Saturday, 7 May 2011

bunga-bunga rumput senja

Senja tinggal segaris siluet oranye di ufuk barat. Beberapa ekor bangau berarak pulang ke sarangnya nun jauh di dalam hutan. Mobil yang membawanya meluncur dengan ringan di atas jalan beraspal. Bona membuka sedikit jendela mobil untuk merasakan belaian udara sore ini. Riak-riak air danau Toba berkilauan ditimpa cahaya senja yang tinggal samar-samar. Dia merasakan suasana yang telah lama dirindukannya. Masih memandang ke luar, bersama buaian senja, lagu Guardian Angel miliknya The Red Jumpsuit Apparatus mengalun lembut dari mp3nya.
Pekatnya malam mulai turun, sementara perjalanan masih sangat panjang. Tiga atau empat jam lagi Bona masih harus duduk di dalam mobil ini. Dia duduk dengan sabar, memandangi hutan yang sudah mulai diam. Beberapa ekor monyet duduk dengan santainya di pinggir jalan, memandangi lalu-lalang di hadapannya. Harmoni alam yang indah, semua terjaga.
Sejenak Bona mencari-cari botol air minumnya yang entah dimana sekarang. Setelah dia menemukannya langsung diteguk air tersebut, dia merasakan kesegaran kembali mengalir di dalam tenggorokannya yang terasa kering bagaikan di gurun Sahara. Ada rasa hangat yang dari tadi bersembunyi di dalam dadanya. Kerinduan akan kampung halamannya sebentar lagi akan terobati, di lain sisi dia juga akan segera menemui mahkluk paling cantik yang telah berhasil mencuri kepingan hatinya.
Sambil menikmati pemandangan indah selama perjalanan, Bona kembali membuka lembaran-lembaran imajinasi. Gadis manis sahabat masa kecilnya selalu terbayang di otaknya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabat kecilnya itu. Sejenak dia mengira-ngira, kurang lebih sudah lima tahun. Tepatnya sejak Bona kuliah di Jawa. Selama itu, dia dan Velin, tidak pernah lagi berhubungan.
Seulas senyum menghiasi bibirnya yang merah dan sedikit kering. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan. Ada sejumput rasa bahagia yang meletup-letup dalam relung dadanya. Surpise yang indah telah disusunnya sejak jauh-jauh hari. Keyakinan dalam dirinya berkata bahwa kebahagiaan sesaat lagi akan bertemu dengannya.
Tiga jam kemudian, mobil travel yang membawanya tiba di sebuah kota kecil. Kota kelahiran sekaligus tempat Bona dibesarkan. Di kota kecil inilah dia mengerti kehidupan, dan disini lah tertinggal permata hatinya. Kebahagiaan tumpah ruah dalam dadanya, aroma sawah dan gunung langsung merasup masuk jauh kedalam tubuhnya. Suasana damai yang sudah lama dia tinggal pergi, dan sekarang dia kembali disapa aroma kehidupan kota kecil ini.
Gapura kecil bertuliskan “Horas, Selamat datang di Bona Pasogit Tarutung” menyambut kedatangan si anak rantau. Akhirnya sepuluh menit kemudian, mobil L300 itu memasuki sebuah gang kecil dan berhenti tepat di depan sebuah rumah papan yang sangat sederhana. Welcome Home, teriak Bona.
***
Bona terbangun dengan dua lembar selimut super tembal menutupi tubuhnya. Suara lonceng Gereja bertalu-talu dari gereja yang satu ke gereja yang lain. Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Sebenarnya Bona masih ingin membenamkan dirinya dalam selimut yang tebal itu, namun aroma kopi yang khas tiba-tiba menyeruak dalam lobang hidungnya. Segera dia bangkit dari tempat tidur dan melipat selimut.
Udara di luar masih sangat berkabut. Bona tidak berani mandi, untuk cuci muka pun dia harus pakai air hangat. Udara di kota kecil itu memang sangat dingin. Sambil mendengarkan berita pagi, Bona duduk dengan santai menikmati Tarutung pagi itu.
“Mau kemana hari ini?” Tanya mamak.
“Mau ke dolok (gunung) dulu lah mak.” Jawab Bona sambil menyeruput kopi hitamnya.
“Ngapain kau ke sana, gak ke rumahnya si Velin dulu kau? Udah ditanya nantulang (bibi) itu kau kemarin.” Kata mamak.
“Gampang lah itu. Mau buat kejutan aku nanti, tapi gak mamak bilangkan sama nantulang itu aku mau pulang?”
“Tapi kemarin kau bilang gak boleh mamak bilang-bilang ke orang kalau kau mau pulang.”
“Ok lah kalo kek gitu mak, udah mantap lah itu.”
“Jam berapa nanti kau ke dolok?”
“Agak siangan lah, dingin kali pun.”
“Ya udah lah, kau kunci lah nanti rumah ya. Mamak nanti pulang jam dua.”
Bona memandang ke arah Dolok Martimbang yang berdiri dengan angkuh di barat daya kota kecil itu. Siang ini Bona akan naik ke sana untuk satu tujuan, mencari bunga-bunga hutan. Dulu waktu kecil, Bona sering ikut orang tuanya ke kebun Kopi di lereng dolok Martimbang itu. Dia selalu memetik bunga-bunga hutan yang beranekaragam warnanya. Setelah dirangkai, bunga itu selalu diberikan kepada Velin, sahabat kecilnya itu.
Velin sangat senang mendapatkan buket bunga-bunga hutan itu. Sehingga setiap kali Bona ke kebun, pasti selalu membawakan bunga-bunga tersebut. Mereka sendiri tidak tahu nama dari bunga-bunga itu, sampai sekarang mereka pun tidak tahu, hingga akhirnya mereka sepakat untuk menyebutnya bunga-bunga rumput. Karena menurut mereka, bunga-bunga itu hanya dianggap sebagai rumput oleh sebagian besar orang, padahal bunga-bunga tersebut sangat lah indah. Beranekaragam warna, ada yang ungu, merah jambu, hijau, kuning dan lain sebagainya.
Siang ini, Bona berencana untuk memetik beberapa bunga-bunga rumput ke dolok. Dia ingin memberikan bunga-bunga itu untuk Velin. Malam ini dia ingin menghadiri pesta ulang tahun Velin yang ke-23 tahun, sekaligus ingin menyatakan isi hatinya yang selama bertahun-tahun dia simpan rapi untuk Velin. Sebuah kejutan yang telah direncanakan. Sampai Bona harus bolos tiga hari dari kampus hanya untuk itu.
***
Tepat saat matahari di atas kepala, dia telah memetik beberapa bunga-bunga rumput yang tumbuh dengan liar di lerengdolok Martimbang. Teriknya matahari siang ini tidak mampu mengusir udara dingin yang masih sangat menusuk tulang, bahkan di puncak dolok Martimbang, kabut tebal masih menyelimuti. Pohon-pohon pinus menari-nari seirama dengan tiupan angin gunung yang lembab. Diayunkannya langkahnya menuruni lereng gunung yang cukup terjal dan licin.
Sesampainya di rumah, Bona langsung merangkai satu persatu bunga-bunga tersebut menjadi sebuket bunga yang cukup indah. Bona cukup terampil dalam merangkai bunga. Kombinasi aneka warga dari bunga-bunga tersebut tampak serasi. Bunga-bunga hutan yang liar lebih sering dianggap rumput pengganggu oleh sebagian orang, kini di tangan Bona bunga itu berubah menjadi buket bunga yang tampak mewah dengan aneka warna.
Waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB. Kembali lonceng Gereja sahut-sahutan mengisi angkasa sore itu. Bona bersiap-siap meluncur ke rumah Velin. Semuanya sudah dipersiapkan, dia yakin bahwa malam ini, dia akan mendapatkan permata hatinya. Sesekali dia melihat bayangan dirinya di dalam cermin, untuk meyakinkan dirinya bahwa semuanya sudah sempurna.
Tepat pukul 18.30 WIB, Bona mengendarai sepeda motornya ke rumah Velin yang hanya berjarak beberapa gang dari rumahnya. Dia bawa perlahan, takut hembusan angin malam akan mengacak-acak dandanannya yang sudah sangat rapi. Sambil menikmati udara malam yang sangat menusuk, sesakali tampak Bona melirik kaca spion. Tak lama kemudian, dia tiba di depan sebuah rumah yang cukup megah, dengan pot-pot bunga menghiasi halaman rumah. Beberapa sepeda motor memadati halaman. Tampaknya tamu-tamu sudah banyak yang datang.
Perlahan Bona memarkir motornya di sudut halaman, sambil berjalan pelan-pelan seperti maling dia masuk ke dalam terus ke halaman belakang yang menjadi tempat pesta ulang tahun. Dia berdiri dalam barisan paling belakang. Udara malam itu cukup cerah. Lautan bintang menghiasi angkasa dengan bulan purnama yang hampir bulat sempurna. Sungguh pesta yang sempurna.
Bona mengenali beberapa orang yang hadir di pesta itu. Namun sebisa mungkin Bona menghindari beberapa teman yang mengenalnya. Dia tidak ingin ada orang yang mengenalnya mengetahui keberadaannya dalam pesta ini. Dia ingin menunjukkan diri saat Velin hendak meniup lilin, seperti kedatangan seorang ksatria yang menolong seorang putri pada saat yang sangat genting. Bona benar-benar telah merencanakan itu.
Tak berapa lama, Velin muncul dengan balutan gaun ungu muda. Warna kesukaan Bona. Hatinya berbunga-bunga, jangan-jangan Velin telah mengharapkan kedatangannya. Dia pun berdiri sambil matanya tetap mengawasi para tamu undangan.
Lima menit kemudian, oleh MC hadirin dimohon untuk tenang. Acara akan segera dimulai. Bona berfikir, inilah saat nya. Sambil konsentrasi pada acara, dia menghitung-hitung saat yang tepat untuk menunjukkan dirinya. Namun tiba-tiba wajahnya tegang dan rona wajahnya berubah. Hatinya tiba-tiba mendung. Seorang cowok yang cukup ganteng berdiri di sebelah kanan Velin. Namun cepat-cepat dia menghibur hatinya, mungkin dia sepupu atau temannya Velin.
“Thank’s banget buat teman-teman yang sudah datang ke pesta ini. Semuanya kenalkan, ini Raja, pariban ku.” Kata Velin sambil menggandeng tangan kanan cowok itu. “Doakan ya teman-teman, bulan depan rencananya kami akan martumpol(tunangan).” Tambahnya.
Degg… Tiba-tiba Bona merasakan kedua lututnya bergetar. Seakan-akan kakinya sudah tidak mampu untuk menopang tubuhnya. Ternyata dia salah, Raja adalah calon suami Velin. Tak ada lagi yang dapat dia lakukan. Dia tidak mengetahui apapun tentang Velin selama lima tahun mereka berpisah.
Dia memutar langkah menjauh dari pesta. Bintang-bintang dan rembulan memandang prihatin kepadanya. Semuanya berbahagia kecuali dia. Buket bunga-bunga rumput itu dia letakkan di atas meja di ruang tengah rumah Velin. Kemudian dia mengambil motornya di sudut halaman. Hatinya tiba-tiba sepi. “Haruskah dia bersedih hati saat sahabatnya sedang bersukacita?” Runtuknya dalam hati.
Dia tidak ingin langsung pulang ke rumah. Malam ini dia ingin melepaskan semua kepenatannya. Dia tidak ingin membawa serta kepedihannya kembali ke pulau Jawa. Tak ada air mata, walaupun hatinya meratap. Disusurinya jalan-jalan kota kecil yang mulai sepi. Hatinya galau dan pikirannya bercampur aduk. Tak tahu dia mau kemana, motornya dipacu semakin kencang. Tiba-tiba motor tua itu hilang kendali. Remnya tidak berfungsi, dan akhirnya jatuh masuk ke dalam jurang yang di dasarnya terdapat sawah.
***
Tamu terakhir baru saja pulang. Beberapa orang petugas catring membereskan sisa-sisa pesta. Velin masuk ke dalam rumah sambil menggandeng Raja. Tiba-tiba matanya melihat sesuatu di atas meja ruang tamu.
“Ma… mama baru beli bunga ya?” tanyanya ke mama yang sedang duduk di depan tivi.
“Enggak.” Jawab mamanya.
“Trus ini bunga dari mana?” Tanya Velin sambil mengerutkan keningnya. Tiba-tiba matanya terbelalak. “Ma… Bona ke sini ya?”
“Mama gak liat. Emang kenapa inang?”
“Bunga ini ma, pasti dari Bona. Dia pasti ke sini.” Kata Velin lagi.
“Tadi kau liat gak dianya?” Tanya Raja.
“Gak sih, tapi aku yakin dia pasti datang. Tapi gak ketemu sama aku? Aku telpon namboru itu dulu lah ma.” Kata Velin sambil mengambil handphone nya.
“Halo namboru, si Velinnya ini. Si Bona pulang ya namboru?”
“Loh bukannya udah ketemu kalian, tadi dia ke rumah mu bawa-bawa bunga. Katanya kau ulang tahun.” Jawab mamaknya Bona dari ujung telepon.
“Jadi pulangnya dia namboru, kami belum ketemu. Tapi ditinggilkannya bunga di sini. Di situnya dia namboru?”
“Belum pulang dia.”
“Oh, mauliate lah namboru. Besok lah aku datang ke rumah. Biar ku tokokkan dulu si lontong itu.” Kemudian Velin menutup teleponnya.
Setelah Raja pulang, Velin masuk ke kamarnya. Sebelum tidur dia membuka facebooknya. Sekedar menjawab ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya. Dia mendapatkan tag sebuah blog dari Bona. Rasa penasaran membuat Velin membuka blog tersebut. Ternyata blog pribadi miliknya Bona. Semua tulisannya berisi tentang Velin. Semuanya, tentang cintanya yang begitu besar kepada Velin. Tanpa sadar Velin meneteskan air mata. Dia tidak pernah menyadari bahwa Bona begitu mencintainya. Tiba-tiba dia merasa menyesal bertunangan dengan Raja. Ternyata dia juga merasa bahwa Bona juga adalah cinta pertamanya. Satu persatu tulisan itu dia baca. Semakin dia membaca semakin besar rasa bersalahnya. Tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Dia sangat mencintai Bona, tapi dia tidak ingin menyakiti hati Raja dan terlebih lagi dia tidak ingin mempermalukan keluarganya. Velin berada dalam posisi yang sangat sulit. Air matanya tumpah begitu saja tak dapat dibendung. Akhirnya dia tahu kenapa Bona tidak mau bertemu dengannya. Diciumnya bunga-bunga rumput yang ditinggalkan Bona tadi. Wangi bunga-bunga rumput itu membuatnya semakin merindukan Bona.
Tiba-tiba seseorang mengetok kamar Velin. Buru-buru dia menutup laptopnya sambil mengusap sisa-sisa air matanya.
“Tok…tok..tok… buka dulu inang.” Kata mama dari balik pintu.
“Masuk aja ma, gak dikunci kok.” Kemudian mamanya Velin masuk. Wajahnya sedikit mendung.
“Ada apa ma?”
“Bona inang, tadi nantulang itu nelpon mama. Katanya Bona meninggal jatuh ke jurang pas mau ke Salib Kasih.” Kata mamanya Velin sambil menghapus air matanya.
Velin hanya terdiam, tak ada yang dapat diucapkannya. Lidahnya beku. Dia hanya bisa menangis tanpa suara di pelukan mamanya. Baru saja dia menemukan cinta pertamanya. Sementara itu dia harus menerima kenyataan bahwa cinta itu sudah harus pergi tanpa pernah mendengar isi hatinya.
***
Velin masih berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih sangat baru itu. Salib putih bertuliskan, “Di Son Maradian, Bona Hasibuan” (Di sini beristirahat, Bona Hasibuan), membuat hatinya semakin kosong. Salib putih itu menjadi penanda jarak antara Velin dan Bona. Kini dalam gundukan tanah merah itu telah terbaring tubuh sahabat dan cinta pertama Velin. Berat sekali rasanya dia untuk meninggalkan tempat peristirahatan Bona yang terakhir ini. Di bawah pohon beringin ini, cinta itu telah terkubur.
Sebelum melangkah pulang, Velin berbisik, “Bon, dari sekian banyak cerita yang pernah kau ceritakan dulu, cerita ini tidak pernah kau ceritakan. Aku tak sanggup kehilangan mu, karena kau sangat berarti. Sekarang kau tidurlah yang tenang, aku lihat di sini tumbuh begitu banyak bunga-bunga rumput. Jaga lah itu untuk ku ya Bon. Semoga kau damai di sana ya sayang.” Kata Velin, sambil meletakkan buket bunga-bunga rumput yang terakhir dari Bona untuk nya.***

Sunday, 6 March 2011

stop abortus asal-asalan

Kemarin gw ada obrolan penting ga penting sama temen gw yang ada di surabaya. Gimana yaaa, kalo dibilang penting...gw sebel sama temennya. Nah giliran dibilang ga penting, obrolan ini sanggup bikin gw melek sampe kelewat tengah malam,dan baru bisa tidur setelah dapat wejangan dari dhika.

Temen gw yang ga berprikemanusiaan TGYGB . Yo lo kemana aja? Kapan balik ke surabaya.

Gw : gak tau nii masih mencari segenggam berlian nii, lo kangen gw yaa?

Tgygb : bukan gw ada ceritaan nii buat lo.

Gw : ahhh paling pacar lo yang gonta ganti itu kan?

Tgybg : ini lebih gila lagi * semangat amat sii*

Gw : ???

Tgybg : lo tauu sii tittttttt kan?

Gw : iya knp statusnya di naikin sama nyokap lo? Uda sah nii jadi pacar lo

Tgygb : belommm oncom. Tapi gw sempet panik.

Gw : hahhhh lo tumben

Tgygb : siii tittttt sempet positif, yo !!!

Gw : hamillll !!! *untung kl co m co g hamil*

Tgygb : iaaa lah emang apa lagi?

Gw : seriuss loooo

Tgygb : iya. Kan harusnya dia dapat tanggal sekian yaaa. Tapi udah 3 minggu ga mens.kan gw parno oonnn...

Gw : kok bisa ?

Tgygb : padahal gw ikut ajaran lo, pake kondom tapi kayaknya copot didalam * nada suara datar dan WATADOS wajah tidak berdosa*

Gw : hahhh kekecilan apa kegedean siii

Tgygb : udah gitu gw beli test pack.

Gw : garisnya 2

Tgygb : iyaa donk !!! Ahhhh gila gw bayanginnya aja ga sanggup. Lo tau kan nyokap gw huwaaaaa bisa di pulangkan ke medan nanan jagung, ngurus sapi..mana kuliah belom kelar and tu ce masih SMA.

Gw : kan udah jadi bayi lo mau apa?
Tgygb : tapi sama temen dia dikasih jamuu ala2 gitu yo. Terus disuru loncat-loncat. Sama makan nanas muda.

Gw : emosiiii bego ihhh dapat dari mana tu cewek ?

Tgygb : auuu tapi manjur yo sii tittt langsung dapat sampe 8 hari..

Gw : anjing lo tega yaa itu anak lo,gw aja ga tega kalo liat ghanesh * anak angkat gw* kalo kenapa-napa..
Gw kan pecinta baby..

Aduuuu gw shock ihhh malam-malam dapat tlpn gini. Mau lapor polisi gw dikira kepo, diem gw sakit hati,ngomel gw cape auuu ahhhh sebel ahhhh gw mana tu ce minum jamu....huwaaaas kasian babynya

Heran kalo ml ga pake otak yaaa * enakan ma co* lol modal cinta duit ama onderdil lol tancappppp *ini piktor pikiran kotor*


Published with Blogger-droid v1.6.7

tragedi pengering dan menanti mata hari

Pagi ini, gw amat sangat mengharapkan sinar mata hari muncul di angkasa...

Pagi ini pula gw sangat merindukan matahari pagi yang konon katanya bisa menguatkan tulang..

Nggak lagi-lagi juga gw ngomel karena sinarnya yang udah nyembul dari jendela saat gw masih damai di alam mimpi.

Kenistaan ini memorian kost gw di panjang jiwo surabaya.

Pas mau mandi gw dihadapkan pada kenyataan bahwa baju kotor udah setumpuk " duit abis malas loundry" Wahhh, musti siap tempur kalo ga mau kehabisan baju. Ya udah, gw rendam aja tuh cucian. Gw pikir sore ini juga bakal kelar besok kering deh...
Naluri babu udah 1000% acara cuci-mencuci pun dimulai. Dengan lagu audy " aku takkan bisa bila kau tak datang..semangatku hanya tinggal saat inii.." beuhh nyuci aja gaya.

Bilas...sikat...peres...pindah ember...bilas...sikat gitu terus sampe bersih. Terus gw rendem dehh sama pewangi yang jinglenya " rose dan lily jatuh hati...ayooo tau ga". Masukin cucian ke dalam mesin pengering yang udah uzur. Biar uzur baktinya ga terkira pahlawan tanpa merek. OMG mesin cucinya ga mau muter "udah dipuji juga" !!!!
Naluri montir. Cek baju nyangkut engga tuh..kabelnya lepas emm egga..ohh colokannya ga pas, tapi mantap kok

Jadi apaaaaa!!!

Gw pun teringat nasib CPU gw yang sempet mati simsalabim hidup pas di bawa ke HTC padahal belom disentuh. " nii idup mas. Pengen di bawa jalan-jalan kali" ohhh ganjen lo CPU. Tapi manatau kalo bener so Gw menyamakannya dengan mesin cuci jadul ini.

Di goyang pelan-pelan nyalain timer ga idup..
Goyang kenceng nyalain timer juga ga idup....

Gw gubruk-gubrukkk matiiii... Hiksss hikssss

Yaaa iyaa lah ga muter baru ngeh kalo gw nyuci 4 celana jeans + 2 jaket. Yang audzubile beratnya and butuh tenaga hercules buat meres doank. Dan finally di jemur di bawah ac dan sinar lampu...
Matahari lo emang penting
Published with Blogger-droid v1.6.7

people's changing (is it)

Hayaaann...ternyata waktu bisa ngerubah seseorang menjadi...gimana ya? Pokoknya berubah lah!

Ini sii kejadian lama banget pas d BTC bandung trade center. Gue ketemu sama temen gue. Gile, udah lama ga ketemu. Ada kali setahun yak..eh engga setengah tahun kayaknya. Setau gue dia kocak abis seruuu!!! Malah kadang gue pikir urat malunya udah putus kali yak. Pokoknya kalo ketemu dia kaya ketemu sekampung lah suaranya ampun booo (ya ya ya gue tau dia penyiar. Tapi yang engga gue kira kalo off sama gilanya)

Nah pas di BTC gue nemu tu bocah lagi duduk terkulai lemes di bangku depan toko sepatu. You know what?! Dia pake kemeja dan mukanya bersih abis (biasa kaya orang kerja rodi dengan minyak 2 liter + jerawat berbaris rapi). Kan tumben yaa. Naluri binan gue ya nongol tumben yah tu bocah. Ya gue tanya dah resepnya. Dengan kalem tuh bocah bilang "gue cuman pake minyak zaitun" kok tiap sebelum tidur. Kok kalem yaaa ngomongnya..

Terus yaa gitu deh gue masih bengong sama perubahan dia, dia malah santai motret gue dengan hpnya.

Sepeninggalanya dia, gue jadi mikir...sebenarnya perubahan itu penting ga sehh..bukan secara fisik doank yaa bookk tapi secara sikap juga. Gue berasa ketemu setan liat dia kalem. Rasa-rasanya maskara gue luntur "lebay" tapi setiap gue ketemu temen,sodara atau siapalah pasti gue pangling sama mereka. And most of them always say "rio" lo kok gini-gini aja sihh..." ini juga uda gendutan yaaa plisss" masa gue jadi ranger pink.

Gue pernah coba untuk rubah tabiat gue yang sok romantis and melow + dengerin lagu sendu berlinang air mata...eng i eng gue ga kuat jiwa coldplay gue ilang kaya ditelan bumi.

Satu lagi gue berubah sikap menjadi pendiam ehhh sambutannya minta di jambak " yo kom diem sakit gigi. Apa belum dapat duit"

Nah gue pikir kalo sikap mungkin susah yaa, karena udah mendarah daging. Ok sekarang yang jadi pertanyaan gue, perubahan itu bakal terjadi alami apa kudu usaha sendiri? Mormal ga sih cowok 21 binan suka nonton bola dari pada sex in the city or ANTM
Published with Blogger-droid v1.6.7
Published with Blogger-droid v1.6.7

Monday, 21 February 2011

kesedihan hanya untuk mereks yang hidup

Takeru merapati Nodoka yang tampak kesedihan sambil duduk keseorangan di taman berhampiran kantin sekolah. Dia cuba menegur adik juniornya yang sangat sedih. Mungkin dia mendapat C lagi dalam Sains, bisik hati Takeru.

“Kenapa diam?” Takeru cuba menegur sekaligus memecah kesunyian yang menyelubungi Nodoka sedari tadi.

Nodoka mengangkat kepala. Dia memandang wajah Takeru yang kerisauan. Dia hanya menggeleng perlahan. Takeru pula menggeleng-geleng melihat kerenah adik juniornya. Dia mengimbas kembali pertemuannya dengan Nodoka pagi tadi. Ketika itu, Nodoka baru tiba dari sekolah. Nodoka seperti cuba mengelak daripada berjumpa dengannya.

“Tak ada apa-apa. Saja duduk sini seorang,” balas Nodoka sambil berganjak ke tepi di atas bangku batu panjangnya.

“Duduklah,” dia memberi ruang kepada Takeru.

“Tak apalah,” Takeru menolak. “Baik adik bagitahu abang kenapa diam saja sejak pagi ini,” Takeru umpama mendesak.

Kedengaran Nodoka mengeluh kecil. Dia menunduk merenung tanah berdebu di bawah kakinya. Berat mulut rasanya mahu memberitahu masalah yang menimpa.

“Sebenarnya… adik bimbang. Baru malam tadi, adik ada tanya ibu adik, kenapa dia diam sejak dia ambil adik dari sekolah.” Nodoka teringat kembali saat dia bertanya kepada ibunya malam tadi. Ibunya menjadi terlalu diam dan banyak termenung sejak dia mengambil Nodoka dari sekolah petang semalam. Seingatnya, baru pertama kali dia menemukan ibunya dengan Takeru sewaktu pulang dari sekolah semalam.

Adakah kehadiran Takeru yang membuatkan dia menjadi begitu berat mulut?

“Kenapa dengan ibu adik?” soal Takeru kurang puas hati dengan jawapan Nodoka yang baginya agak tergantung itu.

“Dia telah memberitahu rahsianya yang terbesar… kata ibu begitulah,” Nodoka sengaja melambat-lambatkan kata-katanya.

“Rahsia? Apa rahsia tu?”

“Katanya…” Nodoka terdiam. Dia masih tidak mahu memberitahu Takeru tentang perkara yang diberitahu ibunya malam tadi. Perlakuannya membuatkan Takeru tertunggu-tunggu.

“Nodoka, ayah Nodoka belum meninggal sebenarnya,” ibunya, Pn. Eri, meletakkan majalah yang dibacanya di atas meja.

Nodoka yang menantikan respon ibunya terkejut dengan jawapan Pn. Eri. Dia sama sekali tidak menyangka ayat itu yang diluahkan Pn. Eri kepadanya. Nodoka mulai serba salah. Dia mula menyalahkan dirinya kerana terlalu ‘celopar’ tadi.

“Apa maksud ibu? Nodoka tak faham,” Nodoka menginginkan kepastian.

“Ayah Nodoka masih hidup, dan ibu selalu berjumpa dengannya,” suara Pn. Eri mengendur. “Maafkan ibu kerana merahsiakan hal ini daripada kamu, Nodoka. Sebenarnya ibu telah berpisah dengan ayah kamu ketika kamu berumur 2 tahun. Ibu tidak mahu kamu menderita seperti ibu.” Pn. Eri menunduk seraya mengalirkan air mata jernih.

“Baru-baru ini, maksud ibu sejak kita berpindah ke sini, ibu telah berjumpa dengannya.”

Nodoka terangguk-angguk; memahami perasaan ibunya yang baru berjumpa dengan orang tersayang. Jikalau Nodoka menjadi ibu, sudah tentu dia akan mengalami perasaan yang sedemikian rupa.

“Ibu juga bertemu dengan abang kamu, Nodoka.”

Ayat terakhir yang terpacul keluar dari mulut Pn. Eri berjaya membulatkan mata Nodoka sebesar mungkin tanda dia terkejut.

“Nodoka ada abang?” Nodoka menyoal lantas memeluk lutut ibunya yang duduk di atas sofa manakala dirinya di atas lantai berkarpet tebal.

“Ada. Ketika berpisah, ibu bersetuju untuk membiarkan ayah kamu mengambil abang kamu. Dan kini, kami bertemu kembali. Sekarang, abang kamu sudah berumur 17 tahun.”

“Wah, seronoknya! Siapa abang Nodoka? Siapa namanya? Boleh jumpa dia tak?Betul ke ni?” Nodoka menyoal bertubi-tubi. Dia benar-benar gembira. Sangkanya dia cuma anak tunggal Pn. Eri dan En. Yamamoto. Dia terus melupakan ‘kesedihan’ yang membelenggu sanubari ibunya. Baginya, khabar itu agak menggembirakan.

“Itu lain kali ibu akan bagitahu,” Pn. Eri menggoyang-goyangkan jari telunjuknya berulang kali. “Sekarang waktu tidur, bukan? Pergi tidur dulu. Apabila sudah tiba masanya, ibu akan bagitahu.” Pn. Eri mengelap pipinya yang berbekas air mata.

“Betul ke ni?” sayup-sayup terdengar suara Takeru menyampuk.

Nodoka tersentak. Dia mengangkat kepala dan melihat Takeru yang kehairanan memandangnya. Rupa-rupanya, dalam keadaan sambil mengelamun, dia telah memberitahu segala-galanya tentang perbualannya malam tadi bersama Pn. Eri.

“Yalah, dan sekarang adik hanya perlu tunggu untuk berjumpa dengan ayah dan abang adik tu.” Nodoka bangkit dari duduknya setelah terdengar loceng berbunyi menandakan waktu rehat telahpun tamat dan Takeru berjalan bersama-sama ke kelas masing-masing dengan suasana sepi menemani. Mereka hanya tunduk sambil berjalan. Tiba di suatu tempat, Takeru dan Nodoka saling mengucapkan selamat tinggal.

“Percaya tak kalau abang kata abang tahu ayah dengan ayah adik tu?” sebaris ayat itu jelas kedengaran di telinga Nodoka saat dia mula mengorak ke blok akademi.

Nodoka terhenti. Dia berpusing dan memandang Takeru dengan pandangan seperti singa yang mahu memakan mangsanya; penuh tajam dan fokus. “Abang jangan main-main. Seriuslah! Abang selalu tipu adik!”

“Hehe, gurau je,” Takeru tersengih menampakkan barisan giginya yang kemas. “Nampak sangat keterujaan adik tu,” usik Takeru.

Nodoka mendengus meninggalkan Takeru yang masih tersengih-sengih. Dia berasa malas mahu melayan kerenah Takeru yang suka bercanda.

***

“Nodoka?”

Nodoka tersedar. Dia melihat sekelilingnya. Barulah dia sedar, kini dia sedang terbaring di atas katil putih; dia berada di wad hospital. Kepalanya terasa berdenyut-denyut.

“Tadi Nodoka pengsan. Nodoka okey?”

Pn. Eri merapati katil Nodoka. Kepalanya berpusing-pusing. Puas Nodoka memerah setiap sel otak memikirkan perkara yang telah berlaku sebenarnya. Dia memicit-micit kepala.

Satu-persatu bayangan wajah insan yang disayanginya menerjah fikiran.

“Ibu, mana abang Takeru?”

Pn. Eri nampak terkejut dengan soalan Nodoka.

“Abang Takeru?”

Nodoka bertambah terpinga-pinga. Terpisat-pisat dia menggosok matanya dengan belakang tapak tangan.

“Mana abang Takeru?” ulangnya.

Pn. Eri menunduk, menyembunyikan kesugulan wajahnya. “Abang Takeru itu… sebenarnya itulah abang kamu, Nodoka,” mata Pn. Eri mula ditakungi air mata.

“Apa?” Nodoka terkejut. “Ibu tipu, kan? Takkanlah Abang Takeru tu abang Nodoka yang terpisah sejak kecil tu,” Nodoka seolah-olah kehilangan kata-kata.

Biar betul!

Takkanlah Abang Takeru itu abangnya yang terpisah sejak kecil itu.

Tak mungkin…

Tak mungkin!

Hatinya memberontak menafikan kata-kata ibunya.

Dadanya mula berdebar kencang.

“Jadi, kalau begitu, mana Abang Takeru? Mana dia?” soal Nodoka lagi. Dia mendesak ibunya memberitahu perkara sebenar. Sangkanya, Pn. Eri bergurau lantaran dia baru tersedar dari pengsannya…

Pn. Eri tidak menjawab, namun hanya menuding ke arah katil di sebelah Nodoka yang serba putih. Perlahan-lahan Nodoka bangun dari baringnya dan berpaling melihat.

“Siapa tu, ibu? Itukan mayat.”

“Itulah abang kamu, Nodoka. Dia… dah meninggal…” Pn. Eri mengalirkan air mata. Dia menekupkan mulutnya dengan sehelai sapu tangan merah jambu. Tinta jernih mengalir lebat, bergulir di pipi.

Bagaikan halilintar menyambar ke bumi, Nodoka tergamam. Dunia dirasakan umpama berhenti berputar sebentar. Tidak sangka itulah jawapan yang dibalas untuk soalannya tadi. Jantungnya berdegup kian kencang.

Ah, tidak betul tu!

Ibu main-main…. Nodoka bermonolog, menenangkan kalbu dan fikirannya yang sudah mula bercangkaliwang.

“Ibu, bagitahu Nodoka yang Abang Takeru di luar, sedang menunggu Nodoka sedar dari pengsan.” Nodoka mendesak ibunya memberitahu perkara yang sebenar. Dia menggoyang-goyangkan bahu ibunya semampu mungkin.

Pn. Eri tidak berganjak, sebaliknya terus-menerus menangis.

“Tak, Nodoka! Itu memang Abang Takeru kamu.”

Nodoka bungkam. Dia cuba mengimbau kembali insiden yang telah menimpanya sehingga dirinya pengsan tidak sedarkan diri.

Baru Nodoka teringat. Waktu itu…

Takeru dan Nodoka berjalan pulang dari sekolah pada pukul tiga petang. Mereka pulang lewat kerana Takeru ingin menemani Nodoka yang menghadiri kelas violin yang diadakan di sekolah.

“Kenapa abang tak balik? Tak payahlah menunggu Nodoka sampai tamat kelas.”

“Tak apalah, buat terakhir kali. Lepas ini, entah bila pula abang dapat tunggu Nodoka balik sekolah macam ni.” Takeru mengulum senyum manis.

Nodoka mencebik. “Tapi, nanti kalau balik lambat, mesti ayah abang marah. Nanti, tak pasal-pasal Nodoka jadi subjek nak elak kena marah.”

“Takkanlah, ayah abang tahu. Don’t worry about that,” Takeru tersenyum lagi.

“Amboi, sejak bila pula main speaking ni? Tak boleh jadi ni,” Nodoka menggenggam buku lima dan menumbuk tangannya yang satu lagi. “Nak kenakan oranglah ni. Mentang-mentanglah orang tak pandai speaking macam dia!”

“Saja. Lagipun, abang tak pernah nampak Nodoka marah. Comellah Nodoka ni. Marah comel, sedih comel, tengah tahan marah pun comel, ketawa pun comel. Apa yang agaknya boleh membuatkan Nodoka nampak tak comel?” usik Takeru.

“Ni berjangkit dari abanglah ni. Abang tu yang berpakej lengkap. Nodoka pun terkena tempiasnya.” Nodoka akui, sejak dia mengenali Takeru, dia sentiasa berasa selamat dan gembira.

Takeru tertawa kecil. Kemudian, dia terdiam.

“Dalam hidup ni cuma ada dua dunia.” Takeru memecah kesunyian yang membelenggu mereka sedari tadi. “Hidup… dan mati. Mati adalah satu-satunya halangan dalam hidup.” Takeru terhenti. “Dan doa adalah penghubung antara kedua-duanya.”

Entah kenapa, Nodoka berasa seram sejuk mendengar kata-kata Takeru itu. Dia berpaling memandang wajah bersih Takeru yang menunduk sambil berjalan; meminta sedikit penjelasan.

“Kenapa pandang macam tu?” Tanya Takeru setelah merasai dirinya diperhatikan.

“Tak ada apa-apa. Tadi abang kata…” lidah Nodoka dengan sendirinya kelu untuk berkata-kata.

“Tak ada apa-apa.”

Mereka terus berjalan.

Tiba di lorong rumah Nodoka, tiba-tiba Takeru memberhentikan langkahnya dan mencengkam dada. Wajahnya berpeluh-peluh; seperti orang yang sedang menahan sakit. Dia menjadi lemah lalu rebah ke bumi. Nodoka cemas melihat Takeru ketika itu dan segera pulang ke rumahnya dan memanggil ibu, Pn. Eri.

Pn. Eri tiba dengan memandu. Dia dan Nodoka membawa Takeru ke hospital terdekat. Pn. Eri juga turut menghubungi ayah Takeru memaklumkan perihal anaknya yang pengsan di tepi jalan. Nodoka pula duduk di atas bangku di ruang menunggu dengan penuh ketidaksabaran. Kalau diikutkan hati, mahu saja dirempuhnya pintu bilik kecemasan, menolak doktor yang merawat Takeru ketika itu, dan membawa Takeru pergi dari tempat yang berbau kurang enak itu.

Seorang doktor lelaki keluar dari bilik di mana Nodoka mula menganggap bilik yang kedua menakutkan dalam senarai bilik paling menakutkan itu. Doktor itu menemui Pn. Eri dan bercakap-cakap dengannya. Kelihatan Pn. Eri menangis semahu-mahunya. Dia terlampau sedih sehingga terduduk di sebelah Nodoka.

Nodoka kehairanan.

“Kenapa, ibu?”

“Abang Takeru kamu tu… dia dah meninggal…”

“Apa?!”

Selepas itu, Nodoka dapat merasakan kegelapan menyulami pandangannya.

***

“Abang Takeru meninggal sebab… kanser paru-paru?”

Pn. Eri mengangguk. “Dia kecewa dengan ayah kerana ayah telah lama merahsiakan perihal kamu daripadanya. Dia melepaskan geram dengan merokok.” Pn. Eri mengelap matanya. “Dia pergi memeriksa tubuhnya apabila suatu hari dia terasa sakit dada. Doktor sendiri mengesahkan yang dia menghidap kanser akibat ketagihan merokok. Dia telah merahsiakan perkara ini daripada ayah, sebab tak mahu buat ayah sedih.”

Nodoka terkaku mendengar cerita Pn. Eri. Abang Takeru… rupa-rupanya abanglah abang Nodoka yang terpisah itu. Nodoka menangis teresak-esak.

“Dari mana ibu tahu semua ini?”

“Abang Takeru sendiri yang cakap.”

Nodoka turut mengalirkan air mata. Dia terkilan kerana tidak dapat bergembira dengan abangnya yang terpisah sejak kecil itu. Dia baru sahaja selesai mencongak aktiviti yang mungkin akan dilakukan bersama apabila menemui abang kandungnya nanti.

Malangnya, kegembiraan yang dirancang hanya tinggal kenangan; berlalu bersama roh Takeru yang baik hati, pandai, dan susah untuk dicari ganti.

“Abang Takeru…” Nodoka mengesat air mata di pipi. Dia menangis sehingga tersedu-sedan.

Barulah terlintas di fikiran…

“Dalam hidup ni cuma ada dua dunia.

Hidup dan mati.

Mati adalah satu-satunya halangan dalam hidup.

Dan doa adalah penghubung antara kedua-duanya.”

Mungkin itu bermaksud Takeru ingin Nodoka mendoakan keselamatannya di ‘sana’. Nodoka berazam untuk sentiasa mendoakan Takeru sehingga ke akhir hayatnya.

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…”

Wednesday, 16 February 2011

Gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut.
Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chineseseluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya.

Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah.

Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan sajabayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai YuYuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.

Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculanbintik- bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampungdarah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”.Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahunkenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuanberkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini”. Hari kedua, papanyamenyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini”. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.

Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagumpadanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut.Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudia berkata : “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,….. .. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula-mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.

Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka citadengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah.. ……… ….” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari YuYuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.