantik. Kulitnya yang putih kemerahan menjadi sangat indah, dan rambutnya yang hitam menjadi sangat menyerupai bingkai jendela itu. … Kalau bukan yang di dekat vas berarti yang mana? Ketika ratu baru (sudah tujuh tahun, sudah lama berarti) itu mencoba berkata pada cermin, ia terkejut. “Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?” “Thou art fairer than all who are here, Lady Queen. But more beautiful still is Snow-white, as I ween.” “Apa?! Mengapa bicaramu berganti jadi panjang? Pendek aja aku nggak ngerti!” Raja yang mengetahui hal itu cukup kecewa juga. “Kenapa ia tidak suka dengan cermin talking-only-thou-art-fairier-than-all-who-are-here-punctuation-lady-queen-full-stop-but-more-beautiful-still-is-sno-white-punctuation-as-i-ween-full-stop yang baru? Padahal cermin itu lebih mahal?” Ratu menjadi marah kepada Snow White karena namanya disebut di cermin. Ia pun menyuruh assasin untuk membunuh Snow White dan membawa hatinya sebagai bukti. “Hei, ass! bunuh Snow White dan bawa kesini hatinya.” “Kok aku dipanggil ass, sih? Ya udah, nggak papa, nggak ada yang senang kalau aku hidup.” Assasin itu pergi dengan langkah lemas. Tidak butuh waktu lama untuk assasin menemukan Snow White, Snow White berada di depan pintu kamar ratu. “Hai, asin! Mau nemuin mama ya?” “Mengapa sekarang aku dipanggil asin? Nasibku…” “Kenapa, asin?” “Nggak papa, kalau gitu aku nemuin mamamu dulu ya…” “Oke deh kalau gitu…” Assasin kembali ke kamar ratu. “Ratu mencari saya? Atau saya mencari ratu?” “Lho, udah kembali kamu. Gimana ass? Udah dapet hatinya Snow White?” “Eh, hati? Hati… Oh! Err… Anu…” “Wow! Apakah bola yang kamu pegang itu hatinya Snow White? Bagus sekali kerjamu. Nanti bayarannya kukirim ke rekeningmu.” Assasin itu heran juga, ratu kan tahu kalau ini bola? Tapi nggak papa lah, setidaknya ia nggak jadi membunuh seseorang, ia takut dosa. Tiba-tiba Snow White masuk kamar ratu. “Mama, Snow White mau main dulu ya…” “Baiklah, Snow. Hati-hati ya…” “Dah mama…” “Dah Snow…” Assasin yang melihat itu heran, kayaknya ada sesuatu yang… Sudahlah. … … … Kok habis? Lho, katanya sudahlah, ya sudah, sudah habis. … Yaaa… Nggak bisa gitu lah. Kemudian Snow White yang kesepian di hutan kebingungan. Kok Snow White bisa di hutan? Sebelumnya dia kan di istana? … Kemudian Snow White yang kesepian di istana kebingungan. DI istana kok kesepian? Ramai ah. … Kemudian Snow White yang tidak kesepian di istana kebingungan. Nggak kesepian kok kebingungan? … Kemudian Snow White yang tidak kesepian di istana tidak kebingungan. Kalau nggak kebingungan ngapain? … Kemudian Snow White kebingungan bagaimana bisa dia yang sebelumnya berada di istana yang tidak sepi jadi tidak membuatnya kebingungan tiba-tiba berada di hutan yang sepi yang membuatnya lebih bingung lagi. … Hari sudah semakin sore, Snow White yang tersesat di hutan kebingungan, dia terus berlari. “Bagaimana ini, hari semakin sore, garis finisnya masih tidak kelihatan…” Setelah lama dia melihat kotej yang ukurannya kecil, kotej itu sangat kecil sehingga semua perabotannya ditaruh di luar. Disana ada meja yang diatasnya ada 7 piring kecil dengan warna berbeda-beda, ada merah, merah kemerahan, merah kemerah-merahan, merah berbintik merah, merah bergaris merah, putih berlapis merah, dan hitam yang dicat merah. Di atas piring itu hanya ada tepung, tepung, dan tepung. “Apaan sih ini? Semua piring kok isinya tepung? Nggak ada sendok lagi, adanya sumpit.” Bagaimanapun juga, karena ia kelaparan semua tepung itu dimakannya (dengan sumpit). Kemudian ia tertidur karena makan puding rasa obat tidur. Tiba-tiba ada 7 kurcaci yang kelihatannya habis pulang bekerja. Mereka kaget ketika membuka pintu kotejnya. Kurcaci pertama bertanya, “Siapa yang duduk di kursiku?”, ia bertanya sambil duduk di kursinya. Kurcaci kedua, “Siapa yang makan di atas piringku?”, ia bertanya sambil kebingungan mencari piringnya. Kurcaci ketiga, “Siapa yang memakan rotiku?”, ia bertanya sambil makan roti. Kurcaci keempat, “Siapa yang memakan sayurku?”, ketika ia melihat kurcaci ketiga makan roti ia meralatnya, “Siapa yang memakan rotiku?” Kurcaci kelima, “Siapa yang menggunakan garpuku?” … “Kapan aku punya garpu?” Kurcaci keenam, “Siapa yang memotong dengan pisauku?”, ia bertanya sambil menggesek-gesekkan pisaunya ke tangannya, “Aduh!” Kurcaci ketujuh, “Siapa yang minum menggunakan mugku?” … “Jangan dijawab! Aku tidak bertanya padamu!” Kemudian ketujuh kurcaci itu tersadar, di dalam kotejnya kan nggak ada apa-apa… Kayaknya mereka kurang tidur, ketika mereka menuju tempat tidur, mereka kaget. “Siapa yang habis tidur di tempat tidurku?” Kurcaci pertama bertanya. “Bukan, bukan aku!” Kurcaci kedua menyangkal. “Siapa yang bertanya padamu?” Kurcaci ketiga bertanya. “Bagaimana kamu bisa tahu kurcaci pertama tidak bertanya pada kurcaci kedua?” Kurcaci keempat bertanya. “Kenapa sampai sekarang aku nggak punya tempat tidur?” Kurcaci kelima bertanya. “Tempat tidur? Apa itu tempat tidur?” Kurcaci keenam bertanya. “Hei, ada yang tidur di tempat tidurku!” Kurcaci ketujuh tidak bertanya. Keenam kurcaci lain melihat tempat tidur kurcaci ketujuh, disana ia melihat ada seorang gadis yang tertidur pulas. “Lihatlah, cantiknya gadis itu!” Kurcaci pertama berkata. “Iya, cantik.” Kurcaci kedua mengiyakan. “He! Ojok mbebek ae kon! (Hai! Jangan mengangsa saja kau!)” Kurcaci ketiga menghardiknas. “Apa? Aku cantik?” Kurcaci keempat bertanya pertanyaan retoris. “Kamu bukan gadis yoo…” Kurcaci kelima mengklarifikasi. “Diam, diam, nanti gadis itu bangun, kasihan dia.” Kurcaci keenam menasehati teman-temannya. “Aku harus ngomong apa ya?” Kurcaci ketujuh bingung. Ketujuh kurcaci tersebut kemudian tertidur pulas di kasur masing-masing. “Hei, aku harus tidur dimana?” Kurcaci ketujuh akhirnya tahu apa yang harus dikatakan. Esoknya, Snow White terbangun dan kaget melihat kurcaci. “Hai, aku kaget lho…” Ketujuh kurcaci tersebut ikutan terbangun. “Ah”, “rupanya”, “kamu”, “sudah”, “terbangun”, “dari”, “tidurmu.” (kata-kata tersebut diucapkan secara berurutan oleh kurcaci) “Kalian pemilik kotej ya? Maafkan aku, aku telah memakan semua tepung kalian… Tapi kalian kok makannya tepung?” 1. “Ah itu… Nggak papa… Nggak tahu juga, setelah kami memberikan makanan ternak, menyiram sayuran, atau mengambil hasil panen, warga memberi kami tepung…” 2. “Iya, habis murah kayaknya…” 3. “Baca guide dari mana sih? 4. “Iya, padahal nggak enak…” 5. “Kadang-kadang mereka juga datang siang-siang…” 6. “Minta relaxation tea leaves lagi.” 7. “Iya, budum.” … Budum? 7. “Ah iya, kok aku bisa ngomong budum ya?” “Sebenarnya nggak tahu kenapa aku bisa ada di hutan ini, aku nggak tahu jalan pulang. Boleh aku tinggal disini?” “Asalkan kamu bisa mengurus rumah”, “masak”, “membersihkan tempat tidur”, “cuci baju”, “menjahit”, “menyulam”, “dan membersihkan rumah, kami bisa menerimamu.” “Ah, aku bisa, tenang saja.” “Baiklah kalau begitu.” Kurcaci manapun yang ngomong nggak penting. Esoknya, ketika kurcaci itu pulang dari membantu pertanian warga… Bukan warga sih, tepatnya seseorang yang memakai topi biru dan tas ransel kuning… …. Hei, pekerjaan kurcaci itu bertambang tahu! Sudahlah, ketika mereka pulang mereka melihat rumah mereka (masih) berantakan. “Snow White! Mengapa semuanya masih berantakan?” “Hah? Memang dari tadi gitu kok…” “Bukannya kamu harus membereskan rumah?” “Hah? Kenapa harus aku?” “Kan perjanjiannya gitu, kamu harus bersihin rumah untuk tinggal disini…” “Hah? Bukannya kalian bilang asalkan aku bisa mengurus rumah dan lain-lain? Aku bisa kok, tapi kenapa juga aku harus mengerjakannya untuk kalian?” “Eee… Bila kau bilang seperti itu benar juga…” Kemudian kurcaci-kurcaci itu menyesal tidak bisa meralat apa yang telah dituliskan pada cerita ini karena mereka nggak memiliki hak akses administrator. Dari hutan kita beralih ke istana raja. Ratu senang karena kali ini cermin yang dimilikinya berbahasa Indonesia. “Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?” “Tentu saja anda, wahai ratu.” “Terima kasih cermin, kalau yang paling ganteng?” “Tentu saja anda, wahai ratu.” “Kok… Kalau yang paling jelek?” “Tentu saja anda, wahai ratu.” “… Paling idiot?” “Tentu saja anda, wahai ratu.” “Apa maksudnya semua ini?! Ini semua pasti gara-gara Snow White masih hidup dan bersembunyi di hutan! Aku akan membunuhnya sekarang juga!” Kemarahan ratu sangat memuncak, ia pergi ke rumah penyihir dan mencari cara untuk membunuh Snow White. “Tentu saja anda, wahai ratu.” … Ratu mendapatkan cara untuk membunuh Snow White dari penyihir yang ia temui di perempatan dekat pasar. Ia menyamar sebagai pedagang keliling dan menjual kalung ke Snow White. “Wahai gadis yang cantik, maukah kau membeli kalung ini?” “Kalung yang cantik sekali ya mama, eh, pedagang keliling. Aku beli deh.” “Baiklah, akan kukenakan kalung ini ke lehermu.” Ratu memakaikan kalung itu ke Snow White. Karena ingin membunuhnya, Ratu mencekik leher Snow White dengan itu. Snow White pingsan dan Ratu kabur kembali ke istana. Snow White terbangun, “Dasar penjual aneh, masa kalung diikatkan ke tangan sih? Ngikatnya keras lagi, untung nggak di leher, bisa bahaya tuh.” Snow White kemudian kembali ke rumah kurcaci dengan darah mengucur deras dari nadinya. Ratu kemudian bertanya lagi pada cermin. “Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?” “Tentu saja anda, wahai ratu.” “Apa?! Snow White masih hidup!? Kurang ajar! Sekarang pasti akan kubunuh dia!” “Tentu saja anda, wahai ratu.” Kemudian ratu menyamar menjadi seorang nenek dan menjual sisir beracun ke Snow White. “Wahai gadis yang berambut bagus, mau sisir?” “Boleh juga mama, eh, pedagang keliling, eh, nenek penjual sisir.” Ratu kemudian menyisir rambut Snow White dengan sisir itu. Sesaat kemudian Snow White pingsan. Ratu kembali ke istana dengan perasaan senang. Snow White terbangun, “Dasar nenek, kok yang disisir rambut yang lain sih (yang mana?). Aku sampai pingsan karena geli.” Snow White kemudian kembali ke rumah kurcaci. Tunggu, pada adegan tadi rambut bagian mana yang disisir? Di istana Ratu bertanya lagi pada cermin, tapi sebelumnya ia haus. “Pelayan, ambilin minum dong!” “Tentu saja anda, wahai ratu.” “Apa?! Masih belum mati!? Argh! Sekarang pasti!” “Tentu saja anda, wahai ratu.” Pelayan datang tapi ratu keburu pergi. “Lho, kemana sang ratu?” “Tentu saja anda, wahai ratu.” Kemudian ratu menyamar menjadi seorang nenek, kali ini jualan apel beracun. “Mau?” “SMS sesama operator masih gratis? SMS ke operator lain 100 rupiah? Eh, bukan ya…” “Duh, jangan iklan dong. Apel nih, mau nggak?” “Mau dong mama, eh, pedagang keliling, eh, nenek penjual sisir, eh, nenek penjual apel.” Snow White kemudian memakan apel itu. Tidak lama kemudian dia pingsan. “Hahaha, yang ini pasti mujarab. Kembali dulu ah.” Kali ini berbeda, Snow White tidak bangun-bangun. Para kurcaci yang baru pulang kaget, mereka kira Snow White mati dan meletakkannya di peti kaca. Lho, nggak dipastikan dulu? Siapa tahu masih hidup? “Nggak mau ah, dia cuma ngerepotin mas… Kalau masih hidup beneran gimana? Repot kan? Mas sih enak, cuma jadi narator, ngomong doang.” … Duh, aku sih pinginnya jadi cermin yang cuma bisa ngomong “Tentu saja anda, wahai ratu.” itu… Sudah lama Snow White tersimpan di lemari es… Eh bukan ya? Peti kaca ding. Dia tidak terlihat seperti seseorang yang telah meninggal. Dia tetap seputih salju, semerah darah, dan rambutnya sehitam bingkai jendela itu. … Jangan-jangan bingkai di tempat lain… Suatu hari pangeran kerajaan tetangga tiba di hutan tempat kurcaci-kurcaci itu, dia kebingungan juga kok bisa tiba-tiba ada disana. Ia melihat peti kaca Snow White dan tertarik untuk membawanya. Ia membaca tulisan emas di peti itu. “Dijual cepat, 10 ribu bisa nego.” Pangeran itu membeli peti Snow White, dengan nego dulu tentunya. Sebenarnya para kurcaci merasa berat dengan kepergian Snow White itu. “Ya jelas berat, kita disuruh mengangkat peti ini sampai kerajaan. Dasar pangeran pelit.” Tiba-tiba ditengah jalan peti itu terjatuh karena dibuang oleh para kurcaci. … Itu sih bukan terjatuh namanya. “Berat tahu! Kamu kan nggak bayar biaya pengantaran. Udah ah, kami mau pesta teh, musim semi nih!” “Tunggu dulu! Terus bagaimana aku bisa membawanya?” Peti yang jatuh itu terbuka dan Snow White terjatuh. Dari mulutnya keluar potongan apel beracun itu. “Aduh sayang nih!” Snow White memakan kembali apel itu. Kali ini baru racunnya bekerja, tadi sih Snow White bukan pingsan, tapi tidur. “Lho kok pingsan lagi?” Pangeran tersebut menggendong Snow White sampai ke kerajaannya. Sampai di kerajaan, Snow White terbangun. “Terima kasih tumpangannya.” “Lho? Jadi kamu tadi tidak pingsan ya?” “Kenapa aku harus pingsan? Kamu pingin aku pingsan ya?” Kemudian Snow White pingsan. Ratu kerajaan itu tidak sengaja melihatnya. “Anakku! Apa yang kau lakukan pada gadis itu? Kamu telah menghamilinya ya?!” “Apa?! Kalau begitu maafkan aku ibu! Aku akan bertanggung jawab!” Kemudian Snow White dan pangeran itu akan dinikahkan. Di lain tempat, ratu yang lain sedang berbicara pada cermin. “Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?” “Tentu saja anda, wahai ratu.” “Apa!? Snow White menikah dengan pangeran kerajaan lain?! Kurang ajar, masih hidup saja dia!” Ratu pergi ke kerajaan tetangga dengan amarah yang memuncak. “Tentu saja anda, wahai ratu.” … Sesampainya di kerajaan tetangga, ratu (mama Snow White, tapi bukan manajernya kayak yang di suatu acara TV) melihat pernikahan Snow White dengan pangeran kerajaan itu. Ia mendekati Snow White dan akan mengucapkan mantera kutukan. “Snow White! Ternyata kau ada di sini!” “Pedagang keliling, eh, nenek penjual sisir, eh, nenek penjual apel, eh, Mama?!” “Snow White… Mama selalu mendoakanmu, nak. Semoga kamu berbahagia dengan pangeran ini.” “Mama… Terima kasih banyak.” “Ratu, maafkan aku yang telah lancang menikahi Snow White. Aku telah menghamilinya…” “Sudahlah, tidak apa-apa. Aku menunggu cucu pertamaku.” “Mama?! Jadi mama tidak marah?! Mama memang mamaku yang paling baik!” “Terima kasih bibi!” Mereka semua bahagia, termasuk semua warga yang menghadiri pernikahan mereka. Kalau bisa dibuat bahagia, mengapa memilih ending yang harus-ada-yang-mati? Dan tidak jauh dari tempat pernikahan itu… Akhirnya… Aku melihat bingkai jendela yang berwarna hitam itu.
Tuesday, 11 January 2011
dibawah pohon akasia #inspirasi arlan
Ini musim hujan. Semua tampak hebat. Lebih jauh, aku tidak bisa menelan kota Tasik apalagi menerjemahkannya dengan baik. Yang kumaksud adalah sebuah pertanda. Apa dengan musim hujan ini, kedatanganku ke kota ini betul telah tepat? Atau malah sebaliknya.
Tiba-tiba seekor kucing meloncat begitu saja dari kursi panjang di sampingku. Ah..rupanya terusir oleh atau diusik oleh sekelompok anak kecil yang sedang asyik main bola sepak. Hujan bukan halangan bagi mereka untuk memainkan permainan mendunia itu. Sepak Bola! Kadang bola yang ditendang oleh salah satu pemain bukan hanya mengusik binatang seperti kucing saja, juga bisa membuat kumis seseorang bisa terangkat naik, saking terlalu asyiknya anak-anak itu menendang-nendang bola, sampai tidak bisa membedakan mana tiang gawang mana tubuh orang-orang.
Ini hujan gerimis. Tak perlu aku menghindar dari gerimis. Titik hujan susul menyusul menerjang tubuh kecilku. Sepanjang jalan yang kusaksikan adalah kabut tipis putih. Pepohonan , apalagi akasia di seberang jalan buramnya bukan main. Dalam pandanganku tampak kelabu. aku duduk, setia menanti dirinya, di atas bangku panjang ini. Setia, mau dia datang atau tidak terserah. Aku yakin …inilah yang harus kulakukan, menanti dengan setia…Setelah janji yang kami sepakati kulanggar habis-habisan, Dia meminta kepadaku agar menemuinya dua tahun ke depan, namun Aku nekad, kutemui dirinya saat ini juga. Setengah tahun setelah mengenalnya.
Sebelumnya ,memang telah kukabari, Aku akan datang ke kotanya hari ini.
Menjelang malam, dia tidak datang juga. Ya..dia memang tidak akan datang. Sedangkan hujan minta ampun derasnya menembaki tubuhku. Aneh memang…rumah-rumah di kota ini tidak memiliki teras, tidak ada tempat di depan rumah bagiku untuk berteduh dan melindungi diri dari gempuran air hujan. Masuk kedai..mahalnya bukan main, harus ada tiket dengan harga 60.000,00.
Kuputuskan untuk berteduh di bawah pohon akasia saja. Sambil tetap menanti dirinya. Dia memang tidak akan datang menemuiku. Aku yakin itu, tapi aku memiliki tekad kuat, aku harus tetap menanti. Kusandarkan tubuh ini ke batang pohon akasia, lelah, gingin, menggigil, sampai akhrnya aku terlelap dalam impian murahan, mimpi bertemu dengan dirinya.
Cericit emprit menghajar mimpiku. Aku bangun, tubuh tersandar di batang akasia, baju kuyup basah, rambut penuh kotoran. Orang-orang memperhatikanku, melirik dan mengandung tanda tanya di wajahnya. Dari roman muka mereka aku bisa menerka, mereka mengatakan aku orang sinting, gembel, dungu, padahal aku hanyalah tukang dongeng yang tetap setia menanti dirinya.
Mungkin perlu kudatangi juga rumahnya. Sepertinya tidak perlu! Tidak perlu! Dia mengancamku, jangan datang ke rumahnya sebelum batas waktu perjanjian jatuh tempo, dua tahun!!!
Ya…aku setuju… dalam hal ini mungkin aku perlu bersabar….terus menunggu dirinya di bawah pohon akasia meskipun hari demi hari hujan menerjang dan menembaki tubuhku…
Sejenak mataku yang telah kuyu dan sayu melihat, seorang wanita anggun bersahaja berkerudung merah jambu menuntun anak kecil. Di tangannya membawa boneka…ya ampunnn indah betul! Mereka melintas di hadapanku.
” Teh Ela…teh Ela…duduk dulu yuu, di kusri panjang ini!” Ointa si anak kecil.
Ah…seraut wajah itu tidak mungkin kulupakan. Ela! Dia? Namun aku telah lunglai, terlalu lama berbaring di bawah pohon akasia ini. Tidak sanggup diriku melangkah untuk menghampirinya. Aku berbaring dan melirik dirinya sepintas-sepintas.
1,2,3,5…sampai dua tahun yang dijanjikan. Aku menyaksikan dari bawah pohon akasia ini sambil berbaring. Dia, Ela, pujaanku, setiap sore duduk di atas bangku panjang itu ,bisa jadi menunggu diriku, di tangannya selalu setia memegang boneka.
Esoknya, esoknya, esoknya lagi, esok esok esoknya lagi, dia masih tetap setia menanti diriku. Hanya saja…air mata meleleh di pipinya. Ingin aku berteriak, namun…parau sekali suaraku…aku semakin parah di bawah pohon akasia ini.padahal begitu..sealu dekarnya aku dengan dirinya.
Sampai pada akhirnya, satu sore, dia membantingkan boneka ke atas tanah. menangis, tersedak, kemudian lekas pergi..sampai dia tidak pernah muncul-muncul lagi, duduk di atas kursi memanjang itu
untuk "komang" 14 februari
14 februari entah berapa tahun yang lalu tepatnya, masa-masa yang indah awal sebuah percintaan sepasang manusia, 14 ferbruari kamu mengenakan baju garis-garis berbahan katun,baju itu begitu pas menempel dibadanmu. Kulitmu yang hitam memberikan warna sendiri dan menarik hatiku, celana jeans yang tampak usang, namun begitu mewah saat malam itu, sepatu convers yang menjadi andala berpergianmu, dengan tali warna putih. Malam itu kamu tanpak tampan. "Meja no 5 aja aii" ucap kamu, "engga ahh panass aku mau dekat ac aja". " Ya udah tuhh ada kosong satu aii, mau disana" - ku gandeng dia menuju meja tersebut, udara didalam begitu panas sesak dengan mereka yang makan bersama keluarga, pacar dan sahabat tapi tidak bagiku, meskipun keringat ini keluar tak sedikitpun aku merasakan rasa gerah didalam ini.
"Baa baa mau pesen dong"
"Ia mas"
-"aii kamu mau makan apa"
"Aku nasi goreng aja aii, sama es teh manis".
"Baa ini udah"
"Bentar mas"
"150 mas" - ku keluarkan uang 200 ribu dari dompetku, poto kami b2 terpasang manis disisi dompetku, sesekali si mbak melirik kami dan memberikan senyuman simpul pada kamu berdua.
Menghabiskan waktu menunggu makanan, kelakuanmu yang usil dan ga bisa diem itu ngebuat tangan kanan kamu melepuh karena kamu memegang lampu didekat meja kita duduk. "Aduhhh aii panass nii"
"Kamuu ahhh ga bisa diam banget sii udah tau panas dipegang"
Malam itu begitu indah rasanya, detik demi detik berlalu hari semakin malam, aku ga ingat kita nonton apa waktu itu. Tapi yang aku ingat kita pulang naik vario pink dan ban motor kita bocor, meskipun begitu ga ada rasa kesal dalam diriku aku senang mendorong motor itu sampai ditempat tambal ban, meski penuh dengan keringat dan kelelahan. "Aii maaf yaa aku jadi ga enak sama kamu aii" - u said that hehehehe..
Makasih buat "komang"
Kamu masih ingat tagal ultah aku
Kamu masih ingat parfume aku
Kamu masih ingat dompet aku
Kamu masih ingat switer aku
Makasih selalu mengantarkan bubur ayam kekost..
Makasih udah menjaga aku saat aku mabuk dan muntah.
Makasih "komang" sudah pernah hadir dalam hidupku, maafkan aku atas perlakuanku yang lalu..aku senang bisa bertemu kembali setelah sekian lama, aku senang mendengar bunda sehat, aku senang kamu sudah jadi om.
Kulitmu yang membuat aku tertarik "komang"
"Baa baa mau pesen dong"
"Ia mas"
-"aii kamu mau makan apa"
"Aku nasi goreng aja aii, sama es teh manis".
"Baa ini udah"
"Bentar mas"
"150 mas" - ku keluarkan uang 200 ribu dari dompetku, poto kami b2 terpasang manis disisi dompetku, sesekali si mbak melirik kami dan memberikan senyuman simpul pada kamu berdua.
Menghabiskan waktu menunggu makanan, kelakuanmu yang usil dan ga bisa diem itu ngebuat tangan kanan kamu melepuh karena kamu memegang lampu didekat meja kita duduk. "Aduhhh aii panass nii"
"Kamuu ahhh ga bisa diam banget sii udah tau panas dipegang"
Malam itu begitu indah rasanya, detik demi detik berlalu hari semakin malam, aku ga ingat kita nonton apa waktu itu. Tapi yang aku ingat kita pulang naik vario pink dan ban motor kita bocor, meskipun begitu ga ada rasa kesal dalam diriku aku senang mendorong motor itu sampai ditempat tambal ban, meski penuh dengan keringat dan kelelahan. "Aii maaf yaa aku jadi ga enak sama kamu aii" - u said that hehehehe..
Makasih buat "komang"
Kamu masih ingat tagal ultah aku
Kamu masih ingat parfume aku
Kamu masih ingat dompet aku
Kamu masih ingat switer aku
Makasih selalu mengantarkan bubur ayam kekost..
Makasih udah menjaga aku saat aku mabuk dan muntah.
Makasih "komang" sudah pernah hadir dalam hidupku, maafkan aku atas perlakuanku yang lalu..aku senang bisa bertemu kembali setelah sekian lama, aku senang mendengar bunda sehat, aku senang kamu sudah jadi om.
Kulitmu yang membuat aku tertarik "komang"
Monday, 10 January 2011
romansa BUSWAY
"Yang Kali deres jangan masuk dulu. Harmoni ... harmoni ... " Lelaki berseragam merah lada itu tampak semakin beringas bagiku. Bayangkan saja. Kulitnya yang hitam legam dengan dibalut seragam merah lada membuat siapa saja yang melihat akan berpendapat sama denganku. ia seperti dendeng yang habis disengai di tengah panasnya matahari waktu lohor. Tapi bila dicoba dilihat lebih teliti. Ya, mungkin sediakan saja sedikit waktu barang 10 detik ternyata muka dendeng itu punya senyum yang bagus. Seolah minum air kelapa muda dingin waktu buka puasa yang hari pertama Ramadhan. Sejuk, manis, menyegarkan. Mungkin itulah senyum yang berasal dari hati. Tulus, tanpa ada campur tangan negatif otak yang berkedok logika yang meyesatkan. Mungkin ini yang disebut bekerja dengan hati. Dari performance saja sudah terlihat kecuali orang katarak atau orang yang pura-pura katarak.
Tangannya menghadang antrian penumpang kalideres yang ingin menyerbu masuk ke dalam busway jurusan Harmoni. Ini bukan bis kalian, sabar, nanti juga datang, jangan mempersulit saya, antri saja dengan tenang. Mungkin itulah yang ada dalam otak lelaki dendeng itu. Bagiku menyelip antrian adalah sebuah pelanggaran hukum sekaligus pelanggaran agama. Pelanggaran hukunm karena sudah nyata-nyata tertulis dalam norma kesopanan "Harap Antri" tapi masih dilanggar. Pelanggaran agama karena akan menimbulkan dosa. Orang yang diselip marah, menggerutu, menyumpah-nyumpah dalam hati dan yang paling parah akan memicu pertengkaran. Tapi hari ini pagi ini mau tidak mau aku harus menerobos masuk tidak memedulikan peringatan si dendeng merah lada. Palang tangannnya kukibas. Tak memedulikan tatapan mata sewotnya dibelakangku. Masuk is a must, saat ini detik ini, tak bisa dibantah dan tak terbantah.
Alasan telat, bukan itu kali ini. Masalahnya adalah emotion reason. Alasan nakal yang tidak berlogika. Karena yang kutahu tidak ada logika untuk rasa suka. lebih dari itu semua adalah rasa penasaran yang menggelayut.
Kuingsutkan badan tepat ditiang bus dekat pintu masuk. Mataku mencoba mencari-cari sosok yang selama ini membuat hatiku tidak hanya mencari tapi berkelana. Si Jaket Almamater. Dimanakah dia. bukankah sosok itu tepat dihadapanku tadinya mengantri di jalur yang seharusnya, Harmoni.
Penat mata ini mengitari tiap sudut bus. Aku berhenti tapi tidak menyerah. Bukankah masih ada esok hari. Perjuangan masih berlanjut. BANZAIIIII, ADES san ......
Teeeet .... teeeet .... teeeeeeett. Klakson bus gaban angkuh ini menohok berkali-kali ditelingaku. Seolah membuat anak telinga meloncat keluar dan mencari induk baru. Ada sebuah bis patas yang sengaja memakai jalur yang khusus disediakan untuk bus gaban ini. Woiiiiiii, ini wilayah gue, kau mengotori jalanku saja, dasar bis bau dengan penumpang yang juga bau. Itulah seolah yang ingin disampaikan oleh klakson sialan itu. Lamunanku berserak dengan dalam wujud wajah masam. Kulirik kembali pemandangan yang ada didepan sana. Bis patas berusaha sedikit menepi, tapi tetap saja bus gabanku tidak bisa menginsut ke depan.
Tak sengaja kepalaku mendongak ke arah kiri. Oh my godness, si Jaket Almamater itu ada disana. Persis dihadapanku. Sempat kumerasa dua bola matanya tertuju kepadaku. Menohok kearahku, tepatnya. Aku suka kata menohok untuk mendeskripsikannya. Terkesan tepat sasaran, keras, tajam, nakal, binal tapi punya estetika. Entah bagi orang lain.
Inilah yang kuidam-idamkan sejak lama. Bisa sebus dengan si Jaket Almamater itu. Dan ternyata di langit ketujuh catatan takdir itu ditulis hari ini.
Tak perlulah tahu siapa namanya. Tak perlulah tahu berapa no handphonenya. Apa makanan kesukaannya, hobbynya, tinggal dimana ia, anak keberapa dari berapa bersaudara, punya agama atau tidak. Itu tak penting. Bagiku curriculum vitaenya hanya tercantum satu hal, yaitu jenis kelaminnya. Itupun bila ia tak pernah operasi transgender. Hopefully!!!
"Jadi yang lo mau apa sich, gue jadi bingung?" Itu satu hal yang kudu terlontar dari setiap orang bila mendengar ceritaku ini. Tak jauh beda dengan Lunnad. Itupulalah yang ingin diketahuinya dariku.
"Aku cuma mau satu bis gaban dengan si Jaket Almamater itu. Menutupi rasa penasaran. That's it."
Lunnad mengerutkan keningnya, hampir menembus angka sepuluh kerutan. Fantastis.
"Lain kali?"
"Ga ada lain kali."
Tangannya menghadang antrian penumpang kalideres yang ingin menyerbu masuk ke dalam busway jurusan Harmoni. Ini bukan bis kalian, sabar, nanti juga datang, jangan mempersulit saya, antri saja dengan tenang. Mungkin itulah yang ada dalam otak lelaki dendeng itu. Bagiku menyelip antrian adalah sebuah pelanggaran hukum sekaligus pelanggaran agama. Pelanggaran hukunm karena sudah nyata-nyata tertulis dalam norma kesopanan "Harap Antri" tapi masih dilanggar. Pelanggaran agama karena akan menimbulkan dosa. Orang yang diselip marah, menggerutu, menyumpah-nyumpah dalam hati dan yang paling parah akan memicu pertengkaran. Tapi hari ini pagi ini mau tidak mau aku harus menerobos masuk tidak memedulikan peringatan si dendeng merah lada. Palang tangannnya kukibas. Tak memedulikan tatapan mata sewotnya dibelakangku. Masuk is a must, saat ini detik ini, tak bisa dibantah dan tak terbantah.
Alasan telat, bukan itu kali ini. Masalahnya adalah emotion reason. Alasan nakal yang tidak berlogika. Karena yang kutahu tidak ada logika untuk rasa suka. lebih dari itu semua adalah rasa penasaran yang menggelayut.
Kuingsutkan badan tepat ditiang bus dekat pintu masuk. Mataku mencoba mencari-cari sosok yang selama ini membuat hatiku tidak hanya mencari tapi berkelana. Si Jaket Almamater. Dimanakah dia. bukankah sosok itu tepat dihadapanku tadinya mengantri di jalur yang seharusnya, Harmoni.
Penat mata ini mengitari tiap sudut bus. Aku berhenti tapi tidak menyerah. Bukankah masih ada esok hari. Perjuangan masih berlanjut. BANZAIIIII, ADES san ......
Teeeet .... teeeet .... teeeeeeett. Klakson bus gaban angkuh ini menohok berkali-kali ditelingaku. Seolah membuat anak telinga meloncat keluar dan mencari induk baru. Ada sebuah bis patas yang sengaja memakai jalur yang khusus disediakan untuk bus gaban ini. Woiiiiiii, ini wilayah gue, kau mengotori jalanku saja, dasar bis bau dengan penumpang yang juga bau. Itulah seolah yang ingin disampaikan oleh klakson sialan itu. Lamunanku berserak dengan dalam wujud wajah masam. Kulirik kembali pemandangan yang ada didepan sana. Bis patas berusaha sedikit menepi, tapi tetap saja bus gabanku tidak bisa menginsut ke depan.
Tak sengaja kepalaku mendongak ke arah kiri. Oh my godness, si Jaket Almamater itu ada disana. Persis dihadapanku. Sempat kumerasa dua bola matanya tertuju kepadaku. Menohok kearahku, tepatnya. Aku suka kata menohok untuk mendeskripsikannya. Terkesan tepat sasaran, keras, tajam, nakal, binal tapi punya estetika. Entah bagi orang lain.
Inilah yang kuidam-idamkan sejak lama. Bisa sebus dengan si Jaket Almamater itu. Dan ternyata di langit ketujuh catatan takdir itu ditulis hari ini.
Tak perlulah tahu siapa namanya. Tak perlulah tahu berapa no handphonenya. Apa makanan kesukaannya, hobbynya, tinggal dimana ia, anak keberapa dari berapa bersaudara, punya agama atau tidak. Itu tak penting. Bagiku curriculum vitaenya hanya tercantum satu hal, yaitu jenis kelaminnya. Itupun bila ia tak pernah operasi transgender. Hopefully!!!
"Jadi yang lo mau apa sich, gue jadi bingung?" Itu satu hal yang kudu terlontar dari setiap orang bila mendengar ceritaku ini. Tak jauh beda dengan Lunnad. Itupulalah yang ingin diketahuinya dariku.
"Aku cuma mau satu bis gaban dengan si Jaket Almamater itu. Menutupi rasa penasaran. That's it."
Lunnad mengerutkan keningnya, hampir menembus angka sepuluh kerutan. Fantastis.
"Lain kali?"
"Ga ada lain kali."
memahami apa yang terjadi
Berbicara pengertian antaragama, kita tidak bisa melupakan sosok Karen Armstrong. Mantan biarawati asal Inggris ini dikenal sebagai sarjana yang menulis tentang abrahamic religions (Yahudi, Nasrani dan Islam). Seolah-olah, Armstrong menjadi jembatan pengertian antaragama saat ini. Armstrong adalah penulis yang menjadi perhatian dunia. Lebih dari itu, Armstrong memberikan pemahaman yang baik tentang masalah teologi dan sejarah. Kekuatan buku-bukunya, saya kira, terletak pada perspektif sejarah yang mendalam. Ini dapat dilihat dari keberaniannya memberi judul bukunya History of God (Sejarah Tuhan). Dalam buku itu, dia menguraikan secara panjang lebar, bahwa masalah ketuhanan pada akhirnya adalah perspektif kita mengenai Tuhan. Atau bisa juga disebut sebagai kepercayaan menurut istilah para sufi.
Selain itu, Armstrong menulis dengan cara yang simpatik. Penulisannya tentang Islam misalnya, sangat simpatik. Banyak orang yang sudah membaca karyanya kemudian berkomentar bahwa seharusnya Armstrong lebih kritis lagi. Armstrong malah lebih kritis menulis tentang agama Kristen. Misalnya, ketika ia membahas mengenai sejarah Trinitas. Dengan sangat kritis, dia merujuk uraian sejarah yang dalam sekali mengenai konflik-konflik kepentingan yang ada kala itu. Jadi, membaca buku-buku Armstrong memang membangkitkan kesadaran kita bahwa agama itu ada dalam sejarah. Artinya, agama selalu terlibat dalam pergumulan-pergumulan, berwujud kepentingan-kepentingan, konflik ide, dan lain-lain.
Dalam buku Sejarah Tuhan, dia ingin menegaskan bahwa dewasa ini, kepercayaan mengenai Tuhan personal sudah tidak cocok lagi. Dan itu sebenarnya sudah lama disadari agama Yahudi, Islam, dan Kristen Ortodoks. Lebih kurang, sudah terjadi seribu tahun pergulatan antara para teolog dan para mistikus yang mengkritik Tuhan personal. Namun demikian, di kalangan Kristen Barat kesadaran ini baru muncul belakangan, terutama sejak Nietzcszhe yang mengatakan Tuhan sudah mati (God is death). Sekarang, terjadi perdebatan kembali apakah konsep Tuhan personal itu masih bisa dipertahankan atau tidak.
Tuhan personal adalah penggambaran bahwa Tuhan itu seperti manusia, dalam artian memiliki pribadi. Jadi Tuhan bukan prinsip. Menurut perspektif ini, Tuhan bukan suatu yang berada di balik alam dan meliputi semuanya. Biasanya, lawan Tuhan personal adalah Tuhan yang a-personal atau impersonal. Dalam sejarah, Tuhan yang impersonal ini banyak dibicarakan oleh para sufi. Tuhan para mistikus. Dan Armstrong mengatakan, bahwa masa depan Tuhan adalan persepsi kita tentang Tuhan. Tidak ada masa depan untuk Tuhan yang personal ini. Dia menggambarkan panjang lebar pada bab terakhir bukunya, mengenai prediksi masa depan Tuhan. Menurut dia, sejauh Tuhan masih digambarkan terlalu rasional —sebagaimana dalam teologi selama ini— selama itu pula kepercayaan kita mengenai Tuhan akan mengalami krisis dan selalu dipertanyakan kembali.
Salam sejarah tuhan – Amstrong, kita akan dapatkan, bahwa agama tidak hanya berisi yang tinggi, yang baik, dan luhur atau gambaran yang indah-indah saja tentang agama. Ternyata, agama juga terlibat dalam kekerasan, pembenaran untuk membunuh sesama, bahkan terkadang agama terlibat dalam terorisme. Armstrong menguraikan itu dalam perspektif sejarah yang cukup panjang. Dimulai sejak pemberangusan kelompok Yahudi di Eropa yang diikuti fenomena hijrahnya Yahudi ke kawasan Dinasti Utsmani waktu itu. Mereka menjadi minoritas tertindas. Armstrong membuktikan bahwa agama memiliki potensi penindasan seperti itu. Maka, Armstrong menyimpulkan selama agama tidak memberi perhatian sungguh-sungguh terhadap masalah kemanusiaan, sejauh itu pula agama akan ditinggalkan dan menjadi tidak relevan.
Dalam setiap agama selalu saja ada salah paham dan prasangka atas agama lain, tiga agama (Yahudi, Kristen, Islam) yang bersumber dari bapak monotheis yang sama yaitu Nabi Ibrahim, dalam kenyataan sejarah, justru paling sering terlibat kekerasan. Sebab, tiga agama ini lahir dengan etos profetik, agama kenabian. Ini merupakan penyebab utama kebingungan itu. Tapi, dalam perjalanan sejarah, ada istilah sosiologi yang disebut priestly religion, agama yang bersifat kependetaan. Seiring dengan bertumbuhkembangnya organized religion (agama yang terorganisasi), mulailah ada dogma, penilaian atas yang lain, kategorisasi kesesatan, anggapan kafir, klaim kebenaran (claim of truth), klaim keselamatan (claim of salvation) dan lain-lain.
Pada masa pra-modern, pemikiran tentang keabsahan yang lain, dan kemungkinan adanya persamaan jalan, menuju ketuhanan belum ada. Ini yang menjadi gagasan-gagasan pluralisme. Pluralisme merupakan gagasan yang sangat baru. Demikian juga paham toleransi. Dalam sejarah Eropa, toleransi baru muncul seiring dengan keinginan untuk menciptakan kehidupan harmonis antara orang-orang kristen. Ini baru muncul belakangan saja.
Konsep ketuhanan Armstrong yang rumit bisa menggiring pada atheisme dan tidak perlu khawatir akan menjadi atheis. dengan membaca Armstrong justeru akan menambah keimanan. demikian juga Berperang Demi Tuhan – Amstrong, mungkin akan timbul kesan lain lagi. Dari buku itu, kita akan merasakan banyaknya bahaya yang muncul bila agama terlibat dalam kepentingan-kepentingan, politik dan kekerasan. Hemat saya, buku Sejarah Tuhan jangan dibaca sebagai buku teologi, namun lebih sebagai buku sejarah. Dalam buku itu, kita akan mendapat banyak cerita tentang pencarian Tuhan. Contohnya, bagaimana orang Yahudi mencari Tuhan. Jadi dari situ, kira-kira tergambar bahwa konsep ketuhanan itu berevolusi.
Dapat dikatakan bahwa pemahaman terhadap Tuhan itu bersifat gradual karena akan selalu ada pencarian dan perkembangan. konsep ini juga bisa diterima dari sudut pandang Islam. Jadi bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ada kontinuitas, atau kelanjutan dari nabi sebelumnya, dan ada juga perkembangan (development). Dari sini, kita akan melihat pendekatan lain, yaitu sejarah. Armstrong lagi-lagi berpesan, selagi kita ingin menggambarkan Tuhan secara rasional dan jelas, kita akan gagal total.
Tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa dirumuskan sepenuhnya melalui rasio manusia hal tersebut benar adanya tapi manusia juga ingin berbicara mengenai Tuhan. Lalu bagaimana caranya? Manusia berbicara dengan menggunakan metafor ataupun analogi. Lantas, bila manusia tetap ingin menjelaskan Tuhan secara gamblang, dia akan terjerembab ke dalam antroposentrisme. Menurut Armstrong, Tuhan yang kita bicarakan itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya, tapi Tuhan dalam konsep kita. Dan perlu diingat, banyak konsep tentang Tuhan.
Bahwa pemahaman tentang Tuhan itu berevolusi. Sementara, umat beragama menganggap konsep ketuhanan yang mereka dapatkan dari nenek moyang mereka, jatuh begitu saja ke bumi tanpa proses. Inilah yang perlu kita pelajari dari Armstrong. Dia berusaha mengadakan kritik terhadap teologi. Dia juga mengevaluasi konsep-konsep teologi dalam perkembangan sejarahnya. Ini yang menarik,paling tidak, menjadi pelajaran bagi umat beragama bahwa agama bukan hanya indah tapi juga ada sejarahnya, konteksnya dan selalu berkembang dan juga berubah.
Memang konsep ketuhanan yang mandek bisa memunculkan klaim-klaim kebenaran. Gawatnya lagi, bila muncul pemahaman bahwa kita berbeda sehingga kita berhak untuk mendiskriminasi pemahaman ketuhanan orang lain. Dalam sejarah selalu ada yang begitu. Kalau kita amati, selalu ada doktrin bahwa jalan selamat hanya ada pada agama saya. Semua agama punya masalah seperti itu. Kalau kembalikan ke Alquran sebetulnya masalahnya menjadi mudah. Pada dasarnya, semua agama punya Tuhan yang satu dan sama. Perbedaannya, kata Alquran, terletak pada syariat, menyangkut tata cara ibadah dan lain-lain.
Pada hakikatnya, punya esensi yang sama. Karena itu, yang terpenting dewasa ini bukanlah perdebatan teologis, tapi lebih menyangkut apa makna agama untuk kehidupan. Ini yang lebih penting. Maka dari itu, Armstrong mengaitkan pentingnya relasi agama dengan kemanusiaan. Sejauh agama terlalu strike dalam menggambarkan teologi dan tidak peduli dengan masalah-masalah kemanusiaan, selama itu pula agama akan mengalami krisis. Itulah yang terjadi di kalangan fundamentalis.
Perlu adanya etos untuk belajar agama-agama lain, hal ini menyangkut problem pendidikan keagamaan kita. Guru-guru agama tidak terlatih untuk menerima dan belajar dari pemeluk agama lain. Sebetulnya, ini kembali pada kita. Kitab suci justru memberikan dorongan untuk itu, tapi belum diaktualkan. Ini yang perlu kita pelajari dari dunia modern sekarang. Bahwa pluralisme menjadi sesuatu yang tidak bisa ditolak lagi, sebab ada komunikasi dan revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih mudah dijangkau. Contohnya, kita bisa mengerti tentang agama lain dari Armstrong. Jadi tidak masanya lagi kita menganggap yang lain sesat, misalnya. Perlu ada keterbukaan.
im think and i see
ini hanya pikiran dan opini hasil perdebatan saya denga realita yang ada jika ada yang kurang berkena mohon maaf
Sebagian orang di dunia ini mendukung, meyakini dan menjalani kebenaran eksistensi agama, tetapi sebagian yang lain ada yang mengajukan keberatan-keberatan akan eksistensi agama. Di antara teori-teori yang mengajukan keberatan atas eksistensi Tuhan secara khusus dan agama secara umum datang dari teori sosiologi (seperti Emile Durkheim), teori psikologi (seperti Sigmund Freud), filsafat (seperti positivisme Auguste Comte dan materialisme historis Karl Marx, dan eksistensialisme ateistik Nietzsche dan Sartre). Deskripsikan secara singkat-padat-jelas keberatan-keberatan mereka, dan tunjukkan konter argumentatif penolakan saudara atas keberatan tersebut!
Asumsi awal saya menyatakan bahwa keberatan Durkheim, Freud, Comte, Marx, Nietzsche dan Sartre atas eksistensi agama/Tuhan, sangat dipengaruhi oleh konteks keadaan dan relasi antara masyarakat dan agama yang mereka hadapi pada saat mereka hidup. Kalau Harun Yahya, dalam berbagai kampanyenya melalui buku dan vcd, seringkali menuduh pemikiran mereka terlalu dipengaruhi oleh cara berpikir Darwinian, yang tak jauh-jauh dari teori evolusinya yang berkarakter materialisme. Boleh dibilang, “kaum atheistik” itu dalam pandangan Harun Yahya berpijak pada asumsi dan nalar positivistik dan empirisisme-logis. Tapi saya kira tuduhan Harun Yahya terlalu simplistis dan tergesa-gesa.
Sebagai seorang sosiolog, Emile Durkheim memaknai agama (religion) sama sekali bukan sebagai seperangkat ide-ide, nilai atau pengalaman yang terpisah dari matrik kultural. Bahkan, katanya, beberapa kepercayaan, adat istiadat atau ritus-ritus keagamaan tidak dapat difahami kecuali dengan matrik kultural tersebut. Durkheim malah yakin bahwa masyarakat itu sendiri sudah cukup sebagai faktor penting bagi rasa berkebutuhan dalam jiwa. Agama revelasi, bagi Durkheim, adalah nonsens. Agama, sebagaimana fenomena sosial lainnya, adalah gejala sosial budaya masyarakat manusia belaka, yang lahir secara alamiah dari rahim historis masyarakat yang membutuhkannya, sesuai dengan perkembang-biakan sosio-kultur kehidupannya.
Lain halnya Freud, yang memandang agama sebagai faktor kekuatan kejiwaan manusia ketimbang faktor sosial dan intelektual. Melalui konsep psikologi positivistiknya (atau lebih kita kenal psikoanalisa), ia sampai pada kesimpulan bahwa kepercayaan manusia terhadap agama/Tuhan, tidak lebih dari pelarian belaka dari sakit mental manusia yang ia sebut pseudoneuroistik. Ini yang ditentang oleh Carl Gustav Jung. Berbeda dengan Freud, Jung memiliki sikap positif terhadap agama. Dia menganggap bahwa substansi agama merupakan kesehatan mental manusia, dan menganggapnya sebagai salah satu unsur alamiah kehidupan manusia.
Auguste Comte lain lagi ceritanya. Sebenarnya ia tidak menyangsikan keberadaan agama dan Tuhan. Tetapi dalam pandangannya, yang seringkali disebut sebagai humanisme sekuler, agama dan Tuhan yang ia pahami tidak identik sama dengan agama dan Tuhan-nya orang-orang ber”agama”. Humanisme sekuler-nya Comte meniscayakan manusia sebagai poros kosmos dari hakikat kehidupan. Humanisme sekuler adalah suatu system etika (ethical system) yang mengukuhkan dan mengagungkan nilai-nilai humanis, seperti toleransi, kasih sayang, kehormatan tanpa adanya ketergantungan pada akidah-akidah dan ajaran-ajaran agama. Singkatnya, agama Comte adalah humanisme, dan Tuhannya adalah nlai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Boleh jadi pandangan Comte ini senada dengan Bertrand Russel dan Schiller yang mengusung gagasan serupa.
Karl Marx lebih bertitik tolak dari realitas masyarakat pada masanya. Adagium populernya bahwa ‘agama itu candu’ tidak bisa dilepaskan dari konteks relasi masyarakat dan agama pada masa itu di tempat Marx hidup. Eusta Supono secara lugas mengupas kritik hebat Marx terhadap agama itu dalam bukunya. Menurutnya, realitas agama pada masa Marx tidak lebih dari alat legitimasi kekuatan ekonomi-politik. Pesan-pesan dan statemen keagamaan lebih sebagai fasilitator bagi kepentingan ekonomi dan politik penguasa, yang berimplikasi pada semakin lebarnya jurang kelas sosial. Penindasan dan pembodohan atas manusia sub-kultur/sub-ordinat (kelas bawah: buruh, budak, dsb) entah secara sadar atau tak sadar dilestarikan justru oleh dogma, doktrin, ajaran dan hukum agama. Agama tidak lagi menjadi bagian dari pembebasan manusia, tapi justru memenjarakannya dalam keterpurukan dan ketertindasan.
Karl Marx lebih bertitik tolak dari realitas masyarakat pada masanya. Adagium populernya bahwa ‘agama itu candu’ tidak bisa dilepaskan dari konteks relasi masyarakat dan agama pada masa itu di tempat Marx hidup. Eusta Supono secara lugas mengupas kritik hebat Marx terhadap agama itu dalam bukunya. Menurutnya, realitas agama pada masa Marx tidak lebih dari alat legitimasi kekuatan ekonomi-politik. Pesan-pesan dan statemen keagamaan lebih sebagai fasilitator bagi kepentingan ekonomi dan politik penguasa, yang berimplikasi pada semakin lebarnya jurang kelas sosial. Penindasan dan pembodohan atas manusia sub-kultur/sub-ordinat (kelas bawah: buruh, budak, dsb) entah secara sadar atau tak sadar dilestarikan justru oleh dogma, doktrin, ajaran dan hukum agama. Agama tidak lagi menjadi bagian dari pembebasan manusia, tapi justru memenjarakannya dalam keterpurukan dan ketertindasan.
Terhadap situasi demikianlah Marx menggugat. “Tidak ada alasan apapun bagi siapapun ketika menganut agama kecuali karena penderitaan dan penindasan,” Kata Marx. Agama muncul dalam pikiran manusia secara spontan dalam bentuk disonansi (rengekan manja kaum tertindas). Karenanya, agama adalah candu masyarakat, yang hanya menjanjikan pengharapan semu, memberikan penghiburan sesaat, tetapi tidak kunjung melenyapkan penderitaan masyarakat. Agama hanya sebagai pelarian utopis manusia dari derita kekalahan hidupnya semata. Agama hanya menjadikan manusia teralienasi dari kemanusiaannya sendiri. Dan lebih celakanya lagi, agama menurut Marx hanya melayani kepentingan kelas dominan (i.e. kapitalis-borjuis). Karenanya, bagi Marx, agama hanya menawarkan ilusi, bukan solusi!
Lalu Nietzsche dan Sartre, dalam pandangan eksistensialismenya, konon ‘atheistik’ karena menegasikan kehadiran Tuhan. Nietszche adalah seorang ‘nabi’ yang membawa pekabaran tentang kematian Tuhan. Bagi Nietzsche, Tuhan yang dipahami kaum beragama (dalam hal ini Kristen) bukanlah penyempurna manusia, tapi justru penghalang bagi kesempurnaan manusia. Tuhan bukan pembebas, tapi pemberi sanksi bagi manusia. Tuhan semacam itu bagi Nietzsche membuat manusia terasing dan terlempar dari dirinya sendiri. Tuhan yang sewenang-wenang terhadap manusia adalah Tuhan yang patut dibenci. Karena itulah Tuhan semacam itu harus ditiadakan, dibunuh! “Got is Tot,” kata Nietzsche. Dalam Geneologi Moral-nya, Nietzsche kemudian mengkritik agama yang cenderung destruktif, eksklusif, dan afirmatif terhadap tindak kekerasan umatnya. Agama pula yang melahirkan kelas biasa dan kelas terpilih, yang kudus dan yang awam (profan), yang implikasinya pada adanya hak istimewa bagi yang kudus, dan sebaliknya penghapusan hak bagi yang awam.
Sementara Sartre beranggapan bahwa Tuhan adalah imajinasi manusia atas realitas super power yang absolut. Rasa ketergantungan manusia terhadap alamlah yang menyebabkannya. Mungkin mirip Feurbach yang menyatakan bahwa Tuhan itu bukanlah eksistensi objektif yang lepas dari kesadaran manusia. Melalui konsep alienasi Hegel, Feurbach menyatakan bahwa sesungguhnya manusia mengasingkan diri dari hakikatnya sendiri kala ia memproyeksikan sesuatu yang disebut Tuhan. Bagi Feurbach, Tuhan hanyalah perwujudan dan personifikasi transenden dari dambaan yang imanen, yang ada pada pikiran manusia. Secara singkat, Tuhan bagi Feurbach, dan juga Sartre, adalah ciptaan manusia, dan bukan sebaliknya. Teologi, bagi keduanya, adalah antropologi. Karena yang real adalah manusia, bukan Tuhan.
Nah, kembali ke asumsi awal saya tadi, bahwa kritik “para tokoh abad ini” itu selalu bertitik tolak pada fakta, fenomena dan realitas sosial yang ada. Dan entah kebetulan atau tidak, mereka hidup dalam tradisi keberagamaan Kristen. Apa yang Pak Alim maksud sebagai “keberatan mereka atas eksistensi agama/Tuhan” itu kalau boleh kemudian saya interpretasikan, dari apa yang saya urai di atas, sebagai “keberatan mereka atas peran agama/Tuhan yang tidak ideal”. Maksudnya, ada semacam kesenjangan antara “agama yang seharusnya” dengan “agama yang terjadi/yang tampak”. Agama, yang semestinya membebaskan, malah justru membelenggu manusia. Kalau boleh saya bilang, para tokoh itu termasuk mereka yang concern dalam narasi besar humanisme. Sementara, agama (dan juga Tuhan) yang ditemui para tokoh itu dalam kehidupan mereka tidaklah mencerminkan citra idealnya dalam upaya ‘memanusiakan manusia’. Malah sebaliknya, agama yang hadir di hadapan mereka justru menghilangkan identitas kemanusiaan manusia itu sendiri.
Memang, kritik Durkheim, Freud, Marx, dan kawan-kawan itu, menurut saya tidak pada keseluruhan bangunan agama itu sendiri. Ada banyak dimensi agama yang tidak tersentuh oleh para kritikus itu. Mereka mengkritik agama pada tataran penampakannya saja, tapi jauh dari esensi terdalam dari agama yang sesungguhnya. Dan bahkan menurut saya mereka sesungguhnya tidak mengkritik substansi dan ajaran agama, tapi lebih tepatnya pada sikap keberagamaan masyarakat itu sendiri. Saya tidak tahu persis, tapi saya kira ada sangat banyak perbedaan antara agama Islam dan agama Kristen –dimana para kritikus itu hidup. Integralitas Islam dalam membidik berbagai dimensi kehidupan manusia mungkin saja tidak terakomodir dengan baik dalam agama Kristen. Sehingga, yang muncul ke permukaan hanyalah entitas keberimanan belaka, tanpa implikasi dan konsekwensi logis bagi tatanan kehidupan. Tapi toch saya tidak bisa juga mengandaikan Durkheim, Nietzsche dan kawan-kawan itu hidup di komunitas muslim, lantas membayangkan gagasan apa yang akan mereka lahirkan. Tapi yang jelas, dalam masanya, dunia Kristen tumbuh berkembang dalam ortodoksi, dogmatisme, dan kejumudan. Fungsi akal manusia dalam merasionalisasi agama dibuntukan sedemikian rupa. Agama tidak bertumpu pada rasionalitas, melainkan pada iman, percaya penuh, bahkan membabi buta. Iman dipahami sebagai suatu bentuk keyakinan batiniyah yang irasional, mistis, dan tak usah dinalar. Di samping itu, peran penguasa yang menjadikan institusi gereja sebagai alat pelanggengan kekuasaan semakin memperparah keadaan. Upaya umat untuk melakukan koreksi, kritik, dan sejenisnya terhadap agama ditekan habis oleh institusi agama semacam gereja, dan dibekingi oleh penguasa. Ulama dan penguasa menjadi otoritas mutlak penafsir agama, bahkan mengklaim sebagai wakil Tuhan di bumi.
Dalam jawaban ini saya tidak hendak melakukan konter argumen atas ‘keberatan’ mereka, tetapi malah lebih mengapresiasi “spirit ijtihad” dari kritik yang dilakukan oleh Nietzsche dan kawan-kawan atas kebekuan dan kejumudan itu. Mereka berupaya menguak kebobrokan dan kejahiliyahan umat dalam beragama. Mungkin kita sudak kadung apriori dalam mengkaji pemikiran mereka. Kita sudah kadung membentuk stereotip, judgement, dan eksekusi final bahwa mereka ateis dan anti agama. Padahal, jika dikaji lebih jauh, tidak bisa serta merta kita memberikan kesimpulan final seperti itu. Boleh jadi, “agama/Tuhan yang mereka pahami” tidak sama persis dengan “agama/Tuhan yang kita pahami” (Karenanya saya sampai saat ini tidak paham persis dengan definisi umum “ateis” atau “tak beragama” itu). Tapi upaya memposisikan manusia sebagai subjek sadar (fa’il) dalam beragama dan berketuhanan itu saya kira mesti diapresiasi.
Friedriech Nietzshe, misalnya, dalam Geneologi Moral, menyatakan bahwa agama yang konkret adalah agama dengan para pemeluknya, ajaran-ajarannya, ritus dan tradisinya, organisasi dan lembaganya. Agama adalah integralitas (keseluruhan) norma dan pranata yang ada di dalamnya. Satu sama lain tidak dapat dipisahkan ataupun didikotomikan. Tujuan pokok semua agama adalah memerangi hilangnya semangat hidup, memerangi semacam keputusasaan yang epidemik dari sejarah manusia. Adapun berita duka tentang kematian Tuhan yang ia bawa, menurut De Lubac, justru diperlukan bagi teologi untuk mengorientasikan diri secara baru. Tuhan yang dibenci Nietzsche adalah Tuhan yang sewenang-wenang terhadap manusia, yang menganugerahi manusia dengan berbagai pembatasan kemanusiaannya (misalnya, dosa asal). Manusia harus membebaskan diri dari ilusi dunia metafisik di seberang sana. Manusia harus bergembira dalam keberadaannya di dunia ini, tidak dunia imaji yang masih konon, yang secara sederhana kita sebut surga atau neraka. Kita hidup bukan nanti, tapi sekarang.
Saya kira, Marx memiliki visi yang senalar dengan Nietzsche, dengan kontentuasi dan kontekstualisasi yang berbeda. Demikian pula Freud, Durkheim, dan kawan-kawannya itu. Entah apa yang terjadi jika mereka hidup dalam dunia Islam….
Friedriech Nietzshe, misalnya, dalam Geneologi Moral, menyatakan bahwa agama yang konkret adalah agama dengan para pemeluknya, ajaran-ajarannya, ritus dan tradisinya, organisasi dan lembaganya. Agama adalah integralitas (keseluruhan) norma dan pranata yang ada di dalamnya. Satu sama lain tidak dapat dipisahkan ataupun didikotomikan. Tujuan pokok semua agama adalah memerangi hilangnya semangat hidup, memerangi semacam keputusasaan yang epidemik dari sejarah manusia. Adapun berita duka tentang kematian Tuhan yang ia bawa, menurut De Lubac, justru diperlukan bagi teologi untuk mengorientasikan diri secara baru. Tuhan yang dibenci Nietzsche adalah Tuhan yang sewenang-wenang terhadap manusia, yang menganugerahi manusia dengan berbagai pembatasan kemanusiaannya (misalnya, dosa asal). Manusia harus membebaskan diri dari ilusi dunia metafisik di seberang sana. Manusia harus bergembira dalam keberadaannya di dunia ini, tidak dunia imaji yang masih konon, yang secara sederhana kita sebut surga atau neraka. Kita hidup bukan nanti, tapi sekarang.
Saya kira, Marx memiliki visi yang senalar dengan Nietzsche, dengan kontentuasi dan kontekstualisasi yang berbeda. Demikian pula Freud, Durkheim, dan kawan-kawannya itu. Entah apa yang terjadi jika mereka hidup dalam dunia Islam….
Sunday, 9 January 2011
hindu kaharingan
Penduduk asli Pulau Kalimantan adalah Suku Dayak. Mereka terbagi dalam 405 sub suku, yang masing-masing mempunyai bahasa dan adat-istiadat sendiri-sendiri. Dan ratusan subsuku Dayak tersebut, Ch.F.H. Dumani membagi Suku Dayak dalam 7 kelompok, yaitu Ngaju, Apu, Kayan, Iban, Klemantan (Darat), Murut, Punan, dan Danum. Sedangkan Tjilik Riwut juga membagi dalam 7 kelompok, tetapi sedikit berbeda dengan Ch.F.H. Duman, yaitu:
1) Dayak Kayan, yang daerah persebaraniniya meliputi Kabupaten Bulungan di Kalimantan Timur dan Serawak di Malaysia;
2) Dayak Punan, yang daerah persebarannya meliputi Kabupaten Berau dan Kutai di Kalimantan Timur;
3) Dayak Iban, yang daerah persebarannya meliputi Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat dan Serawak di Malaysia;
4) Dayak Ot Danum, yang daerah persebarannya meliputi bagian besar Kalimantan Tengah;
5) Dayak Klemantan, yang daerah persebarannya mehiputi Kahimantan Barat bagian selatan;
6) Dayak Ngaju, yang daerah persebarannya mehiputi Kahimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bagian Tengah;
7) Dayak Kenyah, yang daerah persebarannya meliputi Hulu Sungai Belanyan dan Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur.
Sebelum datangnya agama-agama tradisi besar dan resmi diakui oleh pemerintah Indonesia, masyarakat Dayak telah memiliki kepercayaan sendiri, yang disebut Kaharingan. Kepercayaan Kaharingan memuat aturan-aturan kehidupan yang nilai-nilai dan isinya bukan hanya sekedar adat-istiadat, tetapi juga ajaran untuk berperilaku. Kepercayaan Kaharingan ini tidak memiliki kitab suci dan ajarannya hanya disampaikan secara lisan dan turun-temurun. Menurut kepercayaan Kaharingan, masyarakat Dayak mempercayai banyak dewa di sekitar mereka, seperti dewa-dewa yang menguasai tanah, sungai, pohon, batu, dan sebagainya. Dari dewa-dewa tersebut, terdapat dewa yang tertinggi, yang sebutannya berbeda-beda antara Sub suku Dayak satu dengan yang lainnya, misalnya Dayak Ot Danum menyebut dewa yang tertinggi Mahatara, sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya Ranying Mahatalla Langit. Setiap orang yang akan melakukan sesuatu pekerjaan harus meminta ijin terhadap dewa-dewa yang bersangkutan agar tidak terjadi bencana, kesialan, sakit, dan sebagainya. Orang Dayak juga mengenal isyarat-isyarat alam apabila hendak bepergian jauh, seperti arah terbang burung, suara burung-burung tertentu, ada ular yang melintas di depannya, dan sebagainya. Hal ini bukan karena orang Dayak tidak percaya adanya Tuhan. Mereka percaya adanya Tuhan, tetapi Tuhan tidak berbicara langsung kepada manusia, melainkan dengan perantara alam atau isyarat-isyarat alam tersebut.
1) Dayak Kayan, yang daerah persebaraniniya meliputi Kabupaten Bulungan di Kalimantan Timur dan Serawak di Malaysia;
2) Dayak Punan, yang daerah persebarannya meliputi Kabupaten Berau dan Kutai di Kalimantan Timur;
3) Dayak Iban, yang daerah persebarannya meliputi Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat dan Serawak di Malaysia;
4) Dayak Ot Danum, yang daerah persebarannya meliputi bagian besar Kalimantan Tengah;
5) Dayak Klemantan, yang daerah persebarannya mehiputi Kahimantan Barat bagian selatan;
6) Dayak Ngaju, yang daerah persebarannya mehiputi Kahimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bagian Tengah;
7) Dayak Kenyah, yang daerah persebarannya meliputi Hulu Sungai Belanyan dan Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur.
Sebelum datangnya agama-agama tradisi besar dan resmi diakui oleh pemerintah Indonesia, masyarakat Dayak telah memiliki kepercayaan sendiri, yang disebut Kaharingan. Kepercayaan Kaharingan memuat aturan-aturan kehidupan yang nilai-nilai dan isinya bukan hanya sekedar adat-istiadat, tetapi juga ajaran untuk berperilaku. Kepercayaan Kaharingan ini tidak memiliki kitab suci dan ajarannya hanya disampaikan secara lisan dan turun-temurun. Menurut kepercayaan Kaharingan, masyarakat Dayak mempercayai banyak dewa di sekitar mereka, seperti dewa-dewa yang menguasai tanah, sungai, pohon, batu, dan sebagainya. Dari dewa-dewa tersebut, terdapat dewa yang tertinggi, yang sebutannya berbeda-beda antara Sub suku Dayak satu dengan yang lainnya, misalnya Dayak Ot Danum menyebut dewa yang tertinggi Mahatara, sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya Ranying Mahatalla Langit. Setiap orang yang akan melakukan sesuatu pekerjaan harus meminta ijin terhadap dewa-dewa yang bersangkutan agar tidak terjadi bencana, kesialan, sakit, dan sebagainya. Orang Dayak juga mengenal isyarat-isyarat alam apabila hendak bepergian jauh, seperti arah terbang burung, suara burung-burung tertentu, ada ular yang melintas di depannya, dan sebagainya. Hal ini bukan karena orang Dayak tidak percaya adanya Tuhan. Mereka percaya adanya Tuhan, tetapi Tuhan tidak berbicara langsung kepada manusia, melainkan dengan perantara alam atau isyarat-isyarat alam tersebut.
Suku Dayak sangat terbuka dengan pengaruh budaya luar, termasuk di antaranya kehadiran agama-agama tradisi besar. Dengan keterbukaannya tersebut, maka dimanfaatkan oleh kaum misionaris untuk menyebarkan agamanya. Islam telah masuk ke Kalimantan sejak abad ke-13, dibawa oleh kaum pendatang yang berasal dari daerah lain, seperti Jawa, Melayu, Bugis, dan sebagainya. Suku Dayak yang tinggal di daerah pesisir dan banyak berhubungan dengan para pendatang dari suku-suku lain, banyak yang kemudian memeluk agama Islam. Sedangkan kegiatan misionaris agama Kristen Katholik dan Kristen Protestan telah masuk ke pedalaman Kalimantan dan berjalan dengan gencar sejak abad ke-19. Dalam upaya Kristenisasi dan Katholikisasi terhadap Suku Dayak di pedalaman, mereka banyak menggunakan media pelayanan sosial, seperti bantuan pendidikan, bantuan ekonomi, dan pelayanan kesehatan. Upaya penyebaran agama-agama tradisi besar ini cukup berhasil, terutama dalam merekrut generasi mudanya sehingga pada saat ini sebagian besar generasi muda Dayak telah memeluk agama Islam, Kristen, maupun Katholik. Akan tetapi sebagian dari mereka tetap bertahan pada kepercayaan Kaharingan.
Kedatangan agama-agama tradisi besar tersebut di atas ternyata juga membawa dampak buruk terhadap kehidupan orang-orang Suku Dayak. Hal ini dikarenakan agama-agama tradisi besar pada umumnya memandang kepercayaan-kepercayaan di luar mereka sebagai sesuatu yang eksotik, salah, dan harus diluruskan sesuai dengan ajaran agama mereka. Seorang Dayak yang sudah menganut Islam akan merasa malu mengakui dirinya sebagai orang Dayak. Ia akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Melayu.
Menurut pandangan mereka, orang Melayu dengan agama Islamnya identik dengan kemajuan dan kemoderenan, sedangkan orang Dayak dengan kepercayaan Kaharingan-nya identik dengan ketertinggalan dan kekolotan. Sementara itu keberadaan agama Kristen dan Katholik juga tidak mendukung pelestarian adat-istiadat dan tradisi Suku Dayak. Banyak upacara Suku Dayak yang berhubungan dengan upacara kematian, pemujaan roh nenek moyang yang telah meninggal, dan pemujaan alam lingkungan yang dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan Katholik, seperti upacara Tewah/Dalo, upacara penolak bala dan sebagainya. Dengan hilangnya upacara-upacara tersebut, hilang pula nilai-nilai dan norma-norma yang terkandung di dalam tatanan masyarakat Dayak, seperti pelestarian hutan, rasa menghargai terhadap semua makhluk hidup yang ada di alam lingkungan, penghormatan terhadap leluhur, dan sebagainya.
Pada jaman Orde Baru pemerintah memberlakukan lima agama besar yang resmi diakui di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu Dharma, dan Budha. Hal ini mengakibatkan kebingungan tersendiri bagi masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan. Di satu pihak mereka harus memilih salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah, sementara di pihak lain ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh para misionanis dan penyebar agama tersebut dianggap tidak dapat mewadahi kepercayaan asli mereka. Pada akhirnya para penganut kepercayaan Kaharingan memilih agama Hindu Dharma sebagai agama resmi mereka karena adanya persamaan mendasar antara keduanya, khususnya dengan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Suku Bali sebagai penganut agama Hindu Dharma mayoritas di Indonesia. Persamaan antara kepercayaan Kaharingan dengan ajaran Hindu Dharma adalah sebagai berikut:
1) Percaya Reinkarnasi, yaitu percaya bahwa roh yang telah meninggal dapat lahir kembali, baik ke dalam tubuh manusia, binatang, tumbuhan, atau bersemayam pada benda-benda mati, misalnya batu besar, pertemuan sungai, puncak-puncak gunung, dan sebagainya.
2) Upacara kematian dan pemujaan terhadap arwah leluhur. Orang-orang Dayak memiliki tradisi yang beraneka ragam dalam memperlakukan jenazah dengan tiga cara, yaitu dikubur di dalam tanah, disemayamkan di atas tanah atau diatas pohon di dalam hutan, dan dikremasi. Sedangkan Dayak Ngaju menguburkan jenazah di dalam tanah terlebih dahulu, setelah beberapa tahun kemudian digali kembali dan tulang-tulangnya dibakar. Upacara ini mempunyai persamaan dengan di Bali, di mana jenazah orang yang meninggal ada yang dikremasi dikubur di dalam tanah, atau disemayamkan di atas tanah. Arwah leluhur yang telah meninggal pada masyarakat Dayak dipercayai bersemayam di puncak-puncak pegunungan atau di hutan-hutan dan mempunyai kekuatan untuk melindungi keturunannya. Sedangkan di Bali arwah leluhur dipuja di mrajan (pura milik keluarga).
3) Upacara yang berkaitan dengan pemujaan kepada lingkungan alam. Lingkungan alam yang paling dekat dengan Suku Dayak adalah lingkungan hutan. Manfaat hutan bagi orang Dayak, antara lain:
a. berkaitan dengan kepercayaan hutan sebagai tempat tinggal dewa penguasa hutan dan arwah nenek moyang yang melindungi manusia.
b. berkaitan dengan sumber mata pencaharian : hutan sebagai sumber kehidupan karena merupakan tempat untuk berburu binatang dan mencari makanan.
Di Bali praktik upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan alam masih berjalan lestari sampai saat ini, seperti upacara Tawur Agung, Panca Wali Krama, Eka Dasa Rudra, dan sebagainya.
Setelah bergabung dengan agama Hindu Dharma, maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu Kaharingan, yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk agama Hindu Dharma. Konsekuensi logis dan bergabungnya mereka ke dalam agama Hindu Dharma adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu Dharma di Indonesia.
Ketika kekuasaan Orde Baru runtuh dan bergulir semangat reformasi, maka timbul perpecahan di antara umat Hindu Kaharingan. Sebagian dari mereka menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma dengan tetap mengakui PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu yang resmi diakui oleh pemerintah. Sebagian lagi menyatakan bahwa Hindu Kaharingan sebagai agama yang berdiri sendiri, terpisah dari agama Hindu Dharma. Pada saat ini mereka tengah memperjuangkan kepada pemerintah agar agama Hindu Kaharingan dapat diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah, sejajar dengan agama-agama lainnya. Mereka juga telah membuat majelis umat tersendiri di luar PHDI. Namun tampaknya juga belum ada kesepakatan bersama dalam membentuk “PHDI Tandingan” ini. Hal ini terlihat dari beberapa nama majelis yang ditawarkan sebagai wadah umat Hindu Kaharingan, antara lain BAKDI (Badan Agama Kaharingan Dayak Indonesia) dan Majelis Hindu Kaharingan.
Dari uraian di atas, dapat diketahui permasalahannya, yaitu mengapa umat Hindu Kaharingan terpecah menjadi dua? Di satu pihak menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma, di lain pihak menginginkan Hindu Kaharingan berdiri sebagai agama tersendiri, lepas dari agama Hindu Dharma, dan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah. Kebijakan apa yang sebaiknya ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini?
Antara umat Hindu Kaharingan yang tetap ingin bergabung dan yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma tersebut tentu memiliki pemahaman yang berbeda mengenai ajaran Hindu Dharma itu sendiri. Pihak yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma menganggap ajaran Hindu Dharma tidak cocok diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Di pihak lain, sebagian dari mereka menganggap ajaran Hindu Dharma cocok dan relevan untuk diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Untuk itu perlu dibahas satu demi satu aspek-aspek ajaran Hindu Dharma yang relevan dengan kepercayaan Kaharingan.
Kedatangan agama-agama tradisi besar tersebut di atas ternyata juga membawa dampak buruk terhadap kehidupan orang-orang Suku Dayak. Hal ini dikarenakan agama-agama tradisi besar pada umumnya memandang kepercayaan-kepercayaan di luar mereka sebagai sesuatu yang eksotik, salah, dan harus diluruskan sesuai dengan ajaran agama mereka. Seorang Dayak yang sudah menganut Islam akan merasa malu mengakui dirinya sebagai orang Dayak. Ia akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Melayu.
Menurut pandangan mereka, orang Melayu dengan agama Islamnya identik dengan kemajuan dan kemoderenan, sedangkan orang Dayak dengan kepercayaan Kaharingan-nya identik dengan ketertinggalan dan kekolotan. Sementara itu keberadaan agama Kristen dan Katholik juga tidak mendukung pelestarian adat-istiadat dan tradisi Suku Dayak. Banyak upacara Suku Dayak yang berhubungan dengan upacara kematian, pemujaan roh nenek moyang yang telah meninggal, dan pemujaan alam lingkungan yang dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan Katholik, seperti upacara Tewah/Dalo, upacara penolak bala dan sebagainya. Dengan hilangnya upacara-upacara tersebut, hilang pula nilai-nilai dan norma-norma yang terkandung di dalam tatanan masyarakat Dayak, seperti pelestarian hutan, rasa menghargai terhadap semua makhluk hidup yang ada di alam lingkungan, penghormatan terhadap leluhur, dan sebagainya.
Pada jaman Orde Baru pemerintah memberlakukan lima agama besar yang resmi diakui di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu Dharma, dan Budha. Hal ini mengakibatkan kebingungan tersendiri bagi masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan. Di satu pihak mereka harus memilih salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah, sementara di pihak lain ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh para misionanis dan penyebar agama tersebut dianggap tidak dapat mewadahi kepercayaan asli mereka. Pada akhirnya para penganut kepercayaan Kaharingan memilih agama Hindu Dharma sebagai agama resmi mereka karena adanya persamaan mendasar antara keduanya, khususnya dengan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Suku Bali sebagai penganut agama Hindu Dharma mayoritas di Indonesia. Persamaan antara kepercayaan Kaharingan dengan ajaran Hindu Dharma adalah sebagai berikut:
1) Percaya Reinkarnasi, yaitu percaya bahwa roh yang telah meninggal dapat lahir kembali, baik ke dalam tubuh manusia, binatang, tumbuhan, atau bersemayam pada benda-benda mati, misalnya batu besar, pertemuan sungai, puncak-puncak gunung, dan sebagainya.
2) Upacara kematian dan pemujaan terhadap arwah leluhur. Orang-orang Dayak memiliki tradisi yang beraneka ragam dalam memperlakukan jenazah dengan tiga cara, yaitu dikubur di dalam tanah, disemayamkan di atas tanah atau diatas pohon di dalam hutan, dan dikremasi. Sedangkan Dayak Ngaju menguburkan jenazah di dalam tanah terlebih dahulu, setelah beberapa tahun kemudian digali kembali dan tulang-tulangnya dibakar. Upacara ini mempunyai persamaan dengan di Bali, di mana jenazah orang yang meninggal ada yang dikremasi dikubur di dalam tanah, atau disemayamkan di atas tanah. Arwah leluhur yang telah meninggal pada masyarakat Dayak dipercayai bersemayam di puncak-puncak pegunungan atau di hutan-hutan dan mempunyai kekuatan untuk melindungi keturunannya. Sedangkan di Bali arwah leluhur dipuja di mrajan (pura milik keluarga).
3) Upacara yang berkaitan dengan pemujaan kepada lingkungan alam. Lingkungan alam yang paling dekat dengan Suku Dayak adalah lingkungan hutan. Manfaat hutan bagi orang Dayak, antara lain:
a. berkaitan dengan kepercayaan hutan sebagai tempat tinggal dewa penguasa hutan dan arwah nenek moyang yang melindungi manusia.
b. berkaitan dengan sumber mata pencaharian : hutan sebagai sumber kehidupan karena merupakan tempat untuk berburu binatang dan mencari makanan.
Di Bali praktik upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan alam masih berjalan lestari sampai saat ini, seperti upacara Tawur Agung, Panca Wali Krama, Eka Dasa Rudra, dan sebagainya.
Setelah bergabung dengan agama Hindu Dharma, maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu Kaharingan, yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk agama Hindu Dharma. Konsekuensi logis dan bergabungnya mereka ke dalam agama Hindu Dharma adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu Dharma di Indonesia.
Ketika kekuasaan Orde Baru runtuh dan bergulir semangat reformasi, maka timbul perpecahan di antara umat Hindu Kaharingan. Sebagian dari mereka menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma dengan tetap mengakui PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu yang resmi diakui oleh pemerintah. Sebagian lagi menyatakan bahwa Hindu Kaharingan sebagai agama yang berdiri sendiri, terpisah dari agama Hindu Dharma. Pada saat ini mereka tengah memperjuangkan kepada pemerintah agar agama Hindu Kaharingan dapat diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah, sejajar dengan agama-agama lainnya. Mereka juga telah membuat majelis umat tersendiri di luar PHDI. Namun tampaknya juga belum ada kesepakatan bersama dalam membentuk “PHDI Tandingan” ini. Hal ini terlihat dari beberapa nama majelis yang ditawarkan sebagai wadah umat Hindu Kaharingan, antara lain BAKDI (Badan Agama Kaharingan Dayak Indonesia) dan Majelis Hindu Kaharingan.
Dari uraian di atas, dapat diketahui permasalahannya, yaitu mengapa umat Hindu Kaharingan terpecah menjadi dua? Di satu pihak menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma, di lain pihak menginginkan Hindu Kaharingan berdiri sebagai agama tersendiri, lepas dari agama Hindu Dharma, dan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah. Kebijakan apa yang sebaiknya ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini?
Antara umat Hindu Kaharingan yang tetap ingin bergabung dan yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma tersebut tentu memiliki pemahaman yang berbeda mengenai ajaran Hindu Dharma itu sendiri. Pihak yang ingin keluar dari agama Hindu Dharma menganggap ajaran Hindu Dharma tidak cocok diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Di pihak lain, sebagian dari mereka menganggap ajaran Hindu Dharma cocok dan relevan untuk diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Untuk itu perlu dibahas satu demi satu aspek-aspek ajaran Hindu Dharma yang relevan dengan kepercayaan Kaharingan.
1. Konsep-Konsep Upacara dalam Ajaran Hindu Dharma
Di dalam ajaran agama Hindu Dharma, upacara-upacara keagamaan terbagi dalam lima kelompok besar, atau sering disebut dengan Panca Yadnya. Kelima kelompok hesar tersebut adalah:
a) Dewa Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada Tuhan beserta seluruh manifestasinya (perwujudan Tuhan dalam bentuk dewa-dewa);
b) Rsi Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada para rsi, pandita, nabi atau kaum ulama, karena berjasa sebagai perantara dalam menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhan dan untuk memberikan ajaranajaran suci kepada manusia.
c) Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada para leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebagai perantara kelahiran manusia
d) Manusa Yadnya, yaitu upacara yang berkaitan dengan daur hidup manusia, seperti kehamilan, kelahiran, perkawinan, dan kematian.
e) Bhuta Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk menjalin keharmonisan dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta, seperti gunung, laut, sungai, dan sebagainya. Termasuk pula di dalamnya kehidupan yang lebih rendah dan manusia, yaitu makhluk halus, binatang dan tumbuhan.
Di samping konsep Panca Yadnya, ajaran Hindu Dharma juga mengenal konsep Tri Hita Karana, yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Upacara adalah sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan elemen-elemen yang ada di dalam Tri Hita Karana tersebut. Dalam hal ini upacara Dewa Yadnya adalah untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan; upacara Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan manusia; sedangkan Bhuta Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta. Dengan demikian jenisjenis upacara tradisional pada agamaagama tradisi kecil sebenarnya telah tercakup di dalam konsep Panca Yadnya dan Tri Hita Karana.
Di dalam ajaran agama Hindu Dharma, upacara-upacara keagamaan terbagi dalam lima kelompok besar, atau sering disebut dengan Panca Yadnya. Kelima kelompok hesar tersebut adalah:
a) Dewa Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada Tuhan beserta seluruh manifestasinya (perwujudan Tuhan dalam bentuk dewa-dewa);
b) Rsi Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada para rsi, pandita, nabi atau kaum ulama, karena berjasa sebagai perantara dalam menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhan dan untuk memberikan ajaranajaran suci kepada manusia.
c) Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada para leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebagai perantara kelahiran manusia
d) Manusa Yadnya, yaitu upacara yang berkaitan dengan daur hidup manusia, seperti kehamilan, kelahiran, perkawinan, dan kematian.
e) Bhuta Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk menjalin keharmonisan dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta, seperti gunung, laut, sungai, dan sebagainya. Termasuk pula di dalamnya kehidupan yang lebih rendah dan manusia, yaitu makhluk halus, binatang dan tumbuhan.
Di samping konsep Panca Yadnya, ajaran Hindu Dharma juga mengenal konsep Tri Hita Karana, yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Upacara adalah sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan elemen-elemen yang ada di dalam Tri Hita Karana tersebut. Dalam hal ini upacara Dewa Yadnya adalah untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan; upacara Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan manusia; sedangkan Bhuta Yadnya untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta. Dengan demikian jenisjenis upacara tradisional pada agamaagama tradisi kecil sebenarnya telah tercakup di dalam konsep Panca Yadnya dan Tri Hita Karana.
Upacara-upacara dan hari-hari besar keagamaan dalam agama-agama tradisi besar, yang sering disebut dengan hari raya, biasanya diperirtgati oleh seluruh umatnya dan berbagai suku bangsa di dunia tanpa kecuali. Di dalam agama Islam dikenal hari raya Maulud Nabi, Idul Adha, dan Idul Fitri; di dalam agama Kristen dan Katholik dikenal hari raya Natal dan Paskah; dan di dalam agama Budha dikenal hari raya Waisak. Berbeda dengan agama-agama tradisi besar lainnya, agama Hindu tidak mengenal doktrin yang menegaskan adanya hari-hari besar keagamaan yang harus diyakini dan diperingati oleh umatnya dari berbagai suku bangsa di dunia. Hari-hari besar keagamaan Hindu Dharma ditentukan sepenuhnya oleh kebijakan lokal dengan berdasarkan konsep Desa, Kala, Patra (Tempat, Waktu dan Kondisi). Dengan mengacu pada konsep Desa, Kala, Patra tersebut, maka peringatan hari-hari besar keagamaan Hindu antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya menjadi berbeda-beda, misalnya umat Hindu keturunan India mengenai hari raya Dipavali, umat Hindu Suku Bali mengenai hari raya Galungan Kuningan, dan umat Hindu Suku Tengger mengenal hari raya Kasada. Penekanan ajaran Hindu Dharma tidak ada penyeragaman hari-hari raya besar keagamaan, yang harus diakui oleh umat-umat Hindu di luar Bangsa India, tetapi pada penghayatan terhadap makna dan hakekat dan upacara-upacara tersebut, yang dalam hal ini telah dijabarkan di atas, yaitu dalam konsep panca yadnya, Tri hita karana, dan desa kala patra.
2. Upacara Kematian Suku Dayak Dilihat dan Sudut Pandang Agama Hindu Dharma
Di dalam ajaran Hindu Dharma, manusia dan juga benda-benda fisik lainnya di alam semesta, terdini dan lirna unsur dasar, atau yang disebut dengan Panca Maha Bhuta, yaitu unsur air, api, angin, tanah, dan akasa (hampa udara/ruang kosong). Apabila seseorang meninggal dunia, maka unsur-unsur penyusun tubuhnya kembali ke unsur-unsur dasar tersebut. Kematian Seseorang menimbulkan kewajiban bagi orang-orang yang masih hidup untuk melakukan serangkaian upacara untuk mempenlakukan jenazah, yang mana tujuannya adalah agar badan jasmaninya dapat segera dikembalikan ke unsur Panca Maha Bhuta dan atmannya dapat segera bersih dan kembali kepada Tuhan. Usaha untuk mengembalikan tubuh orang yang telah meninggal kepada unsur Panca Maha Bhuta dan atmannya dapat segera bersih dan kembali kepada Tuhan. Usaha untuk mengembalikan tubuh orang yang telah meninggal kepada unsur Panca Maha Bhuta dapat dilakukan dengan cara dikremasi (kembali ke unsun api), dikubur di dalam tanah (kembali ke unsur tanah), dilarung ke sungai atau laut (kembali ke unsun air), atau disemayamkan di atas tanah/pohon (kembali ke unsur udana). Semua jenis upacara kematian tersebut adalah benar menurut pandangan Hindu apabila Dharma dihantarkan dengan upacara-upacara untuk membersihkan arwahnya dan kekotoran perbuatannya selama di dunia, agar dapat segera kembali kepada alam Ketuhanan.
Pada Suku Dayak, arwah atau atman lelahur yang telah diupacarai dengan bersemayam di puncak-puncak pegunungan. Sebagai arwah-arwah yang telah suci dan berada di alam Tuhan, mereka dapat dipanggil kembali untuk dimintai pertolongan apabila manusia, khususnya keturunannya, menemui kesulitan-kesulitan. Dalam hal ini bukan berarti mereka tidak percaya terhadap pertolongan Tuhan. Pertolongan Tuhan akan datang melalui perantara arwah leluhur yang telah disucikan tersebut. Kepercayaan terhadap kekuatan arwah leluhur ini menimbulkan upacara-upacara pemujaan kepada arwah leluhur, yang mana di dalam ajaran agama Hindu Dharma disebut dengan Pitra Yadnya.
Para misionaris agama-agama tradisi besar pada umumnya menganggap upacara pemujaan terhadap arwah leluhur sebagai sesuatu tindakan yang tidak masuk akal dan melanggar konsep pemujaan kepada Tuhan. Oleh karena itu banyak dan para misionaris agamaagarria tradisi besar di dalam melakukan “pembinaan umat” berusaha menghapuskan jenis-jenis upacara seperti ini dan masyarakat Suku Dayak. Tindakan untuk menghapus upacara-upacara pemujaan arwah leluhur tanpa memahami makna di balik upacara tersebut, sebenamya justru akan menghapuskan satu mata rantai nilai-nilai budaya Suku Dayak, namun hal-hal seperti ini pada umumnya tidak disadari oleh para misionaris.
3. Kepercayaan terhadap Makhluk Halus dan Roh Penunggu pada Suku Dayak Menurut
Pandangan Hindu Dharma.
Upacara “pemujaan” terhadap makhluk-makhluk halus atau roh-roh penunggu adalah termasuk di dalam jenis upacara Bhuta Yadnya. Upacara Bhuta Yadnya dalam ajaran Hindu Dharma adalah bertujuan untuk membersihkan suatu tempat beserta isinya dari kekuatan negatif yang dapat menyebabkan malapetaka bagi manusia. Upacara Bhuta Yadnya sebenarnya tidak dilandasi oleh “rasa takut” terhadap makhluk-makhluk halus dan roh-roh penunggu. Makhluk-makhluk halus dan roh-roh penunggu tersebut dihayati sebagai ciptaan Tuhan juga yang mempunyai hak untuk hidup sebagaimana halnya manusia. Oleh karena itu, apabila karena sesuatu hal manusia terpaksa mengusik kehidupan mereka, misalnya membuka hutan untuk perladangan atau menebang pohon besar untuk diambil kayunya, maka dilakukan upacara untuk “meminta maaf” karena tempat tinggalnya diusik untuk kepentingan manusia. Upacara yang dilakukan di sini bukan sebagai pemujaan terhadap makhluk-makhluk halus tersebut, melainkan sebagai wujud etika dan kasih sayang (tat twam asi) terhadap sesama hidup dan usaha mewujudkan kehidupan yang harmonis. Apabila manusia mengusik tempat tinggal mereka tanpa mengindahkan etika kehidupan bersama dan kasih sayang, maka akan menimbulkan amarah bagi makhluk-makhluk tersebut. Dengan demikian mereka ganti akan mengganggu kehidupan manusia yang tidak mengindahkan etika tersebut. Hal ini yang dilihat sebagai malapetaka atau kesialan yang dialami manusia.
4. Penerapan Ajaran Hindu Dharma dalam Kepercayaan Kaharingan
Konsekuensi logis dari masuknya kepercayaan Kaharingan di dalam agama Hindu Dharma adalah kewajiban bagi PHDI selaku majelis tertinggi agama Hindu Dharma untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat Dayak. Di dalam pembinaan ini mereka diperkenalkan dengan sistem pantheon (ketuhanan), hari-hari besar keagamaan, serta sarana dan prasarana upacara agama Hindu Dharma. Pada kenyataannya, yang digunakan sebagai model dengan adat dan tradisi umat Hindu Suku Bali. Persoalan menjadi muncul ketika praktik-praktik keagamaan masyarakat Dayak akhirnya mulai didominasi oleh praktek keagamaan Hindu etnis Bali, seperti pembuatan tempat ibadah yang mengacu pada bentuk-bentuk pura yang ada di Bali, sesaji yang didominasi oleh bentuk sesaji Bali, pakaian adat Bali, dan sebagainya. Sementara itu sejak dahulu masyarakat Dayak telah memiliki sistem pantheon tersendiri, tempat ibadah sendiri, dan bentuk sesaji tersendiri yang berbeda jauh dengan bentuk sesaji yang ada di Bali. Untuk menjawab permasalahan ini, perlu untuk memahami bagaimana sistem pantheon, tempat ibadah, dan sesaji menurut Hindu Dharma.
a. Sistem Pantheon Hindu
Pandangan Ketuhanan di dalam Hindu tidak dapat disebut monoteisme maupun politeisme. Max Muller, Seorang peneliti Barat, menyebut pandangan Ketuhanan dalam Hindu adalah Henoteisme, yaitu kepercayaan terhadap Tuhan sebagai Yang Esa dalam Yang Banyak. Semua dewa dihayati sebagai satu wujud, yaitu sebagai Ekam (Yang Esa). Dengan pandangan ini, maka Hindu memuja satu Tuhan dalam banyak wujud. Oleh karena itu Tuhan dalam Hindu dapat disebut dengan nama dewa-dewa, seperti Brahma, Wisnu, Siwa, Durga, Sang Hyang Widhi, dan sebagainya. Berdasarkan pandangan tersebut, maka sebenarnya tidak menjadi permasalahan bila sistem pantheon kepercayaan Kaharingan masuk di dalam ajaran Hindu Dharma, di mana Tuhan juga dapat disebut dengan nama Mahatara atau Ranying Mahatalla Langit, nama dewa tertinggi Suku Dayak.
b. Rumah Ibadah
Rumah ibadah masyarakat Suku Dayak disebut dengan Rumah Panjang atau Balai Kaharingan. Masyarakat Dayak memiliki naluri untuk selalu hidup bersama. Mereka suka hidup damai dalam komunitas yang harmonis, yang terwujud dalam kehidupan bersama di dalam rumah panjang. Rumah panjang menggambarkan keakraban hubungan keluarga dan masyarakat, serta memperkuat kesatuan dalam kegiatan ekonomi. Ketika kebijakan pembangunan mendorong masyarakat pedalaman untuk berubah, maka perubahan juga terjadi pada pola tempat tinggal masyarakat Dayak, dari rumah panjang sebagai tempat tinggal komunal menjadi rumah-rurnah tunggal sebagai tempat tinggal keluarga inti. Rumah panjang akhirnya ditinggalkan, yang berarti hilang pula fungsinya untuk menjalin keakraban dan memperkuat kesatuan masyarakat Dayak. Satu-satunya sarana untuk tetap dapat menjalin keakraban dan memperkuat kesatuan adalah dengan upacara-upacara adat yang dipusatkan di rumah-rumah panjang. Oleh karena itu rumah panjang menjadi bangunan yang bernilai penting bagi masyarakat Dayak. Melihat sejarah rumah panjang yang semula untuk tempat tinggal komunal dan sekarang hanya untuk kegiatan upacara maka tidak tepat apabila PHDI menerapkan konsep pura sepenti yang ada di Bali kepada masyarakat Dayak. Pemaksaan budaya untuk mendirikan pura lengkap dengan pembagian mandala-mandalanya akan semakin menghilangkan fungsi rumah panjang tersebut. Oleh karena itu dengan tetap berlandaskan pada konsep desa, kala, dan patra, maka rumah panjang sebagai bangunan tempat ibadah untuk umat Hindu Kaharingan hendaknya tetap dipertahankan.
c. Sesaji sebagai Sarana Upacara
Sesaji merupakan sarana upacara yang hampir selalu diadakan dalam upacara keagamaan Hindu Dharma. Berdasarkan lontar Yadnya Prakerti, sesaji merupakan simbol dari tiga hal, yaitu:
1) lambang diri orang atau kelompok yang menghaturkan sesaji;
2) lambang manifestasi Tuhan yang akan dipuja;
3) lambang alam semesta.
Dengan demikian sesaji juga mengandung nilai-nilai Tri Hita Karana. Sesaji juga bukan merupakan makanan untuk disuguhkan kepada Tuhan, tetapi sebagai bahasa simbol untuk menyampaikan rasa keimanan dan ketaqwaan manusia kepada Tuhan.
Sebagaimana diakui oleh PHDI, sesaji sebagai sarana upacara berbedabeda dan tiap-tiap etnis. Misalnya sesaji yang ditujukan kepada Tuhan oleh orang Bali disebut dengan Daksina, terbuat dari daun lontar yang di dalamnya diisi dengan kelapa, beras, telur, bumbu dapur, dan bunga-bungaan. Sedangkan sesaji orang Dayak disebut Sakai Pulang, yang secara harfiah berarti pohon senjata. Sesaji ini merupakan rangkaian tumbuhan hasil hutan, rotan, dan senjata. Perbedaan bentuk sesaji tidaklah dipersoalkan, yang penting sesaji dapat merupakan lambang bahasa lahiriah untuk mewakili pikiran dan perasaan yang tidak mampu sepenuhnya terwakili oleh bahasa verbal. Di sini sesaji merupakan perwujudan nilai sathyam, siwam, sundaram (kebenaran, kebajikan, dan keindahan). Pemaksaan bentuk sesaji seperti bentuk sesaji Bali akan menyebabkan umat Hindu Kaharingan merasa kebudayaannya dijajah oleh kebudayaan Bali. Bagaimanapun juga mereka tidak akan dapat menjiwai sesuatu bentuk sesaji versi Bali sebagaimana orang Bali menjiwai sesaji mereka sendiri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penolakan sebagian umat Hindu Kaharingan untuk bergabung dengan agama Hindu Dharma lebih disebabkan oleh pemaksaan unsure-unsur budaya Bali terhadap masyarakat Dayak. Pemaksaan unsur budaya Bali tersebut meliputi pemahaman sistem pantheon, bentuk tempat ibadah, bentuk sesaji, dan lain-lain. Dan sebagaimana telah diterangkan di atas, pemaksaan unsur-unsur budaya Bali tersebut sebenarnya justru menyalahi dan ajaran Hindu Dharma.
5. Masalah-Masalah yang Muncul Bila Hindu Kaharingan Berdiri Sebagai Agama
Tersendiri.
Kepercayaan Kaharingan pada saat ini masih tergolong dalam Agama Tradisi Kecil. Ajaran-ajaran kepercayaan Kaharingan selama ini hanya diikuti oleh sebagian masyarakat Suku Dayak. Selain Suku Dayak tidak ada suku yang menganut kepercayaan Kaharingan. Dengan kata lain ajaran kepercayaan Kaharingan pada saat ini belum dapat menembus lintas batas kebudayaan antar bangsa, sebagaimana yang diisyaratkan dalam agama-agama tradisi besar. Sebagian dari masyarakat Dayak sendiri telah memeluk salah satu agama tradisi besar, seperti Islam, Kristen, dan Khatolik; sebagian lagi dari mereka yang memeluk kepercayaan Kaharingan memilih tetap bergabung dengan Hindu Dharma. Dengan demikian hanya sebagian kecil saja dari masyarakat Dayak sendiri yang mendukung agar kepercayaan Kaharingan diangkat sebagai agama baru yang diakui secara resmi oleh pemerintah. Jumlah pemeluk Hindu Kaharingan pada saat ini diperkirakan mencapai 1,4 juta jiwa yang tersebar di 4 propinsi di Kalimantan, yaitu ; Kalimantan Tengah 300 ribu jiwa, Kalimantan Timur 450 ribu jiwa, Kalimantan Barat 650 ribu jiwa, dan Kalimantan Selatan 40 ribu jiwa.
Sampai saat ini kepercayaan Kaharingan juga belum mempunyai kitab suci dan nabi/tokoh pendiri agama yang telah diakui, disahkan, dan digunakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat Dayak. Walaupun harus diakui bahwa sebenarnya banyak tokoh Dayak yang mempunyai kearifan untuk memberikan ajaran dan kemampuan supranatural setingkat dengan nabi, tetapi tidak didokumentasikan dengan baik melalui teks-teks suci. Ajaran kepercayaan Kaharingan selama ini hanya dilakukan secara lisan dan turun-temurun. Usaha menyusun kitab suci sudah pernah dilakukan, antara lain dalam Pertemuan Adat Dayak Uud Danum di Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah, pada tahun 1894. Dalam pertemuan tersebut telah berhasil disusun buku pedoman hukum adat masyarakat Uud Danum, yang lebih dikenal dengan sebutan Kitab Panaturan atau Buku Merah karena sampulnya berwarna merah. Dengan belum adanya kitab suci dan nabi yang disahkan dan yang diakui bersama-sama dalam musyawarah adat, maka penganut kepercavaan Kaharingan akan semakin sulit bertahan terhadap misi misi agama-agama tradisi besar, yang secara agresif berupaya menarik masyarakat “yang belum beragama” ke dalam agama mereka. Apalagi sasaran misi agama-agama ini adalah generasi muda Dayak yang belum sepenuhnya mampu memahami ajaran-ajaran kepercayaan Kaharingan yang diwariskan dari orangtua mereka. Dalam kerangka berpikir generasi muda yang berkembang dewasa ini adalah bahwa agama yang berasal dari Tuhan adalah agama yang mempunyai nabi, nabi tersebut mendapatkan wahyu dari Tuhan, dan nabi tersebut kemudian menuliskan wahyu-wahyu tersebut di dalam teks suci. Dengan kerangka berpikir yang demikian tentu dengan mudah akan dibawa masuk ke agama yang dibawa oleh kaum misionaris agama-agama tradisi besar.
Berkaitan dengan penjelasan di atas akan berbeda halnya bila penganut Hindu Kaharingan tetap bergabung dalam agama Hindu Dharma. Meskipun “tidak memiliki seorang nabi yang secara dogmatis harus diakui keberadaannya oleh penganutnya”, agama Hindu Dharma tetap digolongkan ke dalam agama-agama tradisi besar. Ajaran Hindu Dharma telah menembus batas-batas kebudayaan bangsa dan diakui oleh dunia. Dengan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma, maka posisi umat Hindu Kaharingan relatif lebih aman terhadap tekanan-tekanan misionaris agama lain. Pembinaan keagamaan genenasi muda Dayak tetap dapat dilakukan dengan mengacu pada Kitab Suci Weda yang diakui secara universal oleh pemeluk Hindu di dunia. Sedangkan pelaksanaan upacara-upacara keagamaan tetap dapat dilangsungkan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Dayak. Dalam hal ini, PHDI diharapkan dapat berbertah din agar dapat memberikan pembinaan yang sesuai dengan kondisi umat Hindu Hindu Dharrna di luar Suku Bali, terutama dalam penyelenggaraan upacara-upacara keagamaan. Dengan ikut melestarikan nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Dayak, maka ciri khas agama Hindu Dharma yang ditandai dengan keanekaragaman pelaksanaan upacara-upacaranya pada tiap-tiap suku di Indonesia akan semakin terwujud.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka perlu dilakukan pembinaan umat Hindu Kaharingan yang ingin memisahkan diri dari agama Hindu Dharma yang pada saat ini sudah diakui secara resmi oleh pemerintah. Dengan pembinaan tersebut, mereka akan mempunyai pemahaman yang sejalan dengan sesama umat Hindu Kaharingan yang tetap menginginkan bergabung dengan agama Hindu Dharma. Di samping itu PHDI perlu berbenah diri agar tidak terjadi “pemaksaan budaya Bali” terhadap pelaksanaan upacara-upacara keagamaan umat Hindu Dharma dan suku-suku di luar Bali.
Pemerintah juga diharapkan dapat menangguhkan terlebih dahulu keinginan sebagian dari umat Hindu Kaharingan untuk memisahkan diri dari agama Hindu Dharma. Pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Apabila akan banyak hal-hal yang merugikan bagi umat Hindu Kaharingan itu sendiri bila telah berdiri sebagai agama tersendiri, maka permintaan sebagian umat Hindu Kaharingan tersebut terpaksa tidak dapat dipenuhi, yang mana berarti mereka tetap harus bergabung dengan agama Hindu Dharma
2. Upacara Kematian Suku Dayak Dilihat dan Sudut Pandang Agama Hindu Dharma
Di dalam ajaran Hindu Dharma, manusia dan juga benda-benda fisik lainnya di alam semesta, terdini dan lirna unsur dasar, atau yang disebut dengan Panca Maha Bhuta, yaitu unsur air, api, angin, tanah, dan akasa (hampa udara/ruang kosong). Apabila seseorang meninggal dunia, maka unsur-unsur penyusun tubuhnya kembali ke unsur-unsur dasar tersebut. Kematian Seseorang menimbulkan kewajiban bagi orang-orang yang masih hidup untuk melakukan serangkaian upacara untuk mempenlakukan jenazah, yang mana tujuannya adalah agar badan jasmaninya dapat segera dikembalikan ke unsur Panca Maha Bhuta dan atmannya dapat segera bersih dan kembali kepada Tuhan. Usaha untuk mengembalikan tubuh orang yang telah meninggal kepada unsur Panca Maha Bhuta dan atmannya dapat segera bersih dan kembali kepada Tuhan. Usaha untuk mengembalikan tubuh orang yang telah meninggal kepada unsur Panca Maha Bhuta dapat dilakukan dengan cara dikremasi (kembali ke unsun api), dikubur di dalam tanah (kembali ke unsur tanah), dilarung ke sungai atau laut (kembali ke unsun air), atau disemayamkan di atas tanah/pohon (kembali ke unsur udana). Semua jenis upacara kematian tersebut adalah benar menurut pandangan Hindu apabila Dharma dihantarkan dengan upacara-upacara untuk membersihkan arwahnya dan kekotoran perbuatannya selama di dunia, agar dapat segera kembali kepada alam Ketuhanan.
Pada Suku Dayak, arwah atau atman lelahur yang telah diupacarai dengan bersemayam di puncak-puncak pegunungan. Sebagai arwah-arwah yang telah suci dan berada di alam Tuhan, mereka dapat dipanggil kembali untuk dimintai pertolongan apabila manusia, khususnya keturunannya, menemui kesulitan-kesulitan. Dalam hal ini bukan berarti mereka tidak percaya terhadap pertolongan Tuhan. Pertolongan Tuhan akan datang melalui perantara arwah leluhur yang telah disucikan tersebut. Kepercayaan terhadap kekuatan arwah leluhur ini menimbulkan upacara-upacara pemujaan kepada arwah leluhur, yang mana di dalam ajaran agama Hindu Dharma disebut dengan Pitra Yadnya.
Para misionaris agama-agama tradisi besar pada umumnya menganggap upacara pemujaan terhadap arwah leluhur sebagai sesuatu tindakan yang tidak masuk akal dan melanggar konsep pemujaan kepada Tuhan. Oleh karena itu banyak dan para misionaris agamaagarria tradisi besar di dalam melakukan “pembinaan umat” berusaha menghapuskan jenis-jenis upacara seperti ini dan masyarakat Suku Dayak. Tindakan untuk menghapus upacara-upacara pemujaan arwah leluhur tanpa memahami makna di balik upacara tersebut, sebenamya justru akan menghapuskan satu mata rantai nilai-nilai budaya Suku Dayak, namun hal-hal seperti ini pada umumnya tidak disadari oleh para misionaris.
3. Kepercayaan terhadap Makhluk Halus dan Roh Penunggu pada Suku Dayak Menurut
Pandangan Hindu Dharma.
Upacara “pemujaan” terhadap makhluk-makhluk halus atau roh-roh penunggu adalah termasuk di dalam jenis upacara Bhuta Yadnya. Upacara Bhuta Yadnya dalam ajaran Hindu Dharma adalah bertujuan untuk membersihkan suatu tempat beserta isinya dari kekuatan negatif yang dapat menyebabkan malapetaka bagi manusia. Upacara Bhuta Yadnya sebenarnya tidak dilandasi oleh “rasa takut” terhadap makhluk-makhluk halus dan roh-roh penunggu. Makhluk-makhluk halus dan roh-roh penunggu tersebut dihayati sebagai ciptaan Tuhan juga yang mempunyai hak untuk hidup sebagaimana halnya manusia. Oleh karena itu, apabila karena sesuatu hal manusia terpaksa mengusik kehidupan mereka, misalnya membuka hutan untuk perladangan atau menebang pohon besar untuk diambil kayunya, maka dilakukan upacara untuk “meminta maaf” karena tempat tinggalnya diusik untuk kepentingan manusia. Upacara yang dilakukan di sini bukan sebagai pemujaan terhadap makhluk-makhluk halus tersebut, melainkan sebagai wujud etika dan kasih sayang (tat twam asi) terhadap sesama hidup dan usaha mewujudkan kehidupan yang harmonis. Apabila manusia mengusik tempat tinggal mereka tanpa mengindahkan etika kehidupan bersama dan kasih sayang, maka akan menimbulkan amarah bagi makhluk-makhluk tersebut. Dengan demikian mereka ganti akan mengganggu kehidupan manusia yang tidak mengindahkan etika tersebut. Hal ini yang dilihat sebagai malapetaka atau kesialan yang dialami manusia.
4. Penerapan Ajaran Hindu Dharma dalam Kepercayaan Kaharingan
Konsekuensi logis dari masuknya kepercayaan Kaharingan di dalam agama Hindu Dharma adalah kewajiban bagi PHDI selaku majelis tertinggi agama Hindu Dharma untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat Dayak. Di dalam pembinaan ini mereka diperkenalkan dengan sistem pantheon (ketuhanan), hari-hari besar keagamaan, serta sarana dan prasarana upacara agama Hindu Dharma. Pada kenyataannya, yang digunakan sebagai model dengan adat dan tradisi umat Hindu Suku Bali. Persoalan menjadi muncul ketika praktik-praktik keagamaan masyarakat Dayak akhirnya mulai didominasi oleh praktek keagamaan Hindu etnis Bali, seperti pembuatan tempat ibadah yang mengacu pada bentuk-bentuk pura yang ada di Bali, sesaji yang didominasi oleh bentuk sesaji Bali, pakaian adat Bali, dan sebagainya. Sementara itu sejak dahulu masyarakat Dayak telah memiliki sistem pantheon tersendiri, tempat ibadah sendiri, dan bentuk sesaji tersendiri yang berbeda jauh dengan bentuk sesaji yang ada di Bali. Untuk menjawab permasalahan ini, perlu untuk memahami bagaimana sistem pantheon, tempat ibadah, dan sesaji menurut Hindu Dharma.
a. Sistem Pantheon Hindu
Pandangan Ketuhanan di dalam Hindu tidak dapat disebut monoteisme maupun politeisme. Max Muller, Seorang peneliti Barat, menyebut pandangan Ketuhanan dalam Hindu adalah Henoteisme, yaitu kepercayaan terhadap Tuhan sebagai Yang Esa dalam Yang Banyak. Semua dewa dihayati sebagai satu wujud, yaitu sebagai Ekam (Yang Esa). Dengan pandangan ini, maka Hindu memuja satu Tuhan dalam banyak wujud. Oleh karena itu Tuhan dalam Hindu dapat disebut dengan nama dewa-dewa, seperti Brahma, Wisnu, Siwa, Durga, Sang Hyang Widhi, dan sebagainya. Berdasarkan pandangan tersebut, maka sebenarnya tidak menjadi permasalahan bila sistem pantheon kepercayaan Kaharingan masuk di dalam ajaran Hindu Dharma, di mana Tuhan juga dapat disebut dengan nama Mahatara atau Ranying Mahatalla Langit, nama dewa tertinggi Suku Dayak.
b. Rumah Ibadah
Rumah ibadah masyarakat Suku Dayak disebut dengan Rumah Panjang atau Balai Kaharingan. Masyarakat Dayak memiliki naluri untuk selalu hidup bersama. Mereka suka hidup damai dalam komunitas yang harmonis, yang terwujud dalam kehidupan bersama di dalam rumah panjang. Rumah panjang menggambarkan keakraban hubungan keluarga dan masyarakat, serta memperkuat kesatuan dalam kegiatan ekonomi. Ketika kebijakan pembangunan mendorong masyarakat pedalaman untuk berubah, maka perubahan juga terjadi pada pola tempat tinggal masyarakat Dayak, dari rumah panjang sebagai tempat tinggal komunal menjadi rumah-rurnah tunggal sebagai tempat tinggal keluarga inti. Rumah panjang akhirnya ditinggalkan, yang berarti hilang pula fungsinya untuk menjalin keakraban dan memperkuat kesatuan masyarakat Dayak. Satu-satunya sarana untuk tetap dapat menjalin keakraban dan memperkuat kesatuan adalah dengan upacara-upacara adat yang dipusatkan di rumah-rumah panjang. Oleh karena itu rumah panjang menjadi bangunan yang bernilai penting bagi masyarakat Dayak. Melihat sejarah rumah panjang yang semula untuk tempat tinggal komunal dan sekarang hanya untuk kegiatan upacara maka tidak tepat apabila PHDI menerapkan konsep pura sepenti yang ada di Bali kepada masyarakat Dayak. Pemaksaan budaya untuk mendirikan pura lengkap dengan pembagian mandala-mandalanya akan semakin menghilangkan fungsi rumah panjang tersebut. Oleh karena itu dengan tetap berlandaskan pada konsep desa, kala, dan patra, maka rumah panjang sebagai bangunan tempat ibadah untuk umat Hindu Kaharingan hendaknya tetap dipertahankan.
c. Sesaji sebagai Sarana Upacara
Sesaji merupakan sarana upacara yang hampir selalu diadakan dalam upacara keagamaan Hindu Dharma. Berdasarkan lontar Yadnya Prakerti, sesaji merupakan simbol dari tiga hal, yaitu:
1) lambang diri orang atau kelompok yang menghaturkan sesaji;
2) lambang manifestasi Tuhan yang akan dipuja;
3) lambang alam semesta.
Dengan demikian sesaji juga mengandung nilai-nilai Tri Hita Karana. Sesaji juga bukan merupakan makanan untuk disuguhkan kepada Tuhan, tetapi sebagai bahasa simbol untuk menyampaikan rasa keimanan dan ketaqwaan manusia kepada Tuhan.
Sebagaimana diakui oleh PHDI, sesaji sebagai sarana upacara berbedabeda dan tiap-tiap etnis. Misalnya sesaji yang ditujukan kepada Tuhan oleh orang Bali disebut dengan Daksina, terbuat dari daun lontar yang di dalamnya diisi dengan kelapa, beras, telur, bumbu dapur, dan bunga-bungaan. Sedangkan sesaji orang Dayak disebut Sakai Pulang, yang secara harfiah berarti pohon senjata. Sesaji ini merupakan rangkaian tumbuhan hasil hutan, rotan, dan senjata. Perbedaan bentuk sesaji tidaklah dipersoalkan, yang penting sesaji dapat merupakan lambang bahasa lahiriah untuk mewakili pikiran dan perasaan yang tidak mampu sepenuhnya terwakili oleh bahasa verbal. Di sini sesaji merupakan perwujudan nilai sathyam, siwam, sundaram (kebenaran, kebajikan, dan keindahan). Pemaksaan bentuk sesaji seperti bentuk sesaji Bali akan menyebabkan umat Hindu Kaharingan merasa kebudayaannya dijajah oleh kebudayaan Bali. Bagaimanapun juga mereka tidak akan dapat menjiwai sesuatu bentuk sesaji versi Bali sebagaimana orang Bali menjiwai sesaji mereka sendiri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penolakan sebagian umat Hindu Kaharingan untuk bergabung dengan agama Hindu Dharma lebih disebabkan oleh pemaksaan unsure-unsur budaya Bali terhadap masyarakat Dayak. Pemaksaan unsur budaya Bali tersebut meliputi pemahaman sistem pantheon, bentuk tempat ibadah, bentuk sesaji, dan lain-lain. Dan sebagaimana telah diterangkan di atas, pemaksaan unsur-unsur budaya Bali tersebut sebenarnya justru menyalahi dan ajaran Hindu Dharma.
5. Masalah-Masalah yang Muncul Bila Hindu Kaharingan Berdiri Sebagai Agama
Tersendiri.
Kepercayaan Kaharingan pada saat ini masih tergolong dalam Agama Tradisi Kecil. Ajaran-ajaran kepercayaan Kaharingan selama ini hanya diikuti oleh sebagian masyarakat Suku Dayak. Selain Suku Dayak tidak ada suku yang menganut kepercayaan Kaharingan. Dengan kata lain ajaran kepercayaan Kaharingan pada saat ini belum dapat menembus lintas batas kebudayaan antar bangsa, sebagaimana yang diisyaratkan dalam agama-agama tradisi besar. Sebagian dari masyarakat Dayak sendiri telah memeluk salah satu agama tradisi besar, seperti Islam, Kristen, dan Khatolik; sebagian lagi dari mereka yang memeluk kepercayaan Kaharingan memilih tetap bergabung dengan Hindu Dharma. Dengan demikian hanya sebagian kecil saja dari masyarakat Dayak sendiri yang mendukung agar kepercayaan Kaharingan diangkat sebagai agama baru yang diakui secara resmi oleh pemerintah. Jumlah pemeluk Hindu Kaharingan pada saat ini diperkirakan mencapai 1,4 juta jiwa yang tersebar di 4 propinsi di Kalimantan, yaitu ; Kalimantan Tengah 300 ribu jiwa, Kalimantan Timur 450 ribu jiwa, Kalimantan Barat 650 ribu jiwa, dan Kalimantan Selatan 40 ribu jiwa.
Sampai saat ini kepercayaan Kaharingan juga belum mempunyai kitab suci dan nabi/tokoh pendiri agama yang telah diakui, disahkan, dan digunakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat Dayak. Walaupun harus diakui bahwa sebenarnya banyak tokoh Dayak yang mempunyai kearifan untuk memberikan ajaran dan kemampuan supranatural setingkat dengan nabi, tetapi tidak didokumentasikan dengan baik melalui teks-teks suci. Ajaran kepercayaan Kaharingan selama ini hanya dilakukan secara lisan dan turun-temurun. Usaha menyusun kitab suci sudah pernah dilakukan, antara lain dalam Pertemuan Adat Dayak Uud Danum di Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah, pada tahun 1894. Dalam pertemuan tersebut telah berhasil disusun buku pedoman hukum adat masyarakat Uud Danum, yang lebih dikenal dengan sebutan Kitab Panaturan atau Buku Merah karena sampulnya berwarna merah. Dengan belum adanya kitab suci dan nabi yang disahkan dan yang diakui bersama-sama dalam musyawarah adat, maka penganut kepercavaan Kaharingan akan semakin sulit bertahan terhadap misi misi agama-agama tradisi besar, yang secara agresif berupaya menarik masyarakat “yang belum beragama” ke dalam agama mereka. Apalagi sasaran misi agama-agama ini adalah generasi muda Dayak yang belum sepenuhnya mampu memahami ajaran-ajaran kepercayaan Kaharingan yang diwariskan dari orangtua mereka. Dalam kerangka berpikir generasi muda yang berkembang dewasa ini adalah bahwa agama yang berasal dari Tuhan adalah agama yang mempunyai nabi, nabi tersebut mendapatkan wahyu dari Tuhan, dan nabi tersebut kemudian menuliskan wahyu-wahyu tersebut di dalam teks suci. Dengan kerangka berpikir yang demikian tentu dengan mudah akan dibawa masuk ke agama yang dibawa oleh kaum misionaris agama-agama tradisi besar.
Berkaitan dengan penjelasan di atas akan berbeda halnya bila penganut Hindu Kaharingan tetap bergabung dalam agama Hindu Dharma. Meskipun “tidak memiliki seorang nabi yang secara dogmatis harus diakui keberadaannya oleh penganutnya”, agama Hindu Dharma tetap digolongkan ke dalam agama-agama tradisi besar. Ajaran Hindu Dharma telah menembus batas-batas kebudayaan bangsa dan diakui oleh dunia. Dengan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma, maka posisi umat Hindu Kaharingan relatif lebih aman terhadap tekanan-tekanan misionaris agama lain. Pembinaan keagamaan genenasi muda Dayak tetap dapat dilakukan dengan mengacu pada Kitab Suci Weda yang diakui secara universal oleh pemeluk Hindu di dunia. Sedangkan pelaksanaan upacara-upacara keagamaan tetap dapat dilangsungkan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Dayak. Dalam hal ini, PHDI diharapkan dapat berbertah din agar dapat memberikan pembinaan yang sesuai dengan kondisi umat Hindu Hindu Dharrna di luar Suku Bali, terutama dalam penyelenggaraan upacara-upacara keagamaan. Dengan ikut melestarikan nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Dayak, maka ciri khas agama Hindu Dharma yang ditandai dengan keanekaragaman pelaksanaan upacara-upacaranya pada tiap-tiap suku di Indonesia akan semakin terwujud.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka perlu dilakukan pembinaan umat Hindu Kaharingan yang ingin memisahkan diri dari agama Hindu Dharma yang pada saat ini sudah diakui secara resmi oleh pemerintah. Dengan pembinaan tersebut, mereka akan mempunyai pemahaman yang sejalan dengan sesama umat Hindu Kaharingan yang tetap menginginkan bergabung dengan agama Hindu Dharma. Di samping itu PHDI perlu berbenah diri agar tidak terjadi “pemaksaan budaya Bali” terhadap pelaksanaan upacara-upacara keagamaan umat Hindu Dharma dan suku-suku di luar Bali.
Pemerintah juga diharapkan dapat menangguhkan terlebih dahulu keinginan sebagian dari umat Hindu Kaharingan untuk memisahkan diri dari agama Hindu Dharma. Pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Apabila akan banyak hal-hal yang merugikan bagi umat Hindu Kaharingan itu sendiri bila telah berdiri sebagai agama tersendiri, maka permintaan sebagian umat Hindu Kaharingan tersebut terpaksa tidak dapat dipenuhi, yang mana berarti mereka tetap harus bergabung dengan agama Hindu Dharma
Subscribe to:
Posts (Atom)


