Saturday, 7 May 2011

because i love u

Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah sebagai siswa kelas 2 SMA setelah libur panjang yang begitu menyenangkan. Rasa kangen ngumpul bareng teman di kelas begitu kurasa. Hari ini aku benar-benar merasa senyuman itu selalu mengembang meskipun dengan segudang tugas dari guru yang belum selesai ku kerjakan. Suasana sejuknya pagi yang sama sekali belum terjamah oleh panasnya matahari begitu terasa. Ku lihat sekelilingku sama sekali belum ada siswa yang datang. Sekolah masih sepi dan terlihat begitu asri dengan hiasan hijaunya dedaunan dari setiap pohon yang tumbuh mengelilingi sekolah. Saat-saat seperti inilah yang kadang-kadang membuat diri ini sadar akan besarnya kuasa Tuhan.
“Mas, kelas 2 IPA 1 di mana ya?” tanya seorang cewek yang tak ku kenal yang sedikit mengejutkanku.
“Kelas 2 IPA 1 ada di depan. Dari sini kamu lurus aja!” jawabku ramah.
“Makasih ya!” kata cewek itu sambil tersenyum. Tapi dia malah pergi ke arah yang berlawanan dari arah yang ku tunjukkan.
“Eh mba, bukan ke situ tapi ke sana!” kataku sambil menunjuk ke arah selatan, arah yang menuju ke kelas 2 IPA 1.
“Ya aku tau, tapi aku mau keliling sekolah ini dulu terus abis itu aku mau ke ruang kepsek.”
“Oh, maaf.” Kataku dengan muka yang sedikit memerah. Cewek itu melangkah menjauh dan semakin jauh. Mataku tak henti-hentinya memandang tanpa berkedip sedikitpun. Aku tak pernah melihat dia sebelumnya. Barangkali dia anak baru. Cantik, manis dan kelihatannya dia baik. Ah, kenapa aku ini? Kemudian ku teruskan langkahku menuju kelas. Aku duduk sambil meletakkan tas, mengatur nafas dan menenangkan detak jantung yang berpacu dengan cepat dan tak beraturan. Wajah cewek itu masih saja mengganggu pikiranku. Tapi cepat-cepat ku tepis bayangan semu itu dan akupun terbangun dari lamunanku. Tak ku sadari ternyata ke adaan kelas yang semula sepi kini menjadi ramai. Bahkan bunyi bel yang lumayan keraspun aku tak mendengarnya. Bu Heni masuk ke kelasku dengan begitu anggun. Beliau adalah guru favoritku. Sesosok cewek melangkah mengikuti bu Heni.
“Pagi anak-anak!” sapa bu Heni.
“Pagi bu..” balas kami serentak.
“Anak-anak, kita kedatangan siswa baru pindahan dari SMA N 7 Purworejo. Namanya Kian. Nah Kian, untuk lebih jelasnya kamu bisa memperkenalkan diri!” pinta bu Heni.
Kemudian Kian memperkenalkan dirinya. Aku terus saja memperhatikannya. Untungnya aku duduk sendiri, jadi akhirnya bu Heni menyuruh Kian untuk duduk bersamaku. Pelajaran berlangsung dengan baik. Ku perhatikan segala sesuatu yang diterangkan bu Heni. Ku catat kata-kata yang sekiranya ku anggap penting. Tak terasa jam pelajaran telah usai. Padahal sedang asyik-asyiknya belajar. Tapi sudahlah, besok juga masih ada lagi pelajarannya bu Heni. Berikutnya adalah pelajarannya pak Teguh. Ah, males. Aku tak begitu menyukai Matematika. Pelajarannya terlalu rumit dan sulit dicerna. Setelah lama ku nanti, akhirnya bel istirahat berbunyi juga. Aku bosan mendengarkan penjelasan dari pak Teguh. Tapi sepertinya Kian begitu menyukai Matematika. Buktinya ketika pak Teguh menerangkan, Kian begitu memperhatikannya.
“Emmm, Kian suka banget ya ama Matematika?” tanyaku dengan sedikit ragu.
“Semua mapel aku suka kok.” jawabnya pelan.
Awalnya aku agak canggung kalau mau ngobrol ama Kian. Tapi lama-lama aku terbiasa dan kami jadi dekat.
Seperti biasa, pagi-pagi sekali aku sudah berangkat sekolah. Karena jarak antara rumah dan sekolah dekat, jadi aku cukup dengan berjalan kaki. Tapi di tengah jalan aku melihat seorang cewek jatuh dari sepedanya. Sepertinya aku mengenalnya, ternyata Kian. Cepat-cepat aku menolongnya. Kaki Kian berdarah. Kemudian ku bonceng dia sampai sekolah dengan sepedanya.
“Makasih ya San kamu udah mau nolongin aku. Oh ya, kenapa sih kamu mau nolongin aku?” tanya Kian polos.
“Ya aku nggak tega lah ngebiarin kamu gitu aja. Udah sepantasnya aku nolongin kamu. Kita kan sahabat.”
“Sahabat? Emm, ya kita sahabat.”
Sebenernya bukan cuma itu alasan kenapa aku mau nolong Kian, nggak mungkin aku tega ngebiarin cewek yang aku sayang kesakitan karena jatuh dari sepedanya. Tapi aku nggak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Toh, sekarang kami sahabatan. Jadi aku tetap bisa deket dengannya. Bahkan sejak kejadian itu aku semakin dekat dengannya.
Hari ini Kian nggak masuk sekolah. Aku tak tau apa sebabnya. Kemudian kuputuskan untuk mengunjungi rumahnya sepulang sekolah. Tapi setibanya aku di rumah Kian, yang ku temui hanyalah rumah sepi dan sepertinya Kian tak ada di rumah. Ku coba untuk bertanya pada tetangganya, ternyata Kian masuk rumah sakit. Betapa sedihnya hati ini mendengar itu. Kemudian cepat-cepat aku menuju rumah sakit. Di rumah sakit, ku temui ibu Kian tengah menangis sambil memegang erat tangan Kian yang tak sadarkan diri dengan tubuh yang terbujur lemas.
“Bu, Kian kenapa?” tanyaku pelan sambil menahan air mata ini yang akan menjebol pelupuk mataku.
“Kian kecelakaan ketika akan berangkat sekolah. Dia kekurangan banyak darah. Sedangkan persediaan darah untuk golongan darah O di rumah sakit ini sedang kosong. Golongan darah ibu AB. Ibu harus minta tolong pada siapa lagi?”
“Memangnya ayah Kian kemana bu?”
“Ayah Kian sudah meninggal waktu Kian masih kecil.”
Aku begitu menyesal telah bertanya seperti itu. Ibu Kian menangis dan terus menangis. Aku baru sadar bahwa golongan darahku juga O. Kemudian ku putuskan untuk mendonorkan darah ini untuk Kian. Alkhamdulillah darah kami cocok. Akhirnya Kian bisa selamat.
Keesokan harinya aku kembali menjenguk Kian. Sesampainya aku di rumah sakit, ku lihat Kian telah sadarkan diri. Ucap syukurku dalam hati atas semua anugerah Tuhan. Kian menyambut kedatanganku dengan senyum manisnya.
“San, makasih ya atas semuanya. Kenapa sih kamu baik banget ama aku?” anya Kian dengan pertanyaan yang sedikit mengejutkanku.
“Ya karena kamu sahabatku. Because you are my best friend, jadi sudah seharusnya aku baik ama kamu.”
Sebenarnya bukan itu yang ingin ku katakana. Tapi mungkin itu kata-kata yang tepat yang harus ku ucapkan. Setiap aku melakukan sesuatu untuk Kian, entah mengapa Kian selalu bertanya alasan mengapa aku sangat baik padanya? Mengapa aku selalu ada setiap dia membutuhkanku. Dan aku selalu saja menjawab dengan jawaban yang sama. Tapi kali ini Kian terlihat tak puas dengan jawabanku. Sorot matanya sangat tajam seperti memaksaku untuk berkata jujur, tapi aku tak bisa.
“San, kenapa sih setiap aku tanya kenapa kamu selalu baik ama aku, kamu selalu jawab dengan jawaban yang sama? ‘because you are my best friend’ selalu itu yang kamu katakana. Kenapa San?” tanya Kian dengan sedikit nada yang meninggi dan memaksa.
“Memangnya aku mesti jawab apa?”
“Ya kamu bilang kalau kamu…. Kamu kasihan kek ama aku? Atau alasan yang lain kek, atau apa?”
“Kasihan? Kamu pengen aku bilang gitu? Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu! Udahlah nggak penting!”
“Nggak penting kamu bilang?”
“Kok kamu nyolot gitu sih? Ah, pusing!!” kataku sambil membentak Kian. Kemudian aku pergi meninggalkan Kian yang sedang menangis. Sebenarnya aku tak tega meninggalkannya sendirian. Ah, sudahlah! Lagi pula semua ini terjadi karena Kian yang memulainya. Kejadian itu membuat aku dan Kian makin jauh.
Suatu hari ibu memberitahuku bahwa kami sekeluarga akan pindah ke Bandung karena ayah harus pindah kerja ke Bandung. Ibu segera mengurus surat pindahku. Aku tak sempat memberitahu Kian soal ini. Aku pergi tanpa menyelesaikan kesalahpahaman antara aku dan Kian. Sejak saat itu aku tak pernah lagi bertemu dengan Kian. Aku harus menjalani hari-hariku tanpa Kian.
12 tahun kemudin….
Meskipun sudah lama sekali ku jalani lembaran demi lembaran kehidupan tanpa Kian dan aku selalu berusaha tuk menghapusnya dari hatiku, tapi tetap saja aku tak bisa melupakannya. Meskipun kini aku sudah bertunangan dengan seorang wanita pilihan keluargaku dan sebentar lagi kami akan menikah. Aku dijodohkan dengan Saras yang tak lain adalah teman masa kecilku dulu. Tapi sebenarnya aku sama sekali tak mencintainya meskipun selalu saja ku coba untuk belajar mencintainya.
Hari ini aku di suruh menjemput Tiara, keponakan Saras di TK. Tapi ketika aku sampai di sana ternyata aku terlalu awal. Seharusnya setengah jam lagi aku baru menjemput Tiara. Dan ketika aku sedang berkeliling melihat-lihat keadaan TK, tiba-tiba ku dengar suara lembut seorang wanita memanggilku.
“Sandi? Kamu Sandi kan? Ini aku Kian.”
“Kian? Sudah lama sekali kita nggak ketemu. Gimana kabarmu?”
“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja. Oh ya, maafkan aku soal yang waktu itu. Tak seharusnya aku dulu begitu.”
“Sudahlah, kamu nggak salah. Aku yang salah. Kian, aku ingin jujur. Sebenernya alasan yang paling tepat untuk menjawab pertanyaanmu waktu itu, kenapa aku selalu baik ama kamu itu karena aku sayang ama kamu, karena aku cinta ama kamu. Because I Love you. Tapi aku tak pernah bisa jujur. Maafkan aku.”
“Kenapa baru sekarang kamu bisa jujur? Kenapa?”. sorot mata Kian memancarkan kesedihan yang begitu mendalam. Sepertinya dia juga merasakan apa yang ku rasa. Kami terdiam tanpa bisa berkata sedikitpun. Suasana menjadi hening, sangat hening. Tapi keheningan itu pecah seketika saat seorang anak kecil berlari mendekati kami.
“Mama, ayo kita pulang!” pinta anak kecil itu sambil menarik-narik tangan Kian.
“Ini anakku San. Aku dijodohkan oleh keluargaku. Suamiku sangat baik dan begitu mencintaiku. Aku bahagia, sangat bahagia.” tutur Kian dengan nada yang sangat lirih.
“Aku turut bahagia mendengarnya. Oh ya, 1 minggu lagi aku akan menikah. Kamu datang ya!”
“Ya. Aku pasti datang.”
Kian pergi dan aku hanya bisa memandanginya dari belakang. Terus saja aku memandanginya hingga tak terlihat lagi. Rasa lega karena aku telah jujur tentang perasaanku yang sesungguhnya pada Kian, meskipun kini Kian telah bahagia dengan kehidupan barunya. Akupun sebentar lagi akan memulai kehidupan baruku. Biarlah semua cerita antara aku dan Kian terkubur dalam-dalam di hatiku. Yang lalu biarlah berlalu dan kini aku harus menyongsong masa depanku bersama Saras. Meskipun di hati ini masih ada Kian, tapi aku akan mencoba menghapusnya perlahan. Dan aku akan terus berusaha untuk bisa mencintai Saras. Aku yakin bahwa aku pasti bisa menjalani ini semua.

sajen "canang" depan pintu

Payung yang kusandarkan di bahu tak mampu melemahkan terik mentari siang ini. Begitu juga kerudung lebarku, sepertinya benda ini tak dapat menahan panas yang menusuk-nusuk tubuh. Rasa capek setelah jalan berkilo-kilo serta menuruni bebukitan terjal, semakin memberatkan langkah kaki. Air mengalir di sungai kecil yang memutus jalan, mengundangku untuk merasakan kejernihannya. Ya, lumayan dapat mengusir kepenatan yang kurasakan.
Adegan seperti ini harus kujalani sebulan sekali, yaitu ketika uangku sudah habis dan harus membayar kost. Biasanya di kampung yang jaraknya lima belas kilo meter dari kota itu, Emak telah menyiapkan sejumlah uang untukku dari hasil kebun dan ternak. Alhamdulillah, sampai sekarang aku masih dapat bertahan menjadi mahasiswa semester tujuh di Fakultas Sastra.
“Horeee… Mbak Ajeng pulaaang,” sorak anak-anak yang sedang mandi di sungai sebelah barat kampung. Mereka berlarian mendekatiku. Di kampungku, untuk ukuran anak-anak seusia mereka, mandi di sungai tanpa berpakaian adalah suatu hal yang biasa. Namanya juga anak kampung, apalagi usia mereka yang rata-rata baru enam tahun. Tau apa bocah-bocah kecil ini tentang persoalan tujuh belas tahun ke atas? Jadi apa yang mereka lakukan adalah hal yang biasa saja.
Wajah polos mereka lucu-lucu. Tawa anak-anak ini mengembalikan ingatanku semasa kecil. Dan sungai itu, sungai yang memandikanku setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Lagi-lagi cerita khas orang kampung. Sungai itu sangat berarti bagi kami, dari mandi, nyuci pakaian, nyuci beras sebelum dimasak, buang air, bersuci, sampai memandikan hewan ternak. Multi fungsi, kan? Eh, satu lagi, untuk irigasi sawah sekitar sungai.
Aku tak dapat menahan senyum ketika ingat waktu itu pernah dikejar-kejar Mbah Karto. Kami berlima selesai mandi. Sawah Mbah Karto pagi itu sedang dibajak. Rudi dan Ratih melihat Mbah Karto menaruh sajen di muara sungai yang mengairi sawahnya. Namanya anak kecil, kami berlima sepakat untuk mengambil ingkung, setandan pisang, telur rebus dan uang receh yang ada di sajennya Mbah Karto. Eh, ternyata Mbah Karto menguntit aksi kami. Hasilnya kami dapat omelan dan lari berhamburan sampai Rizal belepotan kecebur di lumpur.
“Mbak, kok pulang? Mau nonton wayang, ya?” Tanya Dewi yang juga masih sepupuku. Tatapannya polos. Sedikit Lumpur yang menempel di pipinya, pasti itu berasal dari kerbau yang ia mandikan. Memandikan hewan ternak adalah hal yang biasa dilakukan anak-anak di kampung kami. Lagian, anak pelosok macam mereka, tahu apa sama permainan modern yang lagi tren untuk anak seusianya di kota. Makanya wayang yang diadakan setahun sekali itu sangat ditunggu-tunggu oleh anak-anak kampung.
“Lho, rumah Mbak Ajeng kan sini, masak ndak boleh pulang?” Jawabku sambil senyum. Sebenarnya sih aku juga suka wayang, terutama tentang ajarannya yang sarat dengan nilai moral. Selain itu, alasanku untuk menyukainya adalah musiknya yang tidak asing di telingaku. Dulu waktu aku kecil, bapak sering mendengarkan wayang dari radio semalaman, sampai-sampai kalau tanpa suara wayang aku tak bisa tidur.
Lain cerita dengan alasan orang-orang kampung nanggap wayang kali ini, tiap tahun bahkan. Orang-orang di kampungku masih kolot, mereka masih percaya dengan hal-hal yang bersifat tahayul. Tiap tahun masih ada tradisi Merti Desa. Nanggap wayang tentu saja tidak boleh dilupakan. Katanya kalau tidak dilakukan, orang sekampung bisa kena pagebluk. Yang membuatku heran, hari gini kok masih percaya sama gituan, bahkan belum ada yang berani mengikis kepercayaan itu.
Tiap diadakannya acara merti desa seperti ini, suasana kampung rasanya beda banget. Ketika masuk sebelah barat desa, sudah ditemui daun-daunan yang menghiasi gapura. Buah-buahan semacam setandan pisang, kelapa yang masih utuh, padi, jagung, batangan tebu serta lainnya, juga ada di sana. Selang beberapa rumah setelah gapura, kebetulan rumah Mbah Lurah di situ, adalah tempat nanggap wayang.
Meski acara masih besok pagi, namun orang-orang telah ramai berlalu-lalang di sekitar rumah Mbah Lurah. Beberapa orang terlihat sedang menggotong lesung. Jangan dibayangkan kalau lesung ini mau buat menumbuk padi. Benda itu besok akan dipukul beberapa kali ketika upacara ritual telah dimulai. Ketika terdengar suara lesung itu, maka orang sekampung dari yang tua, muda, besar, kecil, laki-laki, perempuan, semuanya akan keluar rumah untuk ikut beramai-ramai memburu tupai. Bagi para perangkat desa, ketika mandengar pukulan lesung maka mereka akan bergegas untuk memburu burubg gelatik. Jika buruannya telah diperoleh, maka lesung akan kembali dibunyikan. Maka orang-orang akan berbondong-bondong datang ke rumah mbah lurah untuk membawa sesaji.
Nduk, kok kadingaren masih jam dua sudah sampai rumah?”
“Iya, Mak. Tadi cuma ada satu mata kuliah. Bapak ke mana, Mak?”
“Ndak tahu, tadi juga tidur di kursi depan. Oh, iya. Mungkin bapakmu ke sawah nyari alang-alang dan daun dadap srep.”
“Siapa yang sakit perut, Mak?” Tanyaku. Dulu waktu kecil kalau perutku kembung biasanya dikasih daun dadap srep dicampur kapur sirih terus ditempel di pusar.
“Ndak ada, mau dibuat sajen wayang,” jawab emak sambil mengangkat bermacam-macam bentuk ketupat dari panci. Aku heran juga, sejak kapan bapak mulai percaya sajen?
“Lha ketupatnya itu juga buat sajen, Mak?”
“He eh, Mbah Lurah tadi pagi kemari, katanya bapakmu suruh buat lima macam ketupat, sego gureh, sego karak, sego golong, ingkung, gimbal, daun dadap srep, daun alang-alang dan daun opo-opo. Mbuhlah apalagi, Emak sampai lupa saking banyaknya.
“Bapak mau?”
“Ya mau, lha ini…”Entah apa kata Emak, aku sudah tak dengar lagi. Rasanya aku ingin cepat-cepat ketemu Bapak dan menginterogasinya.
“Wak, lihat Bapak tidak?” Tanyaku pada Wak Sani.
“Iya, Bapakmu di sawah dekat kuburan.” Setelah mendengar jawaban itu aku buru-buru lari ke sawah dekat kuburan.
“Paaak, Bapak lagi nyari apa?” Seruku.
“Eh, kamu to, Nduk. Sudah dari tadi pulangnya?”
“Baru saja, Pak. Buat apa Bapak nyari daun seperti ini?” Tanyaku sambil menenteng salah satu daun yang dipetik Bapak. Beliau tak menjawab pertanyaanku sebab beliau tahu jika aku tidak setuju dengan semua itu. Bapak pun sebenarnya tidak setuju dengan sajen tetek bengek seperti ini. Tapi kok sekarang pakai sajen segala, ketularan Mbah Lurah barangkali.
“Tadi pagi Mbah Lurah ke rumah. Beliau menyuruh Bapak menyiapkan semua ini,” jelas Bapak sambil duduk di atas daun yang tadi dikumpulkannya.
“Kok Bapak mau sih? Kata Bapak kalau kita percaya hal-hal semacam ini namanya syirik,” kataku sedikit menghakimi.
Nduk, bukannya Bapak berubah prinsip. Sekarang ini Bapak kan modin, bawahannya Mbah Lurah, tentu saja apa-apa harus nurut sama Mbah Lurah.”
“Terus Bapak ndak nurut sama perintah Allah, begitu?”
“Ya tidak to, Nduk. Allah itu yang pertama dan paling utama.” Bapak menyangkal tuduhanku sambil menghela nafas panjang. Sesaat kemudian bapak melanjutkan ceritanya,”tadi itu Mbah Lurah ke rumah. Beliau menyuruh Bapak menyiapakan dua puluh tujuh macam benda untuk sajen nanggap wayang. Sebetulnya tadi Bapak sudah berusaha nego, Bapak milih ngasih uang saja biar orang lain yang menyiapkan. Eh, malah Mbah Lurah marah-marah ndak karuan, katanya kalau bukan Mbah Modin yang membuat bisa dadi gawe, roh yang nunggu punden bisa ngamuk. Akhirnya Bapak iyakan saja permintaan Mbah Lurah. Bukannya Bapak takut kalau setan punden ngamuk, tapi Bapak tidak mau ada keributan Mbah Lurah ngamuk gara-gara Bapak. Kalau itu terjadi, orang sekampung bisa geger nanti,” kata bapak mengakhiri ceritanya dengan terkekeh.
“Berarti Bapak tidak ngasih sajen wayang tapi nyajeni Mbah Lurah?”
“Ya iya, he he… Memang hidup di masyarakat itu sulit, Nduk. Tidak semudah teori yang kamu dapat di kampus. Kita harus pintar benar bawa diri agar tetap dianggap ada oleh orang lain.
“Pak, lha itu daunnya kok diduduki, apa Bapak tidak takut kualat?” Tanyaku menggoda bapak.
Hasbunallah wa ni’mal wakil,” kata beliau sambil menarikku untuk berdiri.
Angin senja petang ini menerpa wajah-wajah yang ingin menjaga kedamaian di bumi-Nya.

tentang rasa

Biarkan aku pergi dari hidupnya..mungkin begini akan jauh lebih baik, aku akan baik-baik saja walau tanpa dia. Biarkan dia bahagia, maka aku juga akan bahagia. Semua rasa biar aku pendam, biar aku dan kau yang tahu tentang rasaku ini. Jangan beri tahu siapa pun tentang rasaku ini, karena itu sangat memalukan. Jika suatu saat dia tahu, yang pasti aku sudah tak berada di sisinya. Biarkan aku, kau, langit, udara, dan bumi ini yang tahu tentang rasa yang tak akan pernah terungkap. Mungkin akan terkubur slamanya. Kau janji padaku, berjanjilah padaku. Berjanjilah jika kau tak akan bicara pada siapa pun,” ucap Rani pada Tania.
“Tapi, apa yang harus aku katakan pada David? Apa aku harus membohonginya! Kau gila! Bagaimana bisa aku berbuat seperti ini?Tidak!! Aku tidak bisa lakukan hal gila ini!”.
“Tan, kau cukup katakan kau tak tahu aku dimana. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Aku tak bisa lakukan ini. Kau sangat bodoh! Kenapa kau pendam rasamu itu.  10 tahun kau bersamanya,berteman dan bersahabat dengannya. Aku yakin bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama.“Kau salah…..Kau tak tahu apa-apa. Aku melihat dan mendengarnya sendiri, dia mencintai Cintya, teman semasa kecilnya. Gadis cantik yang amat baik,cerdas dan penuh kelembutan juga kaya. David lebih pantas mendapatkannya. Kau lihatlah aku! Aku hanya gadis sederhana, tak cantik dan aku juga bodoh, selama sekolah tak pernah mendapat peringkat 10 besar, dan slama kuliah,IP ku pun rendah. Aku iri! Kau tahu itu, sakit, aku sangat sakit!”
Di teras rumah Tania, mereka bicara tentang rasa yang selama ini tak terungkap. Dengan air mata dan emosi dari jiwa, mereka saling berteriak.Tapi Tania luluh akan perkataan Rani. Ia hanyut. Ia mememeluk Rani dengan penuh kesedihan.
“Haruskah kau pergi demi mereka?”.
Rani mengangguk.
“Jaga rahasia ini”.
”Kemana kau akan pergi?”
“Aku pulang ke rumah peninggalan orang tuaku.Aku akan tinggal disana,dan mungkin menetap.Aku titip mereka.”
Rani pun pergi dengan kesedihan air mata cinta. Sepuluh tahun ia memendamnya, tak ada yang tahu, betapa tersiksa hatinya.
Di stasiun, Rani duduk menunggu keretanya. Ia masih bersedih menangisi ini semua. Ia memeluk sebuah foto dirinya bersama David dan keluarganya. Mengingat setelah orang tuanya meninggal 10 tahun yang lalu ia tinggal serumah dengan David. Kebersamaan itu sulit ia hapus dari ingatannya. Ia terus dan terus terisak dengan rasa sakitnya.
Di rumah, David berteriak memanggil Rani. Mencari kesana kemari. Namun tak ditemuinya.
Akhirnya ia menemukan sebuah surat di sela-sela buku yang sering ia baca.
Maafkan aku David.Sepertinya aku harus pergi.Aku merasa sudah terlalu merepotkanmu dan keluargamu.Aku sayang dengan kalian semua.Tapi aku harus pergi.Aku tak bisa lebih lama lagi tinggal disini.Lagi pula,aku sudah capek setiap hari harus kau ganggu terus.Sekarang sepertinya ada Cintya,kau bisa ganggu dia! Sekali lagi maafkan aku.Aku sayang kalian juga kau David, dan hutangku waktu itu, 40 rb sudah aku lunasi.Ini ada uang 50 rb,kembalinya ambil aja.sudah, jangan menangis! Aku akan baik-baik saja.Kau tau kan kalau aku bisa melakukan semua hal walau pun itu terkadang salah.Iya,aku tahu,kebanyakan salahnya, tapi aku bisa jaga diri.Kau tenang saja. Salam buat tante,om dan bi Inah ya.Selamat tinggal. Aku akan merindukan kalian. Terimakasih untuk  semuanya.
Jangan cari aku..
Tertanda Rani
David tercengang membacanya. Air matanya mengalir deras. Ia menggenggam surat itu penuh kesedihan.sepintas ia mengingat Tania.”Tania,pasti dia tahu.”ucapnya dalam hati. Ia lalu mengambil langkah seribu.David menuju rumah Tania dengan membawa mobil berkecepatan tinggi.
Sampai di rumah Tania ia berteriak memanggil Tania.”Tania!!”.Tania keluar dan terkejut melihat David dengan amarahnya dan kesedihan yang berlebih.
“Kenapa,Vid?” wajahnya menjadi pucat tegang.
“kau pasti tahu. Rani! Dimana Rani? Katakan padaku!”
“Aku…aku tidak tahu dimana dia.”
“Bohong! katakan yang sebenarnya atau aku bisa berbuat nekat!”
“apa maksudmu?”
“(mengambil sebilah pisau) kau tahu apa ini? aku akan mengiris nadiku jika kau tak memberi tahu!”
“David, tenanglah. Jangan seperti ini!”
“Cepat katakan!”
“Stasiun, dia akan pergi ke rumah peninggalan orang tuanya. Jika kau menyusul, aku ikut! Aku ingin memberi tahumu sesuatu.”
Mereka pun memasuki mobil. Dalam perjalanan, Tania bercerita tentang perasaan Rani selama sepuluh tahun terpendam.
Seouluh tahun yang lalu..
Rani datang di rumah David dengan kesedihan atas meninggalnya orang tuanya. Kemudian David menggandengnya dan mengajaknya bermain. Mereka tertawa bersama dan Rani sangat gembira. Semenjak itu Rani jatuh cinta pada David. Saat masuk SMA,David selalu di sisi Rani, tak pernah lepas sedikit pun. Mereka selalu bersama setiap saat. Suatu hari Rani jatuh sakit, dan Davidlah yang merawatnya dengan penuh kelembutan. Saat mereka duduk di bangku kuliah, setahun yang lalu, Cintya datang. Rani merasa David lebih sering bersama gadis itu, dan dari situlah Rani menjadi iri pada gadis yang cantik, kaya dan perfect seperti dia. Suatu saat, dia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya, namun ia mendengar percakapan antara David dan Cintya.
“Kau itu gadis yang cantik..sempurna dan sangat perfect….”
Rani kecewa, dan langsung mengengahkan perasaannya itu. Ia terpuruk dalam kesediahannya, dan setelah itu ia tidak lagi memperdulikan hatinya. Rani memutuskan pergi untuk David dan Cintya.
“Apa? Jadi Rani? Bodoh! Dia memang gadis bodoh! Apa dia tidak tahu perasaanku, dan waktu pembicaraan itu, dia hanya mendengarnya sebagian.”
“Sebentar..jadi kau suka, cinta dan sayang dengan Rani bukan Cintya?”
“Iya..dari dulu aku menyukainya. A ku sangat dan sangat menyayanginya.”
Beberapa minggu yang lalu saat David dan Cintya bercakap-cakap.
“kau itu gadis yang cantik dan sempurna. Tapi aku hanya suka dan sayang dengan satu orang. Kau tahu dia siapa?”
“Rani, iya kan?”
“Ya. Dia tak seperti gadis lain. Kesederhanaannya, kelembutannya, tawanya, cemasnya, marahnya, semuanya aku suka. Aku tak tahu jika aku kehilangan dia, mungkin aku hancur, karena dia adalah sebagian dari nafasku. Dia semangatku, dia hidupku.”
“Rani sangat beruntung mendapatkan cinta darimu. Aku akan mundur, karena bagiku aku bisa mendapatkan siapa pun kecuali kau.”
Rani masih duduk menunggu kereta datang. Sesekali ia berharap David akan datang dan mencegahnya pergi. Disisi lain David yang menyetir mobil melaju hingga kecepatan maksimum dan Tania berusaha menenangkannya agar tak gegabah.
Sesampai di Stasiun, David langsung berlari kedalam. Sesekali ia mengusap air matanya yang terjatuh dan Tania berlari di belakangnya, berusaha mengejarnya. Kemudian langkah mereka terhenti. David kebingungan kemana dia akan melangkah.
“Kemana dia akan pergi? Tania,kau tahu?”
“Untuk yang ini aku tak tahu. Aku bersungguh-sungguh.”
“oh ya.Ayah pernah bilang kalau Rani berasal dari Semarang.mungkin dia akan kesana.”
David segera berlari ke gerbong tujuan Semarang. Ia berteriak-teriak memanggil nama Rani.
“Rani!!Rani!!”
Rani merasa ada yang memanggil namanya.Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari orang itu. Ia tahu itu suara David,  dan waktu yang bersamaan pula, datanglah kereta itu.
Rani berdiri dan mengangkat barang-barangnya. Ia berjalan menuju kereta. Lalu ia mendengar lagi suara itu yang semakin keras terdengar. Satu langkah ia memasuki kereta, tiba-tiba terdengar suara David yang terdengar sangat jelas ditelinganya.
“Rani..berbaliklah dan tataplah aku.”
Tubuh Rani menjadi kaku dan lemas. Ia hanya bisa mengusap air matanya yang jatuh menetes. Ia tak bisa berbalik untuk menatap David. Ia masih takut dengan hatiny.
“Rani!! sekali ini,tataplah mataku.lihatlah hatiku. Jangan seperti ini. Kau tahu, kau telah menyiksa batinku. Kau hanya salah paham dengan Cintya.”
“Aku tak peduli dengan Cintya!!! Terserah kau akan melakukan apapun. Terserah!!! aku sudah tak sanggup lagi. Aku terlalu lelah mencintaimu! Kau tahu!”
“Jangan pernah kau lelah mencintaiku. Aku tak sanggup mendengarnya. Rani, aku tahu. Aku terlalu banyak diam dan mendiamkan perasaanku, seolah-olah aku tak mencintaimu.Tapi asal kau tahu, aku sangat mencintaimu melebihi diriku sendiri. Aku rela melakukan apapun asal kau baik dan tersenyum. Bahkan, jika kau menginginkanku mati, aku sanggup mati untukmu. Asalkan saat itu aku mati dipelukmu.”
“Hentikan David!! hentikan!”
“Aku tak akan berhenti selama kau belum keluar dari kereta itu dan menatapku.”
Rani langsung berlari menuju David dan memeluknya erat. Rani menangis dalam dekapan hangat David.
“Kau tahu, aku hampir mati saat kau pergi. Jangan seperti ini lagi. Kau telah membuatku ketakutan.”
“David, maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu takut. Aku pikir kau dan Cintya.”
“Tak ada hubungan apapun diantara kami. Cintya juga tahu kalau satu-satunya cintaku adalah gadis bodoh ini.”
“David, tetaplah seperti ini. Jangan pernah tinggalkan aku walau sedetikpun. Tetaplah di sisiku, jangan pernah kau membuatku takut dan cemas akan perasaan ini. Kau tahu aku sangat mecintaimu, tapi sering aku berpikir aku tak layak untukmu.”
“usssstttt, jangan sekali-kali kau katakan kau tak pantas untukku. Karena bagiku, kau adalah gadis yang paling cocok untukku. Kau tau kenapa? karena di dunia ini tak ada gadis bodoh selain kau.”å

bunga-bunga rumput senja

Senja tinggal segaris siluet oranye di ufuk barat. Beberapa ekor bangau berarak pulang ke sarangnya nun jauh di dalam hutan. Mobil yang membawanya meluncur dengan ringan di atas jalan beraspal. Bona membuka sedikit jendela mobil untuk merasakan belaian udara sore ini. Riak-riak air danau Toba berkilauan ditimpa cahaya senja yang tinggal samar-samar. Dia merasakan suasana yang telah lama dirindukannya. Masih memandang ke luar, bersama buaian senja, lagu Guardian Angel miliknya The Red Jumpsuit Apparatus mengalun lembut dari mp3nya.
Pekatnya malam mulai turun, sementara perjalanan masih sangat panjang. Tiga atau empat jam lagi Bona masih harus duduk di dalam mobil ini. Dia duduk dengan sabar, memandangi hutan yang sudah mulai diam. Beberapa ekor monyet duduk dengan santainya di pinggir jalan, memandangi lalu-lalang di hadapannya. Harmoni alam yang indah, semua terjaga.
Sejenak Bona mencari-cari botol air minumnya yang entah dimana sekarang. Setelah dia menemukannya langsung diteguk air tersebut, dia merasakan kesegaran kembali mengalir di dalam tenggorokannya yang terasa kering bagaikan di gurun Sahara. Ada rasa hangat yang dari tadi bersembunyi di dalam dadanya. Kerinduan akan kampung halamannya sebentar lagi akan terobati, di lain sisi dia juga akan segera menemui mahkluk paling cantik yang telah berhasil mencuri kepingan hatinya.
Sambil menikmati pemandangan indah selama perjalanan, Bona kembali membuka lembaran-lembaran imajinasi. Gadis manis sahabat masa kecilnya selalu terbayang di otaknya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabat kecilnya itu. Sejenak dia mengira-ngira, kurang lebih sudah lima tahun. Tepatnya sejak Bona kuliah di Jawa. Selama itu, dia dan Velin, tidak pernah lagi berhubungan.
Seulas senyum menghiasi bibirnya yang merah dan sedikit kering. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan. Ada sejumput rasa bahagia yang meletup-letup dalam relung dadanya. Surpise yang indah telah disusunnya sejak jauh-jauh hari. Keyakinan dalam dirinya berkata bahwa kebahagiaan sesaat lagi akan bertemu dengannya.
Tiga jam kemudian, mobil travel yang membawanya tiba di sebuah kota kecil. Kota kelahiran sekaligus tempat Bona dibesarkan. Di kota kecil inilah dia mengerti kehidupan, dan disini lah tertinggal permata hatinya. Kebahagiaan tumpah ruah dalam dadanya, aroma sawah dan gunung langsung merasup masuk jauh kedalam tubuhnya. Suasana damai yang sudah lama dia tinggal pergi, dan sekarang dia kembali disapa aroma kehidupan kota kecil ini.
Gapura kecil bertuliskan “Horas, Selamat datang di Bona Pasogit Tarutung” menyambut kedatangan si anak rantau. Akhirnya sepuluh menit kemudian, mobil L300 itu memasuki sebuah gang kecil dan berhenti tepat di depan sebuah rumah papan yang sangat sederhana. Welcome Home, teriak Bona.
***
Bona terbangun dengan dua lembar selimut super tembal menutupi tubuhnya. Suara lonceng Gereja bertalu-talu dari gereja yang satu ke gereja yang lain. Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Sebenarnya Bona masih ingin membenamkan dirinya dalam selimut yang tebal itu, namun aroma kopi yang khas tiba-tiba menyeruak dalam lobang hidungnya. Segera dia bangkit dari tempat tidur dan melipat selimut.
Udara di luar masih sangat berkabut. Bona tidak berani mandi, untuk cuci muka pun dia harus pakai air hangat. Udara di kota kecil itu memang sangat dingin. Sambil mendengarkan berita pagi, Bona duduk dengan santai menikmati Tarutung pagi itu.
“Mau kemana hari ini?” Tanya mamak.
“Mau ke dolok (gunung) dulu lah mak.” Jawab Bona sambil menyeruput kopi hitamnya.
“Ngapain kau ke sana, gak ke rumahnya si Velin dulu kau? Udah ditanya nantulang (bibi) itu kau kemarin.” Kata mamak.
“Gampang lah itu. Mau buat kejutan aku nanti, tapi gak mamak bilangkan sama nantulang itu aku mau pulang?”
“Tapi kemarin kau bilang gak boleh mamak bilang-bilang ke orang kalau kau mau pulang.”
“Ok lah kalo kek gitu mak, udah mantap lah itu.”
“Jam berapa nanti kau ke dolok?”
“Agak siangan lah, dingin kali pun.”
“Ya udah lah, kau kunci lah nanti rumah ya. Mamak nanti pulang jam dua.”
Bona memandang ke arah Dolok Martimbang yang berdiri dengan angkuh di barat daya kota kecil itu. Siang ini Bona akan naik ke sana untuk satu tujuan, mencari bunga-bunga hutan. Dulu waktu kecil, Bona sering ikut orang tuanya ke kebun Kopi di lereng dolok Martimbang itu. Dia selalu memetik bunga-bunga hutan yang beranekaragam warnanya. Setelah dirangkai, bunga itu selalu diberikan kepada Velin, sahabat kecilnya itu.
Velin sangat senang mendapatkan buket bunga-bunga hutan itu. Sehingga setiap kali Bona ke kebun, pasti selalu membawakan bunga-bunga tersebut. Mereka sendiri tidak tahu nama dari bunga-bunga itu, sampai sekarang mereka pun tidak tahu, hingga akhirnya mereka sepakat untuk menyebutnya bunga-bunga rumput. Karena menurut mereka, bunga-bunga itu hanya dianggap sebagai rumput oleh sebagian besar orang, padahal bunga-bunga tersebut sangat lah indah. Beranekaragam warna, ada yang ungu, merah jambu, hijau, kuning dan lain sebagainya.
Siang ini, Bona berencana untuk memetik beberapa bunga-bunga rumput ke dolok. Dia ingin memberikan bunga-bunga itu untuk Velin. Malam ini dia ingin menghadiri pesta ulang tahun Velin yang ke-23 tahun, sekaligus ingin menyatakan isi hatinya yang selama bertahun-tahun dia simpan rapi untuk Velin. Sebuah kejutan yang telah direncanakan. Sampai Bona harus bolos tiga hari dari kampus hanya untuk itu.
***
Tepat saat matahari di atas kepala, dia telah memetik beberapa bunga-bunga rumput yang tumbuh dengan liar di lerengdolok Martimbang. Teriknya matahari siang ini tidak mampu mengusir udara dingin yang masih sangat menusuk tulang, bahkan di puncak dolok Martimbang, kabut tebal masih menyelimuti. Pohon-pohon pinus menari-nari seirama dengan tiupan angin gunung yang lembab. Diayunkannya langkahnya menuruni lereng gunung yang cukup terjal dan licin.
Sesampainya di rumah, Bona langsung merangkai satu persatu bunga-bunga tersebut menjadi sebuket bunga yang cukup indah. Bona cukup terampil dalam merangkai bunga. Kombinasi aneka warga dari bunga-bunga tersebut tampak serasi. Bunga-bunga hutan yang liar lebih sering dianggap rumput pengganggu oleh sebagian orang, kini di tangan Bona bunga itu berubah menjadi buket bunga yang tampak mewah dengan aneka warna.
Waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB. Kembali lonceng Gereja sahut-sahutan mengisi angkasa sore itu. Bona bersiap-siap meluncur ke rumah Velin. Semuanya sudah dipersiapkan, dia yakin bahwa malam ini, dia akan mendapatkan permata hatinya. Sesekali dia melihat bayangan dirinya di dalam cermin, untuk meyakinkan dirinya bahwa semuanya sudah sempurna.
Tepat pukul 18.30 WIB, Bona mengendarai sepeda motornya ke rumah Velin yang hanya berjarak beberapa gang dari rumahnya. Dia bawa perlahan, takut hembusan angin malam akan mengacak-acak dandanannya yang sudah sangat rapi. Sambil menikmati udara malam yang sangat menusuk, sesakali tampak Bona melirik kaca spion. Tak lama kemudian, dia tiba di depan sebuah rumah yang cukup megah, dengan pot-pot bunga menghiasi halaman rumah. Beberapa sepeda motor memadati halaman. Tampaknya tamu-tamu sudah banyak yang datang.
Perlahan Bona memarkir motornya di sudut halaman, sambil berjalan pelan-pelan seperti maling dia masuk ke dalam terus ke halaman belakang yang menjadi tempat pesta ulang tahun. Dia berdiri dalam barisan paling belakang. Udara malam itu cukup cerah. Lautan bintang menghiasi angkasa dengan bulan purnama yang hampir bulat sempurna. Sungguh pesta yang sempurna.
Bona mengenali beberapa orang yang hadir di pesta itu. Namun sebisa mungkin Bona menghindari beberapa teman yang mengenalnya. Dia tidak ingin ada orang yang mengenalnya mengetahui keberadaannya dalam pesta ini. Dia ingin menunjukkan diri saat Velin hendak meniup lilin, seperti kedatangan seorang ksatria yang menolong seorang putri pada saat yang sangat genting. Bona benar-benar telah merencanakan itu.
Tak berapa lama, Velin muncul dengan balutan gaun ungu muda. Warna kesukaan Bona. Hatinya berbunga-bunga, jangan-jangan Velin telah mengharapkan kedatangannya. Dia pun berdiri sambil matanya tetap mengawasi para tamu undangan.
Lima menit kemudian, oleh MC hadirin dimohon untuk tenang. Acara akan segera dimulai. Bona berfikir, inilah saat nya. Sambil konsentrasi pada acara, dia menghitung-hitung saat yang tepat untuk menunjukkan dirinya. Namun tiba-tiba wajahnya tegang dan rona wajahnya berubah. Hatinya tiba-tiba mendung. Seorang cowok yang cukup ganteng berdiri di sebelah kanan Velin. Namun cepat-cepat dia menghibur hatinya, mungkin dia sepupu atau temannya Velin.
“Thank’s banget buat teman-teman yang sudah datang ke pesta ini. Semuanya kenalkan, ini Raja, pariban ku.” Kata Velin sambil menggandeng tangan kanan cowok itu. “Doakan ya teman-teman, bulan depan rencananya kami akan martumpol(tunangan).” Tambahnya.
Degg… Tiba-tiba Bona merasakan kedua lututnya bergetar. Seakan-akan kakinya sudah tidak mampu untuk menopang tubuhnya. Ternyata dia salah, Raja adalah calon suami Velin. Tak ada lagi yang dapat dia lakukan. Dia tidak mengetahui apapun tentang Velin selama lima tahun mereka berpisah.
Dia memutar langkah menjauh dari pesta. Bintang-bintang dan rembulan memandang prihatin kepadanya. Semuanya berbahagia kecuali dia. Buket bunga-bunga rumput itu dia letakkan di atas meja di ruang tengah rumah Velin. Kemudian dia mengambil motornya di sudut halaman. Hatinya tiba-tiba sepi. “Haruskah dia bersedih hati saat sahabatnya sedang bersukacita?” Runtuknya dalam hati.
Dia tidak ingin langsung pulang ke rumah. Malam ini dia ingin melepaskan semua kepenatannya. Dia tidak ingin membawa serta kepedihannya kembali ke pulau Jawa. Tak ada air mata, walaupun hatinya meratap. Disusurinya jalan-jalan kota kecil yang mulai sepi. Hatinya galau dan pikirannya bercampur aduk. Tak tahu dia mau kemana, motornya dipacu semakin kencang. Tiba-tiba motor tua itu hilang kendali. Remnya tidak berfungsi, dan akhirnya jatuh masuk ke dalam jurang yang di dasarnya terdapat sawah.
***
Tamu terakhir baru saja pulang. Beberapa orang petugas catring membereskan sisa-sisa pesta. Velin masuk ke dalam rumah sambil menggandeng Raja. Tiba-tiba matanya melihat sesuatu di atas meja ruang tamu.
“Ma… mama baru beli bunga ya?” tanyanya ke mama yang sedang duduk di depan tivi.
“Enggak.” Jawab mamanya.
“Trus ini bunga dari mana?” Tanya Velin sambil mengerutkan keningnya. Tiba-tiba matanya terbelalak. “Ma… Bona ke sini ya?”
“Mama gak liat. Emang kenapa inang?”
“Bunga ini ma, pasti dari Bona. Dia pasti ke sini.” Kata Velin lagi.
“Tadi kau liat gak dianya?” Tanya Raja.
“Gak sih, tapi aku yakin dia pasti datang. Tapi gak ketemu sama aku? Aku telpon namboru itu dulu lah ma.” Kata Velin sambil mengambil handphone nya.
“Halo namboru, si Velinnya ini. Si Bona pulang ya namboru?”
“Loh bukannya udah ketemu kalian, tadi dia ke rumah mu bawa-bawa bunga. Katanya kau ulang tahun.” Jawab mamaknya Bona dari ujung telepon.
“Jadi pulangnya dia namboru, kami belum ketemu. Tapi ditinggilkannya bunga di sini. Di situnya dia namboru?”
“Belum pulang dia.”
“Oh, mauliate lah namboru. Besok lah aku datang ke rumah. Biar ku tokokkan dulu si lontong itu.” Kemudian Velin menutup teleponnya.
Setelah Raja pulang, Velin masuk ke kamarnya. Sebelum tidur dia membuka facebooknya. Sekedar menjawab ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya. Dia mendapatkan tag sebuah blog dari Bona. Rasa penasaran membuat Velin membuka blog tersebut. Ternyata blog pribadi miliknya Bona. Semua tulisannya berisi tentang Velin. Semuanya, tentang cintanya yang begitu besar kepada Velin. Tanpa sadar Velin meneteskan air mata. Dia tidak pernah menyadari bahwa Bona begitu mencintainya. Tiba-tiba dia merasa menyesal bertunangan dengan Raja. Ternyata dia juga merasa bahwa Bona juga adalah cinta pertamanya. Satu persatu tulisan itu dia baca. Semakin dia membaca semakin besar rasa bersalahnya. Tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Dia sangat mencintai Bona, tapi dia tidak ingin menyakiti hati Raja dan terlebih lagi dia tidak ingin mempermalukan keluarganya. Velin berada dalam posisi yang sangat sulit. Air matanya tumpah begitu saja tak dapat dibendung. Akhirnya dia tahu kenapa Bona tidak mau bertemu dengannya. Diciumnya bunga-bunga rumput yang ditinggalkan Bona tadi. Wangi bunga-bunga rumput itu membuatnya semakin merindukan Bona.
Tiba-tiba seseorang mengetok kamar Velin. Buru-buru dia menutup laptopnya sambil mengusap sisa-sisa air matanya.
“Tok…tok..tok… buka dulu inang.” Kata mama dari balik pintu.
“Masuk aja ma, gak dikunci kok.” Kemudian mamanya Velin masuk. Wajahnya sedikit mendung.
“Ada apa ma?”
“Bona inang, tadi nantulang itu nelpon mama. Katanya Bona meninggal jatuh ke jurang pas mau ke Salib Kasih.” Kata mamanya Velin sambil menghapus air matanya.
Velin hanya terdiam, tak ada yang dapat diucapkannya. Lidahnya beku. Dia hanya bisa menangis tanpa suara di pelukan mamanya. Baru saja dia menemukan cinta pertamanya. Sementara itu dia harus menerima kenyataan bahwa cinta itu sudah harus pergi tanpa pernah mendengar isi hatinya.
***
Velin masih berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih sangat baru itu. Salib putih bertuliskan, “Di Son Maradian, Bona Hasibuan” (Di sini beristirahat, Bona Hasibuan), membuat hatinya semakin kosong. Salib putih itu menjadi penanda jarak antara Velin dan Bona. Kini dalam gundukan tanah merah itu telah terbaring tubuh sahabat dan cinta pertama Velin. Berat sekali rasanya dia untuk meninggalkan tempat peristirahatan Bona yang terakhir ini. Di bawah pohon beringin ini, cinta itu telah terkubur.
Sebelum melangkah pulang, Velin berbisik, “Bon, dari sekian banyak cerita yang pernah kau ceritakan dulu, cerita ini tidak pernah kau ceritakan. Aku tak sanggup kehilangan mu, karena kau sangat berarti. Sekarang kau tidurlah yang tenang, aku lihat di sini tumbuh begitu banyak bunga-bunga rumput. Jaga lah itu untuk ku ya Bon. Semoga kau damai di sana ya sayang.” Kata Velin, sambil meletakkan buket bunga-bunga rumput yang terakhir dari Bona untuk nya.***